Mila

Besoknya jam 10 .50 pagi , pintu kantornya di ketuk . Dan Milla masuk menemui pak Solihin . “ Ah Milla , sayang kamu tepat waktu , “ kata pak Solihin, sambil melihat jam tangannya .

Lalu pak Solihin , duduk di sofa . Milla masih berdiri , terpaku . Dia menunggu dan menebak kira kira apa perintah gurunya .

“ Milla , kamu boleh pilih , mau aku entot , apa kulum ******Ku sampai aku keluar..” kata gurunya . Milla diam dan menjawab pelan “ saya kulum punya bapak saja..” .

“ Ok , tapi kamu buka rok kamu yah , saya mau lihat celana dalam kamu..” kata pak Solihin lagi . Milla membuka roknya . “ Milla , kemarin celana dalam kamu putih , hari ini juga putih , apa kamu tak punya celana dalam warna lain.. “ tanya pak Solihin . Milla diam , dan mengeleng .

Lalu pak Solihin membuka celananya sebatas lutut , berikut kolornya . ****** besarnya sudah ngaceng keras . “ Ayo , kulum ******Ku.” Perintahnya .

Milla berlutut , dan menjilati ujung penis pak Solihin . Pak Solihin , mendesah kenikmatan . “ iyah , benar begitu , oh enak sekali lidah kamu , sayang…” .
Milla terus saja menjilat , tapi tidak memasukan dalam mulutnya . Pak Solihin mulai gusar “ Milla , ayo kulum , masa mesti di paksa sih..” katanya.

Mau tak mau Milla membuka lebar lebar mulutnya dan mengulum penis pak solihin . “iyah , begitu dong , sedot dong ” . Lalu pak Solihin mengerakan pantatnya . Penis itu seperti menonjok nonjok kerongkongannya , membuat Milla tesedak beberapa kali .

Tapi pak Solihin tak peduli , dan terus melakukan itu . Saat pak Solihin hampir mendekati klimak , Pak Solihin mencabut penisnya . Dan mendudukkan Milla di sofa Lalu pak Solihin menyibak celana dalam putihnya .

Milla protes “ pak saya sudah kulum , jangan di masukin..” . Pak Solihin berkata “ tenang Aku cuma gesek gesek doang “ . Lalu mulai mengesek kepala penisnya di klitoris Milla .

Begitu sudah mencapai klimak , ujung penis itu di tekan masuk ke liang vagina Milla Membuat Milla menjerit “ aduhhh , pak jangan..” . Lalu Milla merasa liang vaginanya penuh dengan cairan hangat .

Tangan pak Solihin , merogoh kantong bajunya , dan mengambil carefree yang sudah di siapkan sebelumnya . Lalu Ujung penisnya di cabut , lalu dengan cepat carefree , itu di taruh di vaginanya . Setelah itu celana dalam Milla di rapikan kembali .

“ Milla , memek kamu penuh dengan pejuKu , awas jangan di cuci , aku mau memek kamu basah dengan pejuku , ha ha ha..” . kata pak Solihin .
Milla bengong , tak mengerti sifat aneh gurunya. “ tapi pak , kalau saya mau pipis bagaimana..? “ Milla sedikit protes .

“ Kamu mesti tahan , kalau sudah benar benar tidak tahan kamu ke mari , dan pipis di sini..” kata pak Solihin sambil tertawa .

Bel berbunyi , tanda di mulainya jam pelajaran . Milla memakai kembali roknya , lalu segera berlalu untuk masuk ke kelas .

Pada jam 3.00 , bel istirahat berbunyi tapi Milla belum ke kantor pak Solihin . Tapi pada istirahat kedua , pukul 4.30 sore Milla kembali datang ke ruang pak Solihin .

“ Pak , saya sudah tak tahan kebelet mau pipis, izinkan saya ke WC pak..” pinta Milla . Pak Solihin tertawa . “ tidak , kamu pipis di sini dan berdiri pipisnya “ . Pak Solihin memberinya ember platik .

Milla yang sudah kebelat , langsung membuka celana dalamnya , lalu berdiri . Yang pertama kali keluar ialah cairan putih , spema pak Solihin yang sudah encer . Dan di susul cairan kekuningan , pipis Milla .

Pak Solihin memberinya tisuue untuk melap vaginanya .Setelah itu , Pak Solihin melepas carefree yang basah dari celana dalamnya , dan memakaikan celana dalamnya kembali .

“ bagus Milla , kamu murid yang baik , ha ha ha…” kata pak Solihin . Lalu Mila hendak meninggalkan ruang pak Solihin . Tapi pak Solihin menarik tangannya . “ Milla tunggu , duduk dulu di sofa itu “ kata pak Solihin

“ Tapi pak sebentar lagi , saya harus masuk kelas “ kata Milla . “ Milla ,kamu lupa yah, habis istirahat ini jam pelajaran matematika , itu jam saya mengajar di kelas

Milla akhirnya duduk di sofa itu . Pak Solihin meraih kedua kaki Milla dan membukanya, membuat nafas Milla kembali tersentak. Tetapi teringat akan hukuman yang ia akan dapatkan , kalau melawan, maka ia sama sekali tidak melawan perbuatan gurunya.

Sekarang ia terduduk di sofa dengan kaki terbuka, dan rok mini biru nya dengan sendirinya terangkat sampai ke pinggangnya. Pak Solihin membuka sebuah laci dan mengambil sebuah dildo – sebuah benda berbentuk penis yang terbuat dari karet keras – berwarna hitam. “Tetap buka kaki kamu Milla “ , perintah gurunya

Pak Solihin menyibak celana dalamnya lalu mulai mendorong dildo itu agar masuk ke vagina Milla. Milla mengerang beberapa kali, dan, dildo sepanjang 10 senti itu masuk seluruhnya ke dalam liang vagina Milla.
Lalu Pak Solihin juga menempelkan carefree yang baru , di celana dalam Milla . Dan merapikan kembali celana dalam Milla . Dildol itu sekarang berada di liang vagina Milla dangan mantap .

Dildol itu bekerja dangan remote control . Ketika tombol on di tekan , Dildol itu bergetar dan berputar . “ ohh oh aghh…” Milla tersentak . Pak solihin menekan tombol off dan bertanya “ apa yang kamu rasakan Milla..”.
Milla tak menjawab . dia menunduk .
D
an pak Solihin menekan tombol on lagi . Dan Milla tersentak lagi “..oohhh…” . Dan menekan tombol off lagi , “ Milla apa rasanya..” tanya pak Solihin lagi. “ Ah.. anu.. memek saya seperti di korek korek pak.. “ jawab Milla.
Pak Solihin tertawa “ ha ha ha kamu suka Milla..” . Milla diam menunduk dan Pak Solihin tertawa .

“Milla, jam pelajaran ini memek kamu bakalan basah, dengan begitu dildo yang ada di dalam vagina kamu juga akan basah.” Katanya lagi . Milla hanya diam , dia akan di permalukan gurunya di depan teman teman .

“ Dan Milla , apapun yang terjadi kamu tak boleh ke WC..” kata pak Solihin lagi .

“ Teng , teng , teng” bel berbunyai , tanda istirahat telah selesai , waktunya kembali ke kelas .

“ nah Milla sayang , ayo jalan ,masuk kelas..” kata pak Solihin . Milla berdiri , dan berjalan Milla agak sudah berjalan , karena ada dildol yang menganjal di vaginanya . Pak Solihin hanya tersenyum, sambil berjalan di belakang Milla.
Begitu tiba di kelas , Milla langsung duduk di bangkunya . Dan Pak Solihin juga masuk ke kelas . “ selamat sore anak anak..” . kata pak Solihin . “ Sore pak…” begitu sambut murid muridnya .

“ pelajaran kita sampai di mana yah..” tanya pak Solihin pada murid muridnya . Pak Solihin pun mulai mengajar . Matanya melihat ke Milla . Milla sedang melihat buku matematikanya .Dan tiba tiba pak Solihin menekan tombol on . Membuat dildol itu bergetar dan berputar di liang vagina Milla .

Tanpa sadar Milla menjerit tersentak “ aghhhh… …..” . Teman teman menengok ke Milla . “ eh kamu kenapa Milla “ , tanya seorang temannya. “ eh , anu perutku sakit..” kata Milla . “ Eh anak anak , ayo sudah belajar , perhatikan buku masing masing..” kata pak Solihin.

Murid murid itu kembali melihat buku matematikanya ,dan mengerjakan soal latihan

Sementara , Milla mengigit bibirnya , merasakan sensasi , getaran dildol itu , berputar cepat di liang kewanitaannya. Pak Solihin terus menatap Milla . Milla juga menatap pak Solihin . Terlihat Milla mengigit bibirnya sendiri , dan tangan Milla mengepal , menahan nikmat .

Pak Solihin lalu berjalan ke papan tulis , dia menulis satu soal matematika. Dan kembali duduk di kursinya . Lalu mematikan dildol di vagina Milla , dengan menekan tombol off , di remotenya . Milla agak tenang “ Milla coba ke depan kerjakan soal di papan tulis itu..” perintah pak Solihin .

Milla perlahan bangun , dan berjalan pelan ke papan tulis . Dan pak solihin menekan tombol on . “ ohhh….” Mila tersentak dan memegang vaginanya . Kembali murid murid melihatnya . Milla berjalan pelan , Milla semakin sulit berjalan bila dildol itu bergetar

Dan kembali pak Solihin mematikan dildol itu . Dia berdiri di depan papan tulis memegang spidol , dan tak mengerjakan apa apa . “ Milla kenapa tak bisa..” tanya pak Solihin . Tiba tiba ada yang nyeletuk “ dia mana bisa , bisa cuma pacaran..” . Murid lain tertawa tawa .

“ Anak anak tenang..” kata pak Solihin . Lalu Pak solihin menghidupkan dildol itu . Kembali Milla tersedak , “ ohhhh…..” . Pak Solihin terus membiarkan Dildol itu bergetar, Milla berdiri dengan kaki terbuka lebar . Tubuhnya gemetar , sebelah tanganya tertumpu di papan tulis . Kepalanya menunduk .

Pak Solihin terus memperhatikan ,Milla . Kakinya kejang , dan tubuh terus bergetar Milla terus berdiri sampai kira kira 10 menit , Miila Akhirnya berteriak “ aghhhh saya tak tahan pak , ampunn…” . Lalu Dia jangkok dan menangis tersedu sedu .

Mata semua murid murid tertuju ke Milla.

Pak Solihin segera mematikan Dildol itu . Lalu Menghampiri Milla . Memegang tanganya dan Milla berdiri masih terisak menangis .” Ayo kembali duduk di bangku kamu .” kata pak Solihin .

“ anak anak , lihat tingkah laku kalian , kalian meledek Milla sampai dia menagis “ kata pak Solihin .

Dan tak lama terdengan bel , tanda usai sekolah .

Mudir murid berteriak gembira . Lalu berebut keluar kelas . “ Hi anak anak , jangan lupa mengerjakan PR yah..” pesan pak Solihin . Milla masih terduduk di bangkunya . Dan ketika semua murid sudah keluar , Dan tak ada orang lagi pak Solihin menghapirnya .

Pak Solihin membelai rambut Milla . “ Milla , ayo ke ruangKu..” kata pak Solihin . Milla berjalan mengikuti gurunya .

Setelah di ruang itu Milla langsung duduk di Sofa . Dia duduk melebarkan kakinya . Pak Solihin menghapirinya , lalu melepas celana dalamnya . Dan menemukan carefree yang basah sekali .

Lalu perlahan mencabut dildol itu dari liang vagina Milla . Lalu Segera lidah pak Solihin menyapu bibir vagina Milla . Milla mengelijing. Dan tangan Milla segera melebarkan bibir vaginanya . Sehingga klitorisnya yang bengkak terlihat jelas .
Pak Solihin tersenyum, “ wah , memek eloe pasti sudah gatel banget yah “ . Dan mulai menjilati klitoris Milla .

Milla mendesah nikmat , merasakan jilatan lidah gurunya di klitorisnya . Pak Solihin terus menjilati klitorisnya , Tak lama Milla mengajang “ ohhhh……” . Tubuhnya gematar , berkejet kejet , Milla orgasme di buat gurunya .

Setelah beberapa saat , pak Solihin membuka celananya , ****** besarnya ngaceng keras , Dan segera di arahkan ke vagina Milla .

“ jangan pak , jangan saya takut ” kata Milla . “ Milla kamu curang yah , kamu sudah saya puaskan , masa saya tak boleh entotin kamu..” kata pak Solihin . Sambil mengesek ujung penisnya di vagina Milla. Yang menbuat Milla mengelijing

“ Jangan pak saya kulum saja..” kata Milla . Pak Solihin cuma tertawa . Dan Milla menjerit keras “ AHGGGG sakittt…” . Ketika dengan tiba tiba pak Solihin menekan masuk , seluruh batang penisnya ke liang vagina Milla .

Pak Solihin bernafsu sekali , dan terus bergoyang dan menghentak keras di liang vagina Milla. Milla menjerit jerit kesakitan . Kembali liang vagina Milla di paksa membuka lebar oleh penis besar gurunya. Rasa nyeri kembali mendera Milla.

Milla kembali menjerit kesakitan . setelah kira kira 10 menit , Dan suara Milla semakin parau , Pak Solihin pun , sudah tak bisa menahan nafsunya , lalu memuntahkan spremanya di liang kewanitaan Milla.

Perlahan mencabut penisnya . Vagina Milla terlihat memerah agak memar . Hari ini Milla merasa sangat sakit . Karena pak Solihin menyetubuhi ABG ini , secara cepat dan kasar

Setelah diam beberapa saat Milla memakai kembali celana dalamnya . Lalu Dia berjalan pelan , tertatih , karena rasa nyeri di vaginanya . Pak Solihin cuma tertawa “ Milla , sakit yah..” . Milla Diam dan terus berjalan pelan , keluar pintu .

“ Milla tunggu , mau saya antar pulang..” kata pak Solihin .
Milla tak menjawab , dia terus berjalan . Lalu pak Solihin menyusulnya dan menarik tangannya . “ tidak usah pak saya bisa pulang sendiri..” katanya.
Lalu pak Solihin membiarkan dia pergi .

By: Zonot

Mila

Besoknya jam 10 .50 pagi , pintu kantornya di ketuk . Dan Milla masuk menemui pak Solihin . “ Ah Milla , sayang kamu tepat waktu , “ kata pak Solihin, sambil melihat jam tangannya .

Lalu pak Solihin , duduk di sofa . Milla masih berdiri , terpaku . Dia menunggu dan menebak kira kira apa perintah gurunya .

“ Milla , kamu boleh pilih , mau aku entot , apa kulum ******Ku sampai aku keluar..” kata gurunya . Milla diam dan menjawab pelan “ saya kulum punya bapak saja..” .

“ Ok , tapi kamu buka rok kamu yah , saya mau lihat celana dalam kamu..” kata pak Solihin lagi . Milla membuka roknya . “ Milla , kemarin celana dalam kamu putih , hari ini juga putih , apa kamu tak punya celana dalam warna lain.. “ tanya pak Solihin . Milla diam , dan mengeleng .

Lalu pak Solihin membuka celananya sebatas lutut , berikut kolornya . ****** besarnya sudah ngaceng keras . “ Ayo , kulum ******Ku.” Perintahnya .

Milla berlutut , dan menjilati ujung penis pak Solihin . Pak Solihin , mendesah kenikmatan . “ iyah , benar begitu , oh enak sekali lidah kamu , sayang…” .
Milla terus saja menjilat , tapi tidak memasukan dalam mulutnya . Pak Solihin mulai gusar “ Milla , ayo kulum , masa mesti di paksa sih..” katanya.

Mau tak mau Milla membuka lebar lebar mulutnya dan mengulum penis pak solihin . “iyah , begitu dong , sedot dong ” . Lalu pak Solihin mengerakan pantatnya . Penis itu seperti menonjok nonjok kerongkongannya , membuat Milla tesedak beberapa kali .

Tapi pak Solihin tak peduli , dan terus melakukan itu . Saat pak Solihin hampir mendekati klimak , Pak Solihin mencabut penisnya . Dan mendudukkan Milla di sofa Lalu pak Solihin menyibak celana dalam putihnya .

Milla protes “ pak saya sudah kulum , jangan di masukin..” . Pak Solihin berkata “ tenang Aku cuma gesek gesek doang “ . Lalu mulai mengesek kepala penisnya di klitoris Milla .

Begitu sudah mencapai klimak , ujung penis itu di tekan masuk ke liang vagina Milla Membuat Milla menjerit “ aduhhh , pak jangan..” . Lalu Milla merasa liang vaginanya penuh dengan cairan hangat .

Tangan pak Solihin , merogoh kantong bajunya , dan mengambil carefree yang sudah di siapkan sebelumnya . Lalu Ujung penisnya di cabut , lalu dengan cepat carefree , itu di taruh di vaginanya . Setelah itu celana dalam Milla di rapikan kembali .

“ Milla , memek kamu penuh dengan pejuKu , awas jangan di cuci , aku mau memek kamu basah dengan pejuku , ha ha ha..” . kata pak Solihin .
Milla bengong , tak mengerti sifat aneh gurunya. “ tapi pak , kalau saya mau pipis bagaimana..? “ Milla sedikit protes .

“ Kamu mesti tahan , kalau sudah benar benar tidak tahan kamu ke mari , dan pipis di sini..” kata pak Solihin sambil tertawa .

Bel berbunyi , tanda di mulainya jam pelajaran . Milla memakai kembali roknya , lalu segera berlalu untuk masuk ke kelas .

Pada jam 3.00 , bel istirahat berbunyi tapi Milla belum ke kantor pak Solihin . Tapi pada istirahat kedua , pukul 4.30 sore Milla kembali datang ke ruang pak Solihin .

“ Pak , saya sudah tak tahan kebelet mau pipis, izinkan saya ke WC pak..” pinta Milla . Pak Solihin tertawa . “ tidak , kamu pipis di sini dan berdiri pipisnya “ . Pak Solihin memberinya ember platik .

Milla yang sudah kebelat , langsung membuka celana dalamnya , lalu berdiri . Yang pertama kali keluar ialah cairan putih , spema pak Solihin yang sudah encer . Dan di susul cairan kekuningan , pipis Milla .

Pak Solihin memberinya tisuue untuk melap vaginanya .Setelah itu , Pak Solihin melepas carefree yang basah dari celana dalamnya , dan memakaikan celana dalamnya kembali .

“ bagus Milla , kamu murid yang baik , ha ha ha…” kata pak Solihin . Lalu Mila hendak meninggalkan ruang pak Solihin . Tapi pak Solihin menarik tangannya . “ Milla tunggu , duduk dulu di sofa itu “ kata pak Solihin

“ Tapi pak sebentar lagi , saya harus masuk kelas “ kata Milla . “ Milla ,kamu lupa yah, habis istirahat ini jam pelajaran matematika , itu jam saya mengajar di kelas

Milla akhirnya duduk di sofa itu . Pak Solihin meraih kedua kaki Milla dan membukanya, membuat nafas Milla kembali tersentak. Tetapi teringat akan hukuman yang ia akan dapatkan , kalau melawan, maka ia sama sekali tidak melawan perbuatan gurunya.

Sekarang ia terduduk di sofa dengan kaki terbuka, dan rok mini biru nya dengan sendirinya terangkat sampai ke pinggangnya. Pak Solihin membuka sebuah laci dan mengambil sebuah dildo – sebuah benda berbentuk penis yang terbuat dari karet keras – berwarna hitam. “Tetap buka kaki kamu Milla “ , perintah gurunya

Pak Solihin menyibak celana dalamnya lalu mulai mendorong dildo itu agar masuk ke vagina Milla. Milla mengerang beberapa kali, dan, dildo sepanjang 10 senti itu masuk seluruhnya ke dalam liang vagina Milla.
Lalu Pak Solihin juga menempelkan carefree yang baru , di celana dalam Milla . Dan merapikan kembali celana dalam Milla . Dildol itu sekarang berada di liang vagina Milla dangan mantap .

Dildol itu bekerja dangan remote control . Ketika tombol on di tekan , Dildol itu bergetar dan berputar . “ ohh oh aghh…” Milla tersentak . Pak solihin menekan tombol off dan bertanya “ apa yang kamu rasakan Milla..”.
Milla tak menjawab . dia menunduk .
D
an pak Solihin menekan tombol on lagi . Dan Milla tersentak lagi “..oohhh…” . Dan menekan tombol off lagi , “ Milla apa rasanya..” tanya pak Solihin lagi. “ Ah.. anu.. memek saya seperti di korek korek pak.. “ jawab Milla.
Pak Solihin tertawa “ ha ha ha kamu suka Milla..” . Milla diam menunduk dan Pak Solihin tertawa .

“Milla, jam pelajaran ini memek kamu bakalan basah, dengan begitu dildo yang ada di dalam vagina kamu juga akan basah.” Katanya lagi . Milla hanya diam , dia akan di permalukan gurunya di depan teman teman .

“ Dan Milla , apapun yang terjadi kamu tak boleh ke WC..” kata pak Solihin lagi .

“ Teng , teng , teng” bel berbunyai , tanda istirahat telah selesai , waktunya kembali ke kelas .

“ nah Milla sayang , ayo jalan ,masuk kelas..” kata pak Solihin . Milla berdiri , dan berjalan Milla agak sudah berjalan , karena ada dildol yang menganjal di vaginanya . Pak Solihin hanya tersenyum, sambil berjalan di belakang Milla.
Begitu tiba di kelas , Milla langsung duduk di bangkunya . Dan Pak Solihin juga masuk ke kelas . “ selamat sore anak anak..” . kata pak Solihin . “ Sore pak…” begitu sambut murid muridnya .

“ pelajaran kita sampai di mana yah..” tanya pak Solihin pada murid muridnya . Pak Solihin pun mulai mengajar . Matanya melihat ke Milla . Milla sedang melihat buku matematikanya .Dan tiba tiba pak Solihin menekan tombol on . Membuat dildol itu bergetar dan berputar di liang vagina Milla .

Tanpa sadar Milla menjerit tersentak “ aghhhh… …..” . Teman teman menengok ke Milla . “ eh kamu kenapa Milla “ , tanya seorang temannya. “ eh , anu perutku sakit..” kata Milla . “ Eh anak anak , ayo sudah belajar , perhatikan buku masing masing..” kata pak Solihin.

Murid murid itu kembali melihat buku matematikanya ,dan mengerjakan soal latihan

Sementara , Milla mengigit bibirnya , merasakan sensasi , getaran dildol itu , berputar cepat di liang kewanitaannya. Pak Solihin terus menatap Milla . Milla juga menatap pak Solihin . Terlihat Milla mengigit bibirnya sendiri , dan tangan Milla mengepal , menahan nikmat .

Pak Solihin lalu berjalan ke papan tulis , dia menulis satu soal matematika. Dan kembali duduk di kursinya . Lalu mematikan dildol di vagina Milla , dengan menekan tombol off , di remotenya . Milla agak tenang “ Milla coba ke depan kerjakan soal di papan tulis itu..” perintah pak Solihin .

Milla perlahan bangun , dan berjalan pelan ke papan tulis . Dan pak solihin menekan tombol on . “ ohhh….” Mila tersentak dan memegang vaginanya . Kembali murid murid melihatnya . Milla berjalan pelan , Milla semakin sulit berjalan bila dildol itu bergetar

Dan kembali pak Solihin mematikan dildol itu . Dia berdiri di depan papan tulis memegang spidol , dan tak mengerjakan apa apa . “ Milla kenapa tak bisa..” tanya pak Solihin . Tiba tiba ada yang nyeletuk “ dia mana bisa , bisa cuma pacaran..” . Murid lain tertawa tawa .

“ Anak anak tenang..” kata pak Solihin . Lalu Pak solihin menghidupkan dildol itu . Kembali Milla tersedak , “ ohhhh…..” . Pak Solihin terus membiarkan Dildol itu bergetar, Milla berdiri dengan kaki terbuka lebar . Tubuhnya gemetar , sebelah tanganya tertumpu di papan tulis . Kepalanya menunduk .

Pak Solihin terus memperhatikan ,Milla . Kakinya kejang , dan tubuh terus bergetar Milla terus berdiri sampai kira kira 10 menit , Miila Akhirnya berteriak “ aghhhh saya tak tahan pak , ampunn…” . Lalu Dia jangkok dan menangis tersedu sedu .

Mata semua murid murid tertuju ke Milla.

Pak Solihin segera mematikan Dildol itu . Lalu Menghampiri Milla . Memegang tanganya dan Milla berdiri masih terisak menangis .” Ayo kembali duduk di bangku kamu .” kata pak Solihin .

“ anak anak , lihat tingkah laku kalian , kalian meledek Milla sampai dia menagis “ kata pak Solihin .

Dan tak lama terdengan bel , tanda usai sekolah .

Mudir murid berteriak gembira . Lalu berebut keluar kelas . “ Hi anak anak , jangan lupa mengerjakan PR yah..” pesan pak Solihin . Milla masih terduduk di bangkunya . Dan ketika semua murid sudah keluar , Dan tak ada orang lagi pak Solihin menghapirnya .

Pak Solihin membelai rambut Milla . “ Milla , ayo ke ruangKu..” kata pak Solihin . Milla berjalan mengikuti gurunya .

Setelah di ruang itu Milla langsung duduk di Sofa . Dia duduk melebarkan kakinya . Pak Solihin menghapirinya , lalu melepas celana dalamnya . Dan menemukan carefree yang basah sekali .

Lalu perlahan mencabut dildol itu dari liang vagina Milla . Lalu Segera lidah pak Solihin menyapu bibir vagina Milla . Milla mengelijing. Dan tangan Milla segera melebarkan bibir vaginanya . Sehingga klitorisnya yang bengkak terlihat jelas .
Pak Solihin tersenyum, “ wah , memek eloe pasti sudah gatel banget yah “ . Dan mulai menjilati klitoris Milla .

Milla mendesah nikmat , merasakan jilatan lidah gurunya di klitorisnya . Pak Solihin terus menjilati klitorisnya , Tak lama Milla mengajang “ ohhhh……” . Tubuhnya gematar , berkejet kejet , Milla orgasme di buat gurunya .

Setelah beberapa saat , pak Solihin membuka celananya , ****** besarnya ngaceng keras , Dan segera di arahkan ke vagina Milla .

“ jangan pak , jangan saya takut ” kata Milla . “ Milla kamu curang yah , kamu sudah saya puaskan , masa saya tak boleh entotin kamu..” kata pak Solihin . Sambil mengesek ujung penisnya di vagina Milla. Yang menbuat Milla mengelijing

“ Jangan pak saya kulum saja..” kata Milla . Pak Solihin cuma tertawa . Dan Milla menjerit keras “ AHGGGG sakittt…” . Ketika dengan tiba tiba pak Solihin menekan masuk , seluruh batang penisnya ke liang vagina Milla .

Pak Solihin bernafsu sekali , dan terus bergoyang dan menghentak keras di liang vagina Milla. Milla menjerit jerit kesakitan . Kembali liang vagina Milla di paksa membuka lebar oleh penis besar gurunya. Rasa nyeri kembali mendera Milla.

Milla kembali menjerit kesakitan . setelah kira kira 10 menit , Dan suara Milla semakin parau , Pak Solihin pun , sudah tak bisa menahan nafsunya , lalu memuntahkan spremanya di liang kewanitaan Milla.

Perlahan mencabut penisnya . Vagina Milla terlihat memerah agak memar . Hari ini Milla merasa sangat sakit . Karena pak Solihin menyetubuhi ABG ini , secara cepat dan kasar

Setelah diam beberapa saat Milla memakai kembali celana dalamnya . Lalu Dia berjalan pelan , tertatih , karena rasa nyeri di vaginanya . Pak Solihin cuma tertawa “ Milla , sakit yah..” . Milla Diam dan terus berjalan pelan , keluar pintu .

“ Milla tunggu , mau saya antar pulang..” kata pak Solihin .
Milla tak menjawab , dia terus berjalan . Lalu pak Solihin menyusulnya dan menarik tangannya . “ tidak usah pak saya bisa pulang sendiri..” katanya.
Lalu pak Solihin membiarkan dia pergi .

By: Zonot

 

Kalau cerita ini sesuai selera anda baca terus . Jika tidak segera tinggalkan .
Take it or leave it , it’s your choise Bro . but as I said , read at you own risk .
————————-

Mila

Milla ABG yang masih duduk di bangku SMP , tapi sudah sering berganti ganti cowok . Karena ke cantikan dan ke sexy-an nya telah menarik birahi wali kelasnya . Wali kelasnya berhasil memancingnya ke kantornya , dan memperkosanya di sana , tidak hanya itu wali kelasnya juga berencana menjadikan Milla budak sexnya.

“ Milla , lihat hasil ulangan kamu , tidak lebih dari angka 4 “ kata pak Solihin . Milla menundukan kepalanya .

“ Apa kamu pikir bisa , naik kelas dengan hasil seperti ini , sebentar lagi ujian kenaikan kelas , bagaimana ini..” kata pak Solihin lagi .

“ ma maaf pak..” kata Milla terbata .

“ dengar Milla , sebagai wali kelas mu , saya tak mau kamu tinggal kelas , saya tak mau ada satu murid pun tinggal kelas , saya malu..” kata pak Solihin lagi .

Milla terdiam . Lalu pak Solihin dengan lembut membelai rambut halus Milla . Dia berkata lembut “ nah , Milla , coba katakan , apa kesulitanmu.?” .

“ eh , saya sulit manghafal rumus pak..” kata Milla .

Pak Solihin menarik nafas , dan berkata “ begini saja , sepulang sekolah nanti , kamu ke mari , aku akan memberi kamu les privat , gimana..?” .

“ terima kasih pak , tapi saya tak punya biaya pak..” kata Milla . Pak Solihin tersenyum “ saya tak minta uang , saya hanya mau membatu kamu..” .

“ terima kasih pak , saya akan kemari setelah bubar sekolah nanti “ kata Milla .

“ Bagus Milla , sekarang kamu boleh kembali ke kelas , belajar yang rajin yah..” kata
pak Solihin .

Milla berjalan keluar ruang pak Solihin . Tubuhnya yang ramping , bertambah sexy dengan Rok birunya yang agak mini , 10 cm di atas lutut . Memperlihatkan kakinya dan sebagian pahanya yang putih mulus . Wajah imut murid kelas 2 SMP itu ,telah menarik nafsu pak Solihin .

Pak Solihin adalah kepala sekolah , yang juga wali kelas Milla . Pak Solihin selalu berlaku , wibawa tinggi dan sopan santun . Semua guru ,apa lagi murid murid segan dengan dia . Dengan umurnya yang 45 tahun , wajahnya cukup ganteng . Dan tubuhnya atletis , maklum dia sangat suka berolah raga .

Tapi di balik semua itu , Pak Solihin mempunyai nafsu bejat terhadap Milla . Sudah lama dia memperhatikan Milla .

Di lain pihak , Milla memang ABG yang rusak . Dia memang seperti perek . Hobinya gonti gonti cowok . Dan mengejar cowok yang berduit . Walau usianya baru 14 tahun , tapi karena pergaulnya yang bebas , Dia jadi seperti itu . Bahkan ada gosip gosip yang berkata , Milla juga menjual dirinya pada om om..
Inilah yang membuat Pak Solihin makin nafsu sama Milla . Dia memakai alasan memberi les privat , tapi sebenarnya akan melecehkan Milla .

Siang itu tepat pukul 1.30 siang . Semua murid keluar meninggalkan kelas . Dan Seorang di antaranya berjalan menaiki tangga ke lantai 3 , dimana ruang kantor pak Solihin berada . Dia mengetuk pintu .

“ masuk , ayo masuk ..” sambut pak Solihin. Milla masuk ke ruang itu . Kening nya tampak berkeringat . Pak Solihin memberinya tissue “ nih , hapus keringat mu..” .Lalu menyuruh Milla duduk di sofa .

“ Terima kasih pak “ kata Milla ,lalu duduk di Sofa . Mata pak Solihin menatap tajam paha Milla , yang rok mininya agak terangkat . Milla entah sadar atau tidak , dia duduk diam dan tersenyum , sambil menghapus keringat di keningnya .

Lalu Pak Solihin memberinya , kertas berisi soal soal matematika . “ Milla ,Coba kerjain soal soal ini” . Milla mengambil soal itu . Kening mengenyit . Lalu dia mengambil pen nya . Pen itu hanya di putar putar oleh jari jarinya .

Setelah beberapa saat , tanpa melakukan apa pun ,pak Solihin menegurnya “ kenapa , sulit yah..” . Milla mengangguk “ iyah , pak saya tak mengerti ..” .

Pak Solihin memgambil kertas soal itu . Dia merobeknya , “ matematika itu memang menyebalkan yah ..” katanya . Milla benggong melihat kelakuan Pak Solihin itu .

“ Milla , kamu tak perlu belajar matematika yang menyebalkan ini , Saya bisa memberimu nilai 10 , setiap kali ulangan , tanpa kamu susah susah belajar , asal kamu mau ….” . Tangan pak Solihin meraba lutut dan paha Milla .

Milla berdiri , dia kaget . Dadanya berdegup keras . ABG berpengalaman seperti Milla tentu tahu maksud buruk pak Solihin . “ asal saya mau apa Pak ? ..” katanya .

Pak Solihin tersenyum “ asal kamu mau memuaskan nafsu saya , Milla saya tergila gila sama kamu..” .

“ maaf pak , saya tak bisa..” lalu Milla berjalan ke arah pintu . Dan membuka pintu . Tapi pintu itu terkunci . “ Pak tolong , bukakan pintunya pak..” kata Milla .

Pak Solihin hanya tersenyum . Tangannya lalu meraih sebatang Rotan .

Milla mulai panik , tangannya memukul mukul pintu . kakinya juga menendang nendang pintu . “ Tolong , tolong…. “ jeritnya panik .

“ iyah , tolong tolong , saya mau memperkosa perek yang bernama Milla..” kata pak Solihin mengejeknya .

Milla terus berteriak , tapi tak ada orang lagi di sana .

Tiba tiba “ ctarr…” . Pak Solihin tepat memukul pantanya keras . Milla menjerit keras sambil memegang pantatnya . “ Auuuwww sakitt ammpun jangan pukul pak..” . Pak Solihin tertawa .

“ Milla , saya itu cinta damai , saya tak suka kekerasan , asal kamu menurut , aku tak akan memukul kamu , Milla sayang..” . kata Pak Solihin .

Milla gemetar . Dia menetap pak Solihin . “ Milla sini dan duduk di Sofa itu .. “ . Pak Solihin memerintah Milla . Milla pun menurut . dia duduk lagi di sofa itu .

Dan pak solihin duduk di meja kerjanya . Tangannya memegang batang rotan itu . Milla Agak gemetar ketakutan “ pak , ampun jangan pukul saya…” . Pak Solihin tersenyum , lalu dia meletakan batang rotan itu .

“ tenang saja , saya tak akan memukul kamu asal kamu nurut ngeti..” . Milla terisak dan mengangguk.

“ Milla , saya banyak mendengar gospi gosip , katanya kamu suka di booking om om yah ?” tanya Pak Solihin . Milla terhentak “ tidak pak , sumpah , saya tak pernah , gosip itu cuma untuk meledek saya , saya di bilang perek..” .

“ ok ok Milla , saya percaya… “ kata pak Solihin . Dan Dia bertanya lagi “ Milla apa kamu masih perawan..” .

Milla tertunduk , dia diam , dan pak Solin mengulangi pertanyaannya lagi “ Milla apa kamu perawan , jawab ” .

Milla menatap pak Solihin ,dia mengeleng “ saya sudah tidak perawan..” . Air matanya meleleh . Pertanyaan memalukan itu terpaksa di jawabnya.

“ Bagus , bagus..” kata pak Solihin . “ Siapa yang perawanin kamu ?” tanyanya lagi Milla tertunduk , dan diam saja .

“ Milla , kalau saya tanya , kamu harus jawab , kamu tak mau di pukul kan..” . katanya . Milla berkata “ jangan pukul pak , yang perawanin saya Anto pak ..”.

Pak Solihin berpikir sebentar “ Anto yang kelas 3 itu , yang bawa mobil sedan biru itu ..” . “ iyah pak…” kata Milla . “ Jadi itu pacar kamu ?.” kata pak Solihin .

“ Dulu pak , Anto pacaran sama saya 3 bulan , terus putus .. “ kata Milla . Pak Solihin tersenyum “ oh lalu…” .

“ Lalu saya pacaran sama , Rudi .. itu juga cuma dua bulan .. dan terus sama Ayung 4 bulan dan sama Ginno itu pun baru putus..” kata Milla .

Semua cowok yang di sebutkan itu rata rata anak orang berduit . Mereka semua membawa mobil pribadi . Pak Solihin mengelengkan kepala .

“ Milla sama semua cowok cowok kamu itu , kamu pernah di entot..” kata pak Solihin Milla mengangguk . “ Wah , umur kamu baru 14 tahun , tapi sudah pernah di entot sama 4 cowok , hebat sekali ck ck ck..” kata pak Solihin tersenyum .

Milla tertunduk wajahnya memerah . “ eh saat pertama sama si Anto , apa kamu di paksa..” tanya pak solihin . Milla mengeleng “ tidak pak , suka sama suka..”
Pak Solihin mangut mangut “ kamu merasa nikmat ngak ..?” tanyanya . Milla mengeleng “ pertama kali saya sakit sekali pak , saya berdarah .. tapi setelah itu .. besok besoknya saya baru bisa merasa nikmat pak..” .

Pak Solihin mulai ereksi . Dia meraba selangkangannya . “ Milla , kamu suka yah di entot..” .tanya pak Solihin . Milla hanya menundukan kepalanya .

Pak Solihin tersenyum , “ Milla kamu suka , main sex, apa kamu pernah isep ****** cowok cowok kamu..?” . Milla mengangguk.

“ Lalu cowok cowok kamu pernah jilati memek kamu ngak.? “ tanya pak Solihin lagi . Milla mengankat wajahnya “ Cuma Rudi yang pernah , yang lain tak mau..” kata Milla . Pak Solihin menganguk .

“ Wah , sayang yah , padahal kamu suka yah di jilatin memeknya yah.” kata pak Solihin . Milla tersenyum , “ koq bapak tahu sih , saya suka di jilatin..” kata Milla tanpa sadar . Pak Solihin tersenyum . Dan Muka milla kembali memerah .

Rasa takut Milla berkurang , dia mulai terlihat lebih Rilex .

“ Milla , boleh ngak saya jilatin memek kamu..” tanya pak Solihin . Milla tersenyum malu . Dia menganguk . “ Baik saya akan jilatin memek kamu sampai kamu puas .. Tapi saya mau main main dulu dengan kamu . Permainan Sex tentunya..” kata pak Solihin tersenyum .

“ Milla coba kamu duduknya ngongkong , saya mau lihat celana dalam kamu..” kata pak Solihin . Milla menunduk , lalu dia melebarkan kakinya . Dan celana dalamnya yang putih terlihat jelas pak Solohin . Celana dalamnya tampak ada sedikit basah tepat di selangkangannya .

Pak Solohin menjadi penasaran , dia mendekat , dan meraba celana dalam Milla . Milla mengelijing . Pak Solihin tahu itu cairan vagina Milla . Karena bercerita tentang hal hal itu , membuat Milla agak terangsang .

“ Milla kamu terangsang yah..” tanya pak Solihin . Milla tak menjawab , lalu menutup kakinya , mukanya merah “ malu pak , saya malu..” .

Lalu kembali pak Solihin meminta Mila duduk mengongkong . Dan Pak Solihin kembali duduk di atas meja kerjanya . Milla berkata “ pak malu , saya malu duduk begini di lihatin bapak..” . seraya merapatkan kakinya .

“ eit , jangan di tutup , kamu janji mau nurutkan , kamu gak mau di pukulkan..” kata pak Solihin . Milla menundukan kepalanya , dan kembali duduk dengan posisi merangsang . Kakinya terbuka lebar , memperlihatkan selangkangan celana dalam putihnya . Milla benar benar di buat malu.

Di saat Milla menunduk malu , dan tiba tiba , ada sinar putih terang nyala sekejap . “ Ahh , pak jangan di foto .. “ lalu kakinya menutup rapat . Pak Solihin tersenyum “ tenang saja , ini buat koleksi pribadiKu..” .

“ ayo Milla , buka lagi kaki kamu lebar..” kata pak Solihin . “ Pak saya tidak mau di foto seperti ini , malu pak..” kata Milla . Dia hampir menanggis . Pak Solihin memegang tongkat rotan nya . “ Kamu ini mesti di pukul yah..” kata pak Solihin .

“ Jangan , jangan pukul , saya buka..” kata Milla dan langsung membuka kakinya lebar lebar . Pak Solihin langsung memfotonya lagi . Beberapa shoot lalu meminta Miila melepas kancing bajunya .

Milla tak kuasa , dia menangis ,” tolong pak , saya malu , jangan permalukan saya tolong lah pak…” kata Milla memelas .

Pak Solohin memberinya shock terapi , satu pukulan rotan , tepat di pahanya . Tak terlalu keras , tapi cukup menyakitkan . “ ahhhggg …” jerit Milla dan Milla menangis

“ Eh dengar yah , jangan menolak permintaanKu , Kamu akan jadi budak sex Ku sekarang..” kata pak Solihin . Milla terisak . Pak Solihin mengambil tissue , dia melap air mata Milla . “ maaf yah sayang , saya tak akan memukul kamu , asal kamu nurut .” kata pak Solihin lembut.

“ sekarang buka kancing baju kamu seluruhnya , dan duduk ngongkong..” perintah pak Solihin . Tak ada pilihan lain , Milla menuruti perintah pak Solihin .

Dia membuka bajunya . dan terlihat Bhnya yang modelnya seperti kaos kutang , tapi pendek . Dan Duduk mengongkong . Pak Solihin memfoto Milla lagi ,dalam posisi seperti itu ,beberapa shoot .

Lalu pak Solihin mengeluarkan sebungus Rokok , dan menyalakannya , dia menghisap rokok itu , lalu memberikan pada Milla . “ Ini , isap rokok ..” kata pak Solihin . Milla memang suka merokok . Lalu dia menghisapnya .

Pak Solihin memfotonya lagi , Milla dengan baju terbuka , Branya putih ,dan duduk ngongkong dengan celana dalam putih . Dan Asik merokok .

Lalu pak Solihin mengangkat branya , dan Buah dada Milla yang kecil terlihat . dangan putting yang kecil ,dan berwarna ke merahan . Pak Solihin meraba putingnya , lalu meremas lembut buah dadanya Milla mengelijing . Kembali pak Solihin memfotonya beberapa shoot .

Lalu tangan pak Solihin merayap ke bawah , dan manyibak celana dalam Milla .Mata pak Solihin melotot melihat Vaginanya , sama sekali bersih tanpa bulu , kecil dengan bibir vagina yang agak basah , merah . Pak Solihin menciumi vaginanya , Milla mengelijing . “ wah , Milla memek kamu harum yah..” katanya . Milla diam tak menjawab .

Tangan Milla di pegang , dan dibawa ke bawah “ Milla , sibak celana dalam kamu seperti ini yah , saya mau foto kamu..” kata pak Milla .

Milla tak bisa berbuat apa apa , selain memenuhi kemauan gurunya itu . Pak Solihin memfotonya beberapa shoot , terutama di bagian vaginanya .

Setelah puas dengan itu , Pak Solihin , membuka celananya , dan juga kolornya . Penisnya yang hitam besar , ngaceng tegak sekali . Milla melotot melihatnya . Walaupun Milla sudah melihat penis penis cowoknya tapi tak ada yang sebesar pak Solihin punya .

Dia mengocok ngocok penisnya sendiri dan mendekati Milla “ Milla , ayo isepin ******Ku..” kata pak Solihin . Tangan Milla gematar , dan meraih batang penis pak Solihin , Lalu Milla menjulurkan lidahnya dan menjilat ujung penis pak solihin . Pak Solihin mendesah “ ahhh……” .

“ Milla , lebih besar ****** saya , apa ****** pacar pacar kamu..” tanya pak Solihin .
“Punya bapak besar sekali..” kata Milla pelan.. Tangan pak Solihin mengelus rambutnya “ kamu suka sama ****** saya..” tanya pak Solihin . Milla mengeleng “ saya takut bapak punya besar sekali ..” .

“ Milla , kamu harus suka punya saya , ayo buka mulut kamu yang lebar, dan kulum..” perintah pak Solihin . Milla mundur sedikit , “Pak , saya jilatin aja , saya suka jilatin bapak punya..”

“ iyah , tapi saya suka di kulum..” kata pak Solihin dan terus mendorong penisnya masuk ke dalam mulutnya. Sementara tanganya masih memegangi rambut Milla. Milla meronta , dan mengatup mulutnya rapat .

Tapi tangan gurunya itu meraba buah dada kanan Milla dan menjepit puting susunya. Milla menjerit keras, dan Pak Solihin langsung mendorong penisnya masuk hingga tenggorokan Milla. Penis besar itu mulai bergerak maju mundur, sementara Milla berusaha melepaskan diri sambil terbatuk-batuk.

Milla benar-benar shock. Penis Pak Solihin yang besar tegang dan keras itu masuk hingga tenggorokannya, ia dapat merasakan sesuatu yang asin dan lengket di dalam mulutnya.

Lalu dengan kedua tangannya pak Solihin memegang kepalanya lalu memaju mundukan penisnya dalam mulut Milla yang kecil . Pak Solihin mendesah dan mengeram kenikmatan . “ ohh , nikmat sekali Oh , gua bisa keluar nih..”
Milla tahu pak Solihin akan mengalami ejakulasi di dalam mulutnya. Kembali ia meronta berusaha menarik kepalanya.

Tapi dengan kasar pak Solihin menarik kepala Milla, penisnya makin masuk ke dalam tenggorokan Milla dan menahan kepala Milla hingga tidak bisa bergerak. Pak Solihin kemudian menarik sedikit penisnya dan tertawa melihat Milla tersengal-sengal menghirup udara.

Pak Solihin tidak bisa bertahan lama di mulut Milla. Tiba-tiba Pak Solihin mulai mengerang dan mendengus, tangan yang ada di buah dada Milla mulai meremas dan menarik-narik buah dada Milla, sedangkan tangan yang lain memegangi kepala Milla dan menggerakannya makin cepat, membuat Milla mengulum makin cepat dan dalam.

Sperma Pak Solihin menyembur di dalam mulut Milla, menyemprot ke dalam tenggorokan Milla, membuat Milla terbatuk-batuk. Penis Pak Solihin tetap ada di dalam mulutnya, memompa dan menyembur selama sesaat. Akhirnya Pak Solihin menarik penisnya perlahan hingga seluruhnya keluar dari mulut Milla.
Sperma berwarna putih dan lengket mengalir keluar dari mulut Milla, mengalir turun membasahi serangam SMP nya
Milla terisak lagi . Pak Solihin mengambil tisuue dan melap bibir Milla , dan juga melap air matanya . “ kenapa menangis , kan kamu juga sudah sering ngulum ****** cowok ..” . Milla terdiam lalu berkata “ bapak punya terlalu besar , mulut saya sakit..” katanya .

Pak Solihin mencium bibirnya . “ Milla , sekarang kamu buka celana dalam kamu , aku mau menjilati memek kamu..” katanya .
Milla dengan ragu dan terpaksa , melepas celana dalamnya . Pak Solihin tersenyum “ bagus , sekarang , kamu duduk , dan buka kaki kamu lebar “ . Lalu Milla duduk dan melebarkan kakinya . Vaginanya yang tak berbulu itu terpampang lebar . Pemandanan yang sungguh erotis .

Lalu Dia jongkok dan menciumi vagina Milla . Milla tersentak, ketika dirasanya sebuah tangan mulai merabai vaginanya.”Mmmmphhh,” Milla mengerang .
Tiba-tiba Milla merasakan kehangatan mengalir di vaginanya, tubuhnya tersentak, dan tanpa sadar pinggulnya terangkat. Milla merasa sangat nikmat ketika lidah Pak Solihin menjilati bagian dalam bibir vaginanya, membuatnya basah .

Milla sama sekali tidak bisa melawan sensasi yang timbul di vaginanya. Untuk beberapa menit Pak Solihin terus menjilati bibir vagina Milla, menciuminya dan menjilati cairan yang keluar dari vagina Milla. Dari mulut Milla terdengar pelan desahannya . “ aaahhh ahhh ahh…” .

Pak Solihin , meraih kedua tangan Milla , meletakan dekat vaginanya , dan menyuruhnya membuka lebar bibir vaginanya dengan tangannya . Sehingga Klitorisnya tertampang jelas . Agak merah , membesar dan berlendir .
Pak Solihin sangat hati-hati dan lembut ketika menjilati vagina Milla itu. Kaki dan pinggul Milla bergarak dan tersentak-sentak tanpa bisa dikendalikan oleh Milla.

Milla benar benar terangsang . Dan rupanya Milla mudah terangsang . Dia termasuk cewek yang mudah terangsang , dan nafsunya besar . Pak Solihin masih terus menjilati klitorisnya . Lendir yang keluar pun jadi , makanan lezat bagi gurunya itu Milla terus mengejang , nikmat desahan desahnya makin sering terdengar .

Tangan Milla semakin membuka lebar bibir vaginanya , Dan pak Solihin makin mempercepat sapuan lidahnya . Pantat Milla terangkat , dan Dia mengejang sesaat , lalu kembali lemas . Kakinya mengejet beberapa kali .

Milla mendesah panjang “ ahhhhh….” . Milla telah mendapat orgasmenya .
Pak Solihin , menatapnya tersenyum . “ Milla , nikmat yah…” kata pak Solihin . Milla tak menjawab , dia menunduk , dan mukanya merah .
“ Milla sekarang saya akan entotin kamu yah..” kata pak Solihin .

Milla tersentak , dia merinding dan menjerit “Jangan, jangan, saya mohon, saya takut , punya bapak terlalu besar , Saya akan lakukan apa saja , jangan entot pak..” Milla merengeng rengeng .
Pak Solihin cuma tersenyum “ tenang saja , Milla , nanti juga kamu nikmat koq..”

Pak Solihin mengangkat kaki Milla lebih tinggi lagi. Penis Pak Solihin sudah berada di hadapan vagina Milla dan menyentuh bibir vaginanya.
Milla gemetar , rasa takut melebihi rasa nikmatnya . Pak Solihin mengesek ujung penisnya di klitoris Milla.

Lalu dengan perlahan Pak Solihin mulai mendorong penisnya, Milla menangis memohon agar Pak Solihin berhenti. Tanpa mendengarkan tangisan Milla, Pak Solihin terus mendorong dan merasakan bibir vagina Milla mulai terbuka. Dan Dari mulut Milla terdengar jeritnya “ ahwwwwww “

Milla merasa nyeri di vaginanya . Liangnya di buka paksa oleh penis besar pak Solihin . Milla mengejang .

Lalu Pak Solihin merasakan kepala penisnya mulai masuk ke dalam vagina Milla diiringi oleh hentakan nafas dari Milla. Terus mendorong, Pak Solihin merasakan jepitan erat dari dinding vagina Milla di penisnya.

Pak Solihin melihat Milla, gadis kecil yang cantik sekali, dan tubuh yang merangsang. Tengah merintih kesakitan , dan mengerang .

Perlahan Pak Solihin mulai mendorong lagi, ia sangat bernafsu untuk merasakan nikmat vagina Milla . Milla sudah meronta sekuat tenaga, tapi Pak Solihin tidak merasakannya sedikitpun. Perlahan, perlahan sekali , Akhirnya penis sepanjang 20 cm itu terbenam seluruhnya . Milla menjerit keras “ aghhh ,sakittt. Sudah cabut..”.

Pak Solihin , melumat bibir mungil Milla untuk membungkam jeritnya . Dan perlahan dia mengoyang penisnya . Milla mengejen , kesakitan . Pak Solihin terus mengeluarkan dan memasukan penis besarnya di liang vagina gadis kecil 14 tahun itu . Milla terus mengeliat , menahan nyeri di vaginanya .
Pak Solihin terus bergerak pelan , Milla mulai tenang . Pak Solihin trus mengoyang pelan . “ aghh aghh sakit pak..” . Tapi pak Solihin tak peduli . Terus mengoyang dengan pelan .

Sampai pak Solihin merasa sudah hampir sampai di puncak kenikmatannya , ,dan mulai mengoyang cepat , dan menghentak hentak . Ini membuat Milla menjerit jerit kesakitan “ aggghh sakit pelan pelan , aghhhh sakit..” .

Pak Solihin , terus mengoyang , dan mendengus . Dan akhirnya dia membenamkan habis batang penisnya , lalu Dia tegang . dan menumpahkan spermanya di liang vagina Milla . Perlahan penis besarnya mengecil , dan mulai di cabut dari liang vagina Milla . Sperma Pak Solihin turut mengalir keluar , bersamaan penisnya .

Milla lemas sekali , dan nafasnya tersenggal , dia terisak menangis . “ Milla kenapa menangis , kaya perawan saja..” kata pak Solihin .
Milla menatap pak Solihin , “ waktu saya di perawanin ,tidak sesakit ini ,pak .” kata Milla sambil terisak . Pak Solihin tersenyum , “ iyah saya tahu , karena memek kamu belum terbiasa sama ******Ku , besok besok pasti memek kamu biasa koq..” .

“ Besok besok , Apa maksud bapak..” kata Milla . “ iyah , kalau besok aku entot kamu pasti kamu sudah tak begitu sakit lagi , karena memek kamu sudah melar , ha ha ha…” kata pak Solihin . “ tidak pak saya , tidak mau lagi..” kata Milla .

Pak Solihin tersenyum “ kamu tahu , apa gunanya , Aku memfoto kamu tadi..” . Milla tertunduk , dia sudah tahu ini pasti terjadi . “ maaf , Milla kamu akan jadi buduk nafsuKu , sayang ha ha ha ” kata pak Solihin sambil tertawa .

Lalu Pak Solihin memberinya beberapa lembar tisuue , “ nih , lap memek kamu , ayo aku antar kamu pulang..” katanya . Milla membersihkan sisa sisa sperma gurunya , lalu memakai kembali seragamnya .
“ ayo , aku antar..” kata pak Solihin . “ Tidak usah pak , saya pulang sendiri saja..” tolak Milla .

Tapi Pak Solihin bersikeras , mau mengantar Milla pulang “ saya mau tahu kamu tinggal dimana..” katanya . Akhirnya pak Solihin mengantarnya pulang dengan mobilnya .

Milla mengetuk pintu rumahnya , begitu tiba di rumahnya . Pintu itu terbuka “ Milla kenapa baru pulang , sudah jam 6.00 malam..” kata mamanya . Mamanya memandang pak Solihin , mukanya garang “ dan siapa ini..” katanya .

“ maaf , bu , saya guru Milla ..” kata pak Solihin Sopan . Raut wajah mama Milla berubah “ oh maaf , saya tak tahu , ada apa pak , apa Milla berbuat salah..” tanya mamanya kawatir .

Pak solihin tersenyum ,” oh tidak tidak..” katanya .
Lalu mama Milla mempersilakan , pak Solihin masuk ,dan duduk di ruang tamu . Dan juga menyajikan teh hangat . “ silakan pak , cuma air teh saja..” kata mama Milla

Pak Solihin meminum teh itu , dan mama Milla berkata “ maaf yah pak , Milla itu suka nakal , dan malas belajar , kerjanya cuma pacaran saja..” .
“ ah.. tidak Bu , Milla itu cukup baik koq , dia disiplin , rajin..” kata pak Solihin .

Milla tersenyum saja . Mama Milla tercengang “ tapi ,banyak temannya melapor pada saya , Milla itu ….” Kata mamanya , yang langsung di sela pak Solihin .“ Bu , jangan dengarin , teman temannya itu cuma iri , sama Milla ..” kata pak Solihin. Mama Milla menganguk .

“Lalu tujuan bapak kemari ada apa yah..” tanya mama Milla . “ Begini bu , saya ingin memberi tahu ibu , Milla mendapat pelajaran tambahan , Les privat sama saya , untuk meningkatkan prestasinya.. jadi Milla akan sering pulang telat ,” kata pak Solihin .

“ Oh . wah terima kasih pak ” kata mama Milla .

Lalu tiba tiba Della , adik Milla datang dan mengeleyot di mamanya . Mata pak Solihin menatap liar pada Della yang berseragam SD itu .
“ ini anak sudah besar juga , masih manja..” kata mamanya . Pak Solihin bertanya “ wah , kelas berapa adik ini ? ” . Della langsung menjawab “ kelas 6…” .

Pak Solihin tersenyum “ wah ebtanas untuk SD sudah dekat nih , tinggal dua bulan lagi , harus rajin belajar yah..” .

Mama Milla langsung menjawab “ iyah , ini adik Milla juga sama , malas belajar..” .

Pak Solihin tersenyum “ wah , kalau mau sekalian saja sama Milla , saya bantu Les Privat , tidak perlu bayar koq..” .

Milla langsung menjerit “ JANGANNN…..” .

“ Milla , apa apaan kamu..” kata mamanya . Lalu mama Milla menatap pak Solihin , “ Terima kasih , atas perhatian bapak , saya akan suruh Milla ,membawa Della sekalian , untuk les Privat..” kata mama Milla .

Pak Solihin tersenyum , “ bagus , bagus.. oh yah , hari sudah malam , saya mohon pamit yah Bu…” . “ oh , iyah silakan pak terima kasih banyak…” kata mamanya.

Pak Solihin beranjak , lalu menuju pintu , di susul Milla . “ Pak , tolonglah , adik saya masih kecil , jangan di rusak…” kata Milla . Pak Solihin tersenyum , “ lalu apa Aku harus merusak mama kamu ha ha ha..” .

Milla diam , matanya menatap pak Solihin . “ Milla , besok jam 11 .00 kamu sudah harus ke ruangKu , jangan sampai telat . kamu tak mau foto foto erotis kamu sampai ke mama kamu kan..” . Milla terenyuh .

Pak Solihin , masuk ke mobil, dan memacu mobilnya kencang.

 

4 Oktober 2008

Disclaimer :
-Cerita dibawah ini hanya fiksi belaka..
-Bila ternyata ada sebuah cerita, film ataupun segala essay lain yang mirip dengan cerita ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya,.. tak ada niatan untuk mengcopy cerita itu…
-Cerita ini memang cerita tentang Jablay,Pelacur dan sejenisnya,.. tapi cerita ini menulis arti Beauty menurut kami berdua…
-Silahkan berkomentar dan menyela,.. selama masih menyela dan berkomentar tentang cerita ini,.. ( baca dulu baru koment )
-Masih gak ngerti juga ?? Baca lagi yang diatas !!
-Thanx, dan semoga suka sama cerita ini,.

#####

Mei Ling

Perlahan dengan tangan kanan-ku, kugengam penis seorang lelaki yang duduk dihadapan ku,.. perutnya yang buncit dengan keriput wajah yang sudah begitu nyata terlihat jelas di guratan wajahnya itu,.. sementara ia memandang dengan penuh birahi ke sekujur tubuh-ku yang tak lagi berbusana,..

Kuremas perlahan penis yang tak lagi keras itu,.. aku tersenyum membalas senyuman om-om tua itu,.. tak perduli juga dengan tangannya yang mencuri-curi remas di dada-ku itu,..jemarinya yang memainkan payudara-ku sambil tersenyum-senyum kecil, membisiki bagaimana ia menyukai bagian dada-ku itu,.

Sepasang payudara yang tak besar, dengan sebuah puting mungil dengan areola-nya yang tidak besar juga,.. aku hanya tersenyum-senyum kecil merasakan jemari-jemari itu memainkan dada-ku, perlahan memang mulai membuat-ku mulai terbawa kenikmatan yang diberikannya,.. aku tersenyum menatap wajah om-om itu,.. tak banyak berkata memang, aku cenderung pendiam, tapi dengan pekerjaan-ku ini memang lebih banyak menuntut apa yang bisa kulakukan, dan apa saja yang mau aku lakukan disbanding dengan kemampuan bicara, terlebih aku bukan orang yang berpendidikan tinggi, tapi kenyataanya justru aku lebih banyak bertemu dengan orang-orang yang punya pendidikan ataupun berkedudukan tinggi,..

Maklum saja aku memang seorang Pelacur Kelas Atas,.Dan aku mau tak mau mengakui hal itu,.Nama-ku ?? Sebut saja aku Mei Ling aku berasal dari Pontianak, di Jakarta ini aku memang hidup sendiri,.. tak ada seorang pun saudara, meski banyak yang mengatakan kita ‘bersaudara’ ,.. dan aku memang hidup sendiri, di daerah asal-ku pun begitu, Mau bagaimana lagi mungkin memang orangtua-ku terlalu cepat meninggalkan-ku, bukannya apa,.. mereka meninggal dalam sebuah perjalanan dengan bus,.. 37 orang tewas dan itu termasuk mereka berdua,.. saat itu aku masih kelas 5 SD,.. umur 9 tahun dan karena itu juga aku hanya sempat menyelesaikan sekolah-ku sampai kelas 3 SMP itu pun dengan hasil pinjaman sana-sini,..

Ya seperti itu lah, terlebih di kota itu memang tak aneh seseorang yang hanya memiliki tingkat pendidikan yang rendah, bukan rahasia umum memang kalau daerah itu memang kurang diperhatikan oleh pemerintah, aku tak pernah ingin mengaitkannya dengan warna kulit dan mata sipit kami,.. ah bukan itu, mungkin memang daerah kami belum sempat tersentuh dana pemerintah,..

Ah lagi-lagi ia mencium-ku, sepertinya om-om ini benar-benar suka mencium-ku, bibirnya itu mencium bibir-ku sekarang, tangannya masih ada di dada-ku meremasnya perlahan, memainkan puting-ku sedikit kasar namun tetap perlahan, tentu ia juga ingin membuat-ku serileks mungkin sehingga bisa melayaninya dengan ‘segenap hati-ku’ memang orang-orang seperti mereka itu lebih suka menikmati sebuah hubungan seksual yang romantic, puber kedua mungkin dan lebih menyukai ‘kami’ daripada istri-istri mereka yang mungkin sudah terlalu sibuk dengan acara arisan dan shooping mereka dibanding melayani mereka lagi,..

Seperti Om ini, sebut saja Om Lim, seorang pengusaha kayu istrinya juga sudah ada 3, bahkan anaknya sudah ada yang seumur-ku, sudah 4 kali termasuk hari ini, ia membooking-ku,.. menurut ceritanya istri-istrinya itu sudah lebih banyak sibuk dengan urusan mereka sendiri dan seolah melupakan untuk apa sebenarnya ia menikahi mereka tentu maksudnya 2 istri mudanya itu,..

Anak-anaknya itu sendiri malah sudah lebih sibuk menghabiskan uang-nya dibanding mengurusi usaha mereka yang dimodali Om Lim,.

Penis Om Lim kumasukan dalam mulut-ku, kuhisap perlahan sementara lidahku menyapu-nyapu kemaluannya itu, perlahan tangan-ku yang lain meremas-remas penisnya itu, kugerakan tanganku pada penisnya itu, tangan Om Lim sendiri terus menggerayangi dada-ku,.. sesekali menarik-narik dada-ku itu, meremasnya sambil memainkan puting diujungnya itu,..

Tangan-ku terus bergerak di batang kemaluan Om Lim, sementara aku juga menyedot kepala kemaluannya yang membuat tubuh Om Lim gemetar, ia mendesahdesah sementara angan-ku ikut meremas kantung kemaluannya,.. sesekali tangan-ku menyentuh lubang anusnya itu yang membuat ia kian gemetar tak karuan,..

Perlahan penisnya itu mulai mengeras dalam gengaman tangan-ku, ia mendesah-desah sambil meremasi buah dada-ku, menyadari itu aku pun makin cepat menggerakan tangan-ku yang sedang mengengam kemaluannya itu, hingga tak lama kemudian cairan hangat itu menyembur dari batang kemaluannya itu,..

Aku mengambil tissue yang berada didekat-ku, aku menyeka cairan hangat itu yang ada ditangan-ku, dan melap cairan yang menempel di penis Om Lim yang mulai menciut,.. aku menyapunya hingga bersih sebelum kemudian sedikit spermanya yang ada di dagu-ku,..

” Dasar kamu ini Mei,.. ” Ia tertawa lebar, sementara ia melangkah ke dekat sofa,mengambil minuman yang memang sudah dipesannya tadi,..
” Koq dasar sich om,.. ” Aku pura-pura cemberut manja padanya,..
” Iya, kamu tuch paling bisa bikin aku seneng tau gak,.. “
” Kan aku masih punya yang lain yang bisa bikin om seneng tau,.. “
” Iya tapi bentar ya,.. masih cape nich, hehehe ” Kata Om Lim,..

Aku berbaring diatas kasur mencoba menggodanya, terbalik.. bagian dada-ku ada dibawah, sementara aku sedikit mengangkat bokong-ku kebelakang, Om Lim bisa melihat dengan jelas kemaluan-ku yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu, ia tersenyum melihat posisi-ku itu, dan benar saja, sambil tertawa ia kembali keatas ranjang, duduk dibelakang-ku,.. perlahan ia meminta-ku menjilat jemarinya,.. sebelum kemudian ia menggesekan jemarinya itu di kemaluan-ku,.. aku mengetar-getar merasakan jemari-jemarinya itu menyentuh bagian sensitive-ku itu, ia menyentuh bagian ujung dari kemaluan-ku, sebuah tonjolan kecil disana, menggerak-gerakan jemarinya disana yang kian membuat tubuh-ku gemetaran tak karuan, aku mendesah dibuatnya,..

Sementara penis Om Lim yang sudah kembali menegang itu seolah siap menerobos masuk dalam tubuh-ku ini,..sementara kemaluan-ku sendiri mulai basah karena rangsangan yang dibuatnya itu,..
” Siap ya Mei,.. ” katanya, sambil tersenyum,..
Aku mengangguk lalu membenam-kan wajah-ku di ranjang itu,

Perlahan aku meremas selimut tebal yang ada didekat-ku,.. Om Lim mulai menekan kemaluannya itu masuk dalam tubuh-ku, aku mendesah tertahan sementara aku meremas selimut itu lebih kuat lagi, penis Om Lim mulai masuk dalam tubuh-ku, tak besar memang namun berusahalah sebisa mungkin untuk merasa penis itu besar dan seolah merobek tubuh-mu, karena itu yang paling disukai lelaki, dominan diantara para wanita,..

Kubiarkan ia memasukan bagian tubuhnya itu yang perlahan kian terbenam dalam tubuh-ku, aku mendesah tertahan merasakan benda asing yang mulai masuk dlam tubuh-ku itu,.. sambil meremas selimut yang ada dalam gengaman-ku itu, perlahan Om Lim mulai menggerakan bagian tubuhnya itu,.. sesekali tertahan memang saat perut buncitnya itu tertahan pada bokong-ku,.. namun tak membuatnya berhenti untuk terus menggerakan tubuhnya itu,..

Tangannya menarik satu kaki-ku hingga naik, ia menaruhnya di sekitar ketiaknya, sementara tangannya kembali menarik tangan-ku hingga setengah bagian tubuh-ku terangkat,.. kemaluan Om Lim masih dibenamkannya dalam tubuhku, aku mendesah dibuatnya,.. sementara kemaluannya itu bergerak kian cepat di dalam sana,..

Sementara peluh kami mulai menetes,.. aku berpindah naik keatas tubuh Om Lim, mulai menggerakan tubuhku naik turun, sementara jemari-ku meraba di dada Om Lim sambil sesekali meremas dadanya itu yang membesar saking gemuknya,.. desahan Om Lim kian keras, aku tahu pasti, tak lama lagi ia akan mencapai puncak kenikmatannya, aku tahu sekarang saatnya aku berakting,..

Sambil berpura-pura menegangkan tubuh-ku,.. aku meremas dada-nya itu, sedikit mencakar bagian tubuhnya itu, berpura seolah aku mencapai puncak kenikmatan-ku,.. sebelum kemudian aku berpura-pura roboh dalam dekapannya,.. Om Lim sendiri memeluk-ku erat-erat sambil berusaha menggerakan kemaluannya itu, kian lama mulai mengeras sebelum akhirnya ia mendesah panjang dan mencabut kemaluannya dari lubang kewanitaan-ku itu,.. perlahan kemaluannya bergetar-getar dan memuntahkan spermanya ke atas, sedikit sperma itu menempel di bokong-ku,.. aku mencium Om Lim yang seperti kehabisan nafas sambil membenamkan ajahku di tubuhnya itu,..

Ia mengelus-elus pundak-ku, bagaikan orang yang terpuaskan, bukan sekedar kepuasaan karena mencapai kenikmatan tertingginya, tapi kepuasaan lain, bagaikan seorangtua yang berhasil menaklukan gadis belia berusia 20 tahun seperti-ku dalam sebuah permainan dewasa yang terlarang,..

#####

Seperti biasa dengan uang dikantung-ku yang jumlahnya cukup besar,Om Lim memang cukup royal dalam urusan seperti ini,.. uang pemberiannya itu lumayan besar,.. cukup untuk bisa hidup 2 minggu lebih dengan ukuran lumayan mewah, aku berdiri, perjalanan-ku masih cukup jauh berpegangan pada salah satu tiang,.. Bus ini penuh, sudah pukul 9 padahal saat aku mengintip pada jam tangan-ku,..

Kulihat para penumpang bis itu, dari mahasiswa berkacamata disudut kiri itu, yang sejak tadi menatap-ku sambil tersenyum-senyum berusaha memancing perhatian-ku mungkin,.. sampai lagi Bapak-bapak yang tengah sibuk menjawab teleponnya sambil berulang kali mengambil dan memasukan berkas dari dalam tasnya,.. Dan ibu-ibu tua dipojok sana, tampaknya ia begitu letih, terlihat diguratan mata tuanya itu, didepannya ada sebuah plastic , plastic yang ukurannya cukup besar,.. kira-kira sepinggang-ku pasti berat, dan sepertinya ia sendirian, tak terbayang oleh-ku ia harus membawa plastic itu nanti sendirian,..

Dan yang paling membuat-ku iri, seorang gadis, ia cantik,.. dan tampak sibuk menerima telepon, kulihat Handphonenya setipe dengan milik-ku, N-95, ia tampak tersenyum-senyum sendiri, menerima telepon itu sambil tertawa-tawa, sesekali ia terlihat kesal, namun senyuman lain mengganti gurat kekesalannya itu, bukan ingin menguping tapi ia duduk tepat di depan-ku,..

Usianya mungkin sekitar 3 tahun di atas-ku,.. ia menggunakan Blazer coklat gelap, dengan rok selutut, rambut panjangnya yang diselipi sebuah jepit rambut kupu-kupu, sepertinya baru saja ia dapatkan dari pacarnya mungkin, berkali-kali ia memegang-megang jepit rambutnya itu,..

Gak koq, bukan iri melihat ia terlihat begitu mesra dengan pasangannya itu, tapi melihat betapa anggungnya dia, seorang gadis cantik, dengan sebuah Map Kerja berwarna hijau dipangkuannya, dengan blazer kerjanya itu, ia terlihat begitu cantik dan yang paling penting ia terlihat begitu berpendidikan, aku menatap ke mahasiswa yang duduk di pojokan sana,. Pasti 2-3 tahun lagi ia sama seperti gadis di depan-ku ini, sedang sibuk menerima sebuah telepon dari pacarnya, dengan kemeja kerja yang mahal, celana bahan berwarna gelap dan sebuah Fantovel yang dibelikan oleh pacarnya, pikirannya penuh dengan impian masa depan yang indah,.. Hmm enak ya,..

Sementara mereka melangkah maju, keluar dari kehidupannya yang sekarang melompat menuju kehidupan lainnya yang lebih baik, aku masih disini, berdiri di sini berpegangan tak menentu sesekali memegang kuat terombang-ambing dalam ketidakpastian, menunggu bus ini sampai ke tempat tujuan-ku yang seperti itu kehidupan-ku pastinya nanti, hanya menjalani sebuah rutinitas, namun tak bisa berpegangan dengan pasti pada apapun, seperti aku yang sedang berdiri di bus ini setiap ia berhenti mendadak aku pasti sedikit oleng kesana-kesini, tak pati,.. menunggu sampai tempat tujuan-ku, sebuah perhentian, dimana dikehidupan-ku diibaratkan saat aku sudah cukup tua dan tak lagi bisa menjalani profesi-ku ini seperti sekarang,..

Tak seperti mereka yang sedang berganti bus menuju tujuan mereka selanjutnya, aku masih di bus yang sama, menunggu-menunggu waktu itu sampai,.. Ahhh, ya memang seperti itulah aku, hanya seseorang yang tak tahu harus hidup seperti apa nantinya,.

Sebagian besar dari mereka mulai berjalan keluar, aku duduk di kursi yang ditempati gadis cantik itu tadi,.. sudah tak banyak lagi penumpang bis itu sekarang, tinggal 3-4 orang, termasuk ibu-ibu tua itu yang masih duduk di pojokan, ah mungkin aku akan seperti dirinya nanti,.. sendirian dan mengerjakan segalanya sendiri untuk menopang hidup-ku nanti,..

Sebuah tangan kecil menyentuh paha-ku, aku menenggok, seorang anak kecil, lelaki ia tampak tertidur,. Aku melihat senyuman kecil, terlihat begitu nyaman dalam mimpinya,.. sesekali ia terlihat kedinginan, perlahan aku memeluknya,.. berusaha tak membangunkannya,..

Aku membayangkan anak kecil ini nantinya akan seperti mahasiswa yang tadi, seorang petarung yang akan terus berusaha untuk terus memperbaiki hidupnya, bukan seperti aku yang lemah dan tak pernah berani berjuang,..

Ibu-ibu tua dipojok itu melirik kearah-ku, ia tersenyum melihat-ku, aku pun membalas senyumannya itu, sebelum mulai menutup mata-ku letih, masih sekitar 30 menit sebelum tempat berhenti-ku nanti,.. lampu-lampu sorot dari mobil-mobil di kegelapan sesekali memantul ke dalam bis-ku, mobil-mobil mewah yang pasti begitu nyaman di dalamnya,.. ahhh lagi-lagi aku terus berkhayal,..

” Habis-habis habis,.. ” teriak kenek bus itu,. Aku terbangun dari tidur ayam-ku,.. sambil berusaha merenggang-kan tubuh-ku capek,.. sambil mengencangkan jaket-ku, ya Jakarta meman panas tapi angin malam tetap saja membawa berbagai macam penyakit,..

Ibu-ibu tua itu menarik Plastic besar bawaannya, sementara si kenek malah terlihat asyik mengobrol dengan supir bus itu sambil menghisap rokok dan menghitung uang pendapatan mereka hari ini,.. Aku melihat kesal pada mereka, perlahan aku bangun dan membantu ibu-ibu itu mengeluarkan Plastic yang dibawanya itu,..

Satu-dua aku menarik nafas bersamaan dengan ibu-ibu itu, sebelum kemudian mengangkat plastic itu bersama-sama keluar, ternyata benar dugaan-ku plastic itu berat juga, entah apa isinya,.. Akhirnya dengan sedikit usaha, kami berdua berhasil mengeluarkan plastic itu bersama-sama,..

” Terima kasih ” Kata si ibu-ibu itu, aku hanya tersenyum saja, sambil mengganguk kecil, sementara si ibu menghentikan sebuah angkot, kali ini ada seorang bapak-bapak yang membantunya memasukan plastic itu,. Barang jualan kata si ibu itu tadi,..

Ya ampun,…
Tas-ku tertinggal di dalam Bus Kota itu, untung masih berhenti di dekat-ku,.. aku segera naik kedalamnya, kembali ke tempat-ku duduk tadi,. Kuambil tas itu di atas kursi,.. baru kutarik tas-ku, kulihat anak kecil tadi baru terbangun, tatapannya terlihat binggung,..

Aku menepuk perlahan anak kecil itu,.
” Kamu mau kemana ?? ” Tanya-ku
Ia menggeleng, ia benar-benar terlihat binggung,..
” Orang tua kamu kemana ?? ” Ia hanya diam, dan perlahan ia mulai menangis,..

Melihat tangisannya itu jelas membuat-ku binggung harus melakukan apa sekarang,.. kulihat supir dan kenek itu masih asyik bercanda dan sibuk dengan urusan mereka sendiri,..

” Yawda ayo turun dulu,.. ” Aku menuntun anak kecil itu turun,, ia menurut mengikuti-ku, aku membantunya turun dari bus kota itu,.. aku membawanya ke sebuah kursi dan duduk bersamanya,..
” Kamu tahu sekarang kamu dimana ?? Kamu sampai sini sama siapa ?? ” Tanya-ku binggung,

Ia masih diam tak menjawab,..
” Kamu lapar ?? ” Tanya-ku, aku yakin ia pasti lapar, sama seperti perut-ku yang sedang berbunyi,..

Masih ia tak menjawab,..
” Yawda kita makan aja dulu ya,.. ” Kebetulan di dekat situ ada sebuah outlet Western Fried Chicken, aku menuntunnya masuk,..

” Mau apa ?? Burger atau mau ayam sama kentang ?? ” tanya-ku,..
Ia hanya menggeleng,.. aku mengelus anak itu, aku memilihkannya paket burger, sementara aku sendiri memesan ayam goreng dan nasi, perut-ku lapar, dan membawa pulang ayam dan kentang, dan segelas cola,..

Sambil membawa makanan kami, aku mengambil saus tomat dan cabe di samping kasir,.. aku membawa anak itu ke salah satu bangku dekat kaca jendela,..
Aku menatap anak itu,..
” Kamu makan dulu ya,.. ” Anak itu masih diam,,.

Aku membuka bungkusan burger anak itu,.. perlahan aku menyuapi anak itu, semula ia menolak,..
” Ayo makan dulu, nanti kita cari orangtua kamu ya,.. ” Kata-ku,.. sambil mengusap wajah anak itu yang sedikit berkeringat,..
Akhirnya anak itu mau mengigit burger yang aku suapi,..

” Aku makan sendiri aja,.. ” Kata anak itu,.. ” Makasih ya ci,.. ” Suaranya lucu sekali,..
Aku tersenyum melihat anak itu,.. senyuman kecilnya itu benar-benar teduh dilihat,..

Ia mengigit kecil burger itu, kecil seperti mulutnya yang memang mungil itu,.. sesekali ia mengambil cola yang memang kubelikan untuknya,.. aku sendiri mulai menyantap makan malam-ku apalagi perut-ku memang sudah kelaparan,.. karena menolak makan malam yang ditawari oleh Om Lim tadi,..

Tak berapa lama kami menyelesaikan makan malam kami,.. aku melap bibir anak itu yang kotor karena saus burger itu, sebelum mengajaknya mencuci tangan dan mulutnya yang kotor,.. anak itu mungil sekali, sedikit gemuk,.. lucu pastinya ia begitu ketakutan tadi,.. kutaksir usianya tak lebih dari 5 tahun,. Terlalu kecil untuk seorang anak yang tersesat di kota sebesar Jakarta,..

” Kamu inget rumah kamu dimana ?? ” Tanya-ku setelah kembali di kursi kami,..
Ia menggeleng,.. wajahnya terlihat begitu letih,..
” Sama sekali ?? nomor telepon ?? ” Lagi-lagi anak itu menggeleng,..

Aku seperti melihat diriku dalam pantulan mata anak ini, seolah kehilangan semua yang dimiliki, bedanya aku kehilangan orangtua-ku selamanya,.. sedangkan anak ini masih berhak untuk kembali dalam kebahagiaan itu,.. tak perlu fikir panjang lagi,.. aku tahu pasti, aku harus menolong anak malang ini,..

” Kamu mau tidur di tempat cici dulu ?? ” Tanya-ku sambil mengelus kepala anak itu,..
Anak itu diam,..
” Mau ya,.. kamu mau tidur dimana coba sekarang,.. ” Kata-ku berusaha meyakinkan anak itu,.. pastinya ia tak begitu saja mau, apalagi anak ini pasti ketakutan, sendirian dan bersama seseorang yang tak dikenalnya,..

” Udah ya,.. ikut cici dulu,.. ” kataku sambil tersenyum lebar,..
Ia menatap-ku seolah ingin melihat ketulusan-ku,.. sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan-ku,..

” Boleh ci ?? ” tanya-nya,..
Aku mengangguk,..
” Boleh, boleh donk,.. yawda sekarang kita beli baju untuk kamu ganti dulu ya,.. ” Aku tahu disebelah memang ada hypermarket,.. dan aku bisa membelikan beberapa potong baju untuk anak ini disana,..

#####

” Anak siapa tuch ?? ” Tanya Pacar-ku yang duduk diatas Ranjang sambil asyik menonton Televisi,..
” Anak ini tersesat Jo,.. biar dia nginap disini malam ini,.. ” aku menaruh makanan yang tadi aku beli untuk Johan sambil menaruh tas-ku di atas kursi,..

” Kesini, gue mau ngomong,.. ” Johan mengambil sebatang rokok dan menyalahkannya sebelum berjalan keluar,..
” Kamu mandi dulu ya,.. ini baju kamu,..” aku membuka tas plastic yang berisi beberapa potong baju yang sengaja aku beli tadi,.. ” Bisa mandi sendiri kan, udah gede,.. ” Aku tersenyum sambil mengelus-elus rambut anak itu,.. sebelum aku berdiri, dan keluar menyusul Johan,..

Ia berdiri di lorong, sambil menghembuskan asap dari hidungnya,..
Perawakan Johan tinggi besar, kulitnya hitam, ia juga tak bisa dibilang tampan, kenapa aku mau jadi pacarnya ?? Karena Johan yang kukenal, adalah Johan yang baik dan penyayang , itu saja,..
” Anak siapa tuch ?? Koq maen bawa aja,.. Anak lu ?? “
” Bukan, tadi dia tersesat, sendirian di dalam bus,.. Jadi aku bawa,.. Kamu makan dulu dech,.. ” Aku berusaha memberi penjelasan pada Johan,..
” Baek banget sich jadi orang, yang lain aja gak nolongin, anak siapa ?? ” Tanya-nya..
Aku menggeleng,.. ” Ya biarin siii,.. paling semalam dua malam,.. ” kata-ku,.. ” Dah makan dulu dech,. “

Wajah Johan tampak kurang senang,.. sebelum mengikuti-ku masuk,..

Aku mengeluarkan Kentang dan Ayam yang tadi aku beli, dan segelas coca-cola, menyiapkannya untuk Johan makan, sementara aku mendekat kearah Kamar Mandi, aku melirik melihat kedalam,.. anak kecil itu sedang asyik menyabuni tubuh kecilnya,..

Sebelum kemudian membilasnya,.. aku mengambil handuk dari dalam lemari,.. sebelum anak kecil itu keluar dari dalam kamar mandi, aku langsung menghanduki tubuhnya yang basah itu, sebelum kemudian memakaikannya baju memberikannya sedikit bedak dan menyisir rambutnya,..

Benar dugaan-ku itu, anak itu lucu, pipinya tembam dan kulitnya juga bagus sama sekali tak seperti anak jalanan,.. kasihan ia pasti ketakutan sejak tadi, dan mudah-mudahan aku cepat membantunya kembali ke keluarganya,..Orangtuanya juga pasti khawatir dengan keadaanya,..

” Udah jadi Mama ya sekarang,.. ” Sindir Johan sambil mengunyah ayam di mulutnya,..
Aku diam saja, sambil membisiki anak itu, ” Jangan didengerin ” bisik-ku,..

Anak itu duduk di atas ranjang-ku, aku menyuruhnya nonton televisi, aku sendiri ke meja makan tempat Johan duduk,..

” Jangan gitu sii, kasian lah sama anak itu,.. ” Kata-ku
” Udahlah, yang penting cepet pulangin anak itu,.. ” Kata Johan,.. ” Oh iya pinjem duit donk,.. “
” Lagi ?? ” Tanya-ku ” Kan udah aku kasih 1,5 kemaren,.. aku gak ada lagi,.. “
” Alah, jangan bohong dech, hari ini abis ketemu Om Lim kan, lagi juga mending kasih ke gue daripada beliin ginian buat itu anak ” Johan terdengar tidak senang sambil mendorong-dorong plastic yang berisi pakaian anak itu,..

Aku menutup mulut Johan dengan tangan-ku, aku tak mau anak itu mendengar urusan Orang Dewasa, aku tahu kebiasaan Johan yang akan ngoceh panjang lebar tiap kali menyentuh masalah itu, aku mengambil tas-ku dan memberinya beberapa lembar ratusan ribu,..

” Nah gitu donk,.. ” Johan mengantungi uang yang aku berikan,..
” Jangan dipake Judi sama minum ” Ingat-ku,..
” Iya-iya,.. Aku mau jalan dulu sama anak-anak,.. ” Johan mengambil jaketnya dan keluar, sementara aku mengambil piring bekas makannya, menuju kamar mandi mencuci piring itu,.. sebelum kemudian aku mandi, membasuh tubuh-ku yang lelah,..

Sambil mengeringkan rambut-ku dengan handuk, aku duduk di sebelah anak kecil itu,..
” Nonton apa ?? ” Tanya-ku,..
” Ini gak tahu apa,.. ” anak ini sudah mulai bicara sekarang,..
” Mau nonton DVD, ada Aang nich,.. ” Aku mencari DVD di kardus dekat ranjang-ku,.. sambil menarik beberapa DVD porno milik Johan dan menyembunyikannya di Lemari, takut sampai anak itu menonton-nya nanti,..

” Mau,, mau,, mau,.. ” jawab anak itu lucu,..
Aku tersenyum.. sambil memasang DVD, aku tiduran di dekat anak itu yang tampak begitu seru menonton DVD kartun itu,..
Anak itu ikut tiduran disebelah-ku,.. aku mengelus-elus rambutnya, anak itu sendiri terlihat begitu nyaman dalam pelukan-ku,..

” Kasih tau cici ya,. Nama kamu siapa,.. ” Tanya-ku,..
” Lian ci,.. nama aku Lian,.. ” Jawab anak itu, melirik-ku sebentar sebelum kembali menonton TV,..
” Lian tau rumah Lian dimana ?? “
” Aku tahu ci,.. Tapi aku gak tahu didaerah mana,.. ” Kata anak itu, ia bangun dari posisinya, ia tampak serius,..wajahnya kembali murung,..

” Udah-udah, nanti kita cari ya,.. kamu kan bisa tinggal disini dulu sama cici,.. “
Lian diam,.. ” Ya tinggal sama cici,. Mau kan ?? ” Tanya-ku lagi,..
” Makasih ya ci,.. “
” Udah sini ayo tidur lagi,.. ” Ajak-ku,..
Lian pun tiduran di sebelah-ku, ranjang-ku cukup besar, cukup untuk dua orang dewasa,..

Kamar-ku memang tak besar, hanya berisi satu ranjang besar, sebuah TV yang tidak terlalu besar dengan sebuah DVD diatasnya dipojok dekat WC ada sebuah lemari yang cukup besar,. Tempat aku menaruh pakaian-ku dan Johan,. Di sebelah satunya dekat pintu ada meja dan 2 kursi, tempat Johan makan tadi,..

Aku terus mengelus lembut kepala Lian, aku terbayang masa lalu-ku, anak ini lebih kecil dari-ku saat kehilangan orangtua-ku dulu, dan semoga ia bisa segera menemukan orang tuanya nanti,..

Tak lama kemudian, aku melihat Lian yang telah tertidur lelap,.. anak itu lucu, gemuk dan matanya itu terlihat begitu ramah,.. ia tidur seolah lupa segalanya, tertidur begitu lelap dalam pelukan-ku,.. pasti ia begitu lelah hari ini,..kumatikan TV dan DVD player sebelum kumatikan lampu kamar-ku,.. menarik selimut, menyelimuti-ku dan Lian, sebelum mulai tertidur,.

Baru rasanya aku tertidur saat aku merasakan sepasang tangan yang menggeranyangi paha-ku, aku terbangun, dan melihat Johan yang duduk disebelahku, menyadari aku terbangun dia malah berusaha mencium-ku sekarang,..

Aku mendorong Johan yang tengah mabuk berat, aroma alcohol dari mulutnya begitu menyengat.
” Jo,.. ada anak kecil Jo,.. gak ah,.. ” aku tak ingin Johan menyetubuhi-ku seperti biasanya, saat ia pulang mabuk dan langsung memaksa melayaninya,..

” Aghhh, udahlah,.. ” Johan terus berusaha mencium-ku,.. aku terpojok disudut ranjang-ku,..sementara di sebelah kiri-ku Lian masih tertidur,.. aku tak ingin ia terbangun dan melihat semua ini,..

” Lu tuch anjing tau gak,.. udah cepet biasanya aja gak nolak,.. ” Setengah berbisik, sambil sedikit menjengut rambut-ku, Johan masih memaksa-ku untuk melayaninya,..
” Sakit Jo,.. ” aku berusaha menepis tangan-nya,.. “

” Makanya, ayo donk, biasa juga lu gak pernah ngelawan,.. ” Katanya,..
Aku menyentuh bagian kepalau yang terasa perih akibat jengutan tangannya tadi,..
” Tapi ada anak kecil Jo,.. ” Kata-ku beralasan,..
” Mau, apa gue usir aja itu anak sekarang !! ” Ancam Johan,..

Aku melihat tubuh mungil Lian yang tengahtertelungkup sambil bersembunyi di selimut tak jauh dari-ku,..

” Iya, iya udah aku mau,.. ” aku terpaksa menuruti keinginannya itu..
” Yawda di kamar mandi aja,.. ” katanya sambil melangkah kea rah kamar mandi,.. aku mengikutinya sambil menutup kerai kamar mandi-ku..

Ia membuka pakaian dan celananya,.. penis Johan sudah berdiri tegang di depan-ku,.. aku dipaksanya berjongkok,.. sementara ia sengaja menyalakan air dari shower kamar mandi,.. ia bersender di dinding kamar mandi,.. hingga hanya sedikit terkena semprotan air hangat dari shower,.. sementara ia membiarkan tubuh-ku basah oleh semburan air itu,..

Tangannya menarik tangan-ku kearah selangkangannya, sementara aku menyapu air yang membasahi wajah-ku dengan tangan yang lainnya,.. air itu membat sekujur tubuh-ku basah,.. baju putih yang agak longgar namun tak seberapa tebal yang biasa kugunakan untuk tidur itu terlanjur basah kuyup, menempel di tubuh-ku, mencetak jelas lekuk tubuh-ku, puting payudara-ku pun ikut tercetak di pakaian itu,..

Tangan-ku meremas kemaluan Johan,.. perlahan aku menuruti kemauannya,.. biar semua ini cepat selesai,.. kugerakan tangan-ku maju mundur sepanjang penis itu, perlahan Johan sendiri mulai mendesah merasakan remasan tangan-ku, pada penisnya itu,,,

Ia menarik wajah-ku, mendekati selangkangannya,.. pasti ia meminta-ku untuk mengoral penisnya itu,. Perlahan aku membuka mulut-ku malas untuk bertengkar ataupun menimbulkan keributan, takut Lian terbangun dan melihat semua ini,. Aku membuka mulut-ku, menjulurkan lidah-ku menyentuh penis itu, perlahan kugerakan lidah-ku sepanjang penis itu, kusapu kepala kemaluannya dan belahan di kepla kemaluan itu,.. tubuh Johan menegang saat kusentuh bagian itu,..

Kugerakan lidah ku di sekujur penis itu, sebelum berkonsentrasi menyapu bagian bawah penis itu, perlahan ia mendesah nikmat, sebelum kemudian lidah-ku terus bergerak kebawah, menyentuh bagian kantung kemaluan-nya itu,.. lagi-lagi kurasakan tubuh Johan menegang,.. Tangan-ku yang satu meremas-remas bagian itu, sementara yang lain kugerakan di batang kemaluannya itu,..

Mulut membuka, memasukan penis itu dalam mulut-ku,.. sementara semburan air hangat yang menyentuh tubuh-ku itu sedikit membuat tubuh-ku mengigil kedinginan,. Apalagi tak enak rasanya basah dengan pakaian di sekujur tubuh-ku,.. aku menyedot-nyedot penis Johan, sementara tangan-ku bergerak-gerak sepanjang batang penisnya itu,

Kurasakan kepala penis itu di seluruh mulut-ku, lidah-ku menyapu-nyapu kepala penis itu, sementara

>>>

Johan mendorong tubuh-ku menghadap ke tembok, aku menahan tubuh-ku yang sengaja ditabrakan ke dinding,.. tangannya menurunkan celana-ku, sekaligus celana dalamnya sambil meremas-remas bokong-ku itu,..

” Jo, apa-apaan sich,.. udah Jo,.. ” Pinta-ku, aku tak ingin Lian terbangun dan melihat ini semua,..
Ia malah mendorong tubuh-ku lebih rapat lagi ke dinding, sementara kemaluannya itu di gesek-gesekannya ke bibir kemaluan-ku,.. perlahan kemaluan itu ditekannya masuk,. Aku meringis menahan rasa sakit sementara penis itu terus menekan masuk,..

Sampai-sampai aku mengigit bibir bawah-ku,.. menahan rasa sakit itu, aku berusaha menenangkan pikiran-ku, berusaha membuat tubuh-ku serileks mungkin sementara kemaluan itu mulai memasuki tubuh-ku, pertama hanya kepalanya yang masuk namun sesaat kemudian dalam satu tarikan selanjutnya batang kemaluan itu kembali menekan masuk dalam,..Johan kembali menarik sebelum kemudian menekannya masuk lebih dalam lagi,..

Aku mendesah, namun kutahan, berusaha menahan desahan-ku sebisa mungkin sambil berusaha membuat perasaan-ku serileks mungkin, Johan menciumi leher-ku, membuat-ku kian ingin mendesah karena rangsangannya itu, namun aku terus berusaha menahannya,..

Tangannya menyusup di bagian dada-ku, menyelip lewat bawah kaus-ku,.. menarik kaus itu keatas hingga sepasang payudara-ku tersingkap karena kaus yang menutupinya tertahan dekat bahuku,. Tangannya itu meremas-remas kasar,.. ia mabuk dan pastinya ini akan berlangsung lama,.. sementara air hangat yang menyembur di tubuh-ku mulai membuat tubuh-ku kedinginan,..

Aku mulai bereaksi, aku menggerakan pinggul-ku,. Sehingga kini kami berdua saling bergerakan beriringan, saling menumbukan tubuh kami masing-masing.. sementara tangan Johan terus meremas-remas dada-ku itu, ia mencoba mencium-ku, aku menyisipkan ke telinga rambut panjang-ku yang menutupi wajah-ku, aku menerima ciuman Johan, lidahnya yang menyusup di bibirku itu kubalas dengan gerakan bibirku yang melingkari lidahnya,..

Sementara kemaluannya yang engah menyetubuhi-ku itu terus bergerak tanpa henti,.. bergantian dengan tubuh-ku yang ikut bergerak, kalau Johan berhenti maka giliran-ku untuk bergerak, namun makin lama Johan makin cepat menggerakan kemaluannya itu menyetubuhi-ku,.. aku terus menciumnya, setidaknya dapat menahan desahan-ku, aku takut anak itu terbangun karena desahan-ku,..

Sementara kemalauannya itu menyetubuhi-ku dengan gencar, jemari-jemarinya di payudraa-ku it uterus meremas-remasnya sambil memainkan puting diujung dada-ku itu, tangan-ku menggapai kebawah, menuju kantung kemaluannya itu, aku menyusup kesana meremas kantung kemaluannya itu sambil meremas-remas bagian itu yang membuat tubuh Johan mengejang beberapa kali,..

Johan membalik tubuh-ku, aku tak lagi dapat memainkan jemari-ku di kantung kemaluannya itu, sesekali ia mengangkat satu kaki-ku, sebelah kanan, sementara kemaluannya itu kembali ditekannya masuk dalam lubang kemaluan-ku itu, aku kembali mengigit bibir bawah-ku menahan desah ku yang seolah ingin meluncur keluar dari mulut-ku,..

Kepala kemaluan itu kembali memasuki tubuh-ku, terlebih memang kemaluan Johan itu berukuran lumayan,. Tangannya mencengkram pinggulku sementara aku berusaha serileks mungkin menikmati permainan ini,.. aku mencium Johan lebih dulu, aku tak ingin desahan-ku keluar keras,.. aku menciumnya untuk mengalihkan desahan-desahan yang ingin melompat keluar itu, smeentara tangan-ku mengapai dada Johan, berputar disekitar puting di dadannya itu,..

Sementara kemaluannya itu pun terus bergerak didalam sana,.. hingga yang kutakutkan itu terjadi, tubuhku mulai bereaksi karena rangsangan-rangsangan itu, aku meremas pinggul Johan, masih berusaha menciumnya,.. tubuh-ku rasanya bergetar-getar, sementara rasanya tubuh-ku menjadi begitu sensitive setiap sentuhan di tubuh-ku menjadi terasa begitu sensual, mulai dari gerakan kemaluan Johan di dalam tubuh-ku, sentuhan lidah Johan di mulut-ku, hingga butir-butir air yang menyentuh tubuh-ku, semua terasa begitu memancing nafsu-ku,..

Hingga akhirnya semua itu tak tertahan, aku memeluk Johan erat-erat, seluruh tubuh-ku gemetaran sementara kemaluan Johan ikut terjepit di dalam sana, aku sampai menutup mulut-ku dengan tangan-ku sendiri, menahan desahan-ku,.. sampai cairan cinta-ku meleleh hangat di sepanjang paha-ku,..

Tak ingin aku mencapai puncak kepuasaan-ku sendirian Johan kian epat menggerakan kemalauannya itu, aku masih berusaha keras menahan desahan, sementara kian lama kian keras rasanya kemalauan Johan itu dalam tubuh-ku,.. semenit kemudian ia mencabut kemaluannya itu, ia menyuruhku berjongkok, lagi pula tubuh-ku terasa begitu lemas sehingga aku berjongkok mengikuti kemauannya,.. ia menggerakan tangannya di kemalauannya itu sendiri,.. sementara tangan-nya yang lain mendorong wajahku hingga terangkat diatas,.. perlahan ia mendesah-desah kecil dan menuangkan spermanya itu diwajah-ku,..

#####

” Hey udah bangun ?? ” Kulihat Lian yang tengah duduk di samping kasur,.. menghadap kearah jendela,.
Aku membawa dua mangkuk mie instant yang baru saja kumasak tadi dibawah,..
Lian mengganguk lucu,.. ” ayo sini makan dulu, pasti laper kan ?? ” Panggil-ku,.. Lian pun mendekat ke meja makan, sambil tersenyum,..
” Sini duduk,.. ” aku menarik satu kursi sambil menyuru Lian duduk di situ, dan kuambil sendok dan garpu ke mangkuk mie kuah rasa kari ayam itu,..
” Makan sendiri bisa kan ?? ” Tanya-ku,..
Lian mengangguk,.. ” Cici gak sarapan ?? ” Tanya-nya,..

” Udah koq tadi dibawah, kamu makan sana ,.. ” Aku mengelus kepala Lian, sebelum mencoba membangunkan Johan yang masih tidur,..

Aku menepuk pundaknya perlahan,.. sambil membisik coba membangunkan,..

Tapi Johan terlihat kurang senang dengan apa yang kulakukan, ia hanya diam saja,.. sementara aku kembali mencoba membangunkannya,..
” Ayo bangun, udah aku bikinin mie,.. ” Bisik-ku,..
Tapi Johan kembali diam, hanya diam, sambil menekuk wajahnya lebih dalam lagi ke dalam bantal,..

Ya sudahlah pikir-ku,.. aku mengambil dompet Johan yang terjatuh disamping kasur,.. kulihat isi didalamnya, hanya tertinggal beberapa lembar uang sepuluh ribuan, tak sampai 50ribu rupiah.. berarti dia menghabiskan seluruh uang yang aku berikan tadi malam,… Malas aku memperdebatkannya,.. malas untuk bertengkar dengan Johan lagi,.. malas mendengar makian dan teriakannya itu,..

Aku mengambil tas-ku, dan mengambil 2 lembar uang seratus ribuan, dan memasukanya kedalam dompet Johan,.. sebelum kembali menaruh dompet itu di meja kecil dekat kasur,..

” Ich, pinter banget makannya,.. lapar ya ?? ” Tanya-ku saat melihat mie di mankuk Lian tinggal setengahnya,..
Lian mengangguk,.. ” Kamu mau tambah gak ?? ” Tanya-ku,.. sayang kalau mie yang kubuat untuk Johan tadi dibuang begitu saja,..
” Gak ah ci, kenyang,.. Lian kenyang nich,.. ” Katanya,..
” Yawda,.. kamu abisin ya,.. ini telurnya buat kamu ya,. ” Aku memindahkan telur dari mangkuk mie Johan untuk Lian,.. sementara aku mengambil sendok dan garpu,.. aku terpaksa memakan mie Johan itu, sebelum dingin dan lembek,..

” Lian abis ini mandi ya,.. ” Kata-ku, sambil mengarpu mie dari dalam mangkuk-ku,..
Lagi-lagi ia mengangguk lucu,.
” Udah abis ci,.. ” Kata Lian, sambil menghabiskan kuah mie instant itu sampai mengangkat mangkuk itu kemulutnya,..
” Enak ya ?? ” Tanya-ku,.. ” Kamu doyan sayur ya ??,.. ” Melihat sayur di mangkuk Lian ikut habis, sementara aku malah sengaja memisahkan sayuaran itu,.. aku tak begitu suka sayuran,..

” Iya enak, Lian juga suka sayuran,, cici koq gak makan sich ?? ” Tanya-nya melihat aku memisahkan sayur-sayuran itu dari mangkuk-ku,..
Aku hanya tersenyum… ” Cici gak suka,.. tapi ko Johan suka,.. makanya cici masakin tadi,.. besok-besok kalo cici bikin mie lagi, nanti cici masakin banyak sayur buat Lian ya,.. ” Aku tersenyum melihat kecerewetannya itu,..

” Iya makasih ya ci,.. Tapi cici juga gak boleh dibuang semua sayurnya, dimakan ya sayurnya sedikit aja,. ” Katanya sambil memainkan jempol dan telunjuknya membulat, member tanda sedikit aja,..

Aku tertawa melihat tingkahnya itu, anak ini lucu sekali,..
” Iya-iya Lian,.. Lian tadi cici nyuruh apa ?? ” Tanya-ku,.
” Ok ci,.. Lian mandi sekarang ya,.. ” Ia turun dari kursinya,.. dan masuk ke kamar mandi sambil membuka pakaiannya,..

Aku pun membereskan mangkuk mie itu setelah menghabiskan mie-ku,.. sementara terdengar gemercikan air dari dalam kamar mandi,..

” Brakkk,.. ” Terdengar bunyi sesuatu yang terjatuh,..

” Berisik !!! ” Bentak Johan, sambil membuka Krai kamar mandi,…
Lian sambil terduduk saking ketakutannya,.. Johan berdiri terlihat begitu marah,..

Aku langsung mendekat,..
” Apa sich Jo,.. ” Kulihat botol shampoo terjatuh ke lantai,.. Aku mendorong Johan,..
Sementara kumatikan shower itu sambil memeluk Lian,..
” Udah gapapa,.. Tenang aja,.. lain kali hati-hati aja ya Lian,.. ” aku mengelus tubuh anak itu, tubuhnya dingin gemetaran, pasti ia begitu ketakutan,. Sementara Johan masih melotot kepada kami berdua,..

” Gak usah over gitu dech Jo,.. ” Kata-ku,..
Johan pun kembali tiduran di atas kasur,.. dan mengambil satu bantal lagi untuk menutup telinganya,..
” Awas gandeng lagi,.. ” Katanya sebelum kembali diam
” Udah gapapa Lian, Ko Johan lagi sakit aja, makanya marah-marah,.. Lian mandi lagi ya,.. ” Kata-ku,.. sambil menutup kerai kamar mandi, tak lama terdengar suara air keluar dari shower, tapi tak sederas tadi,.. pasti anak itu masih ketakutan,,..

Aku mendekat ke Johan,..
Aku membisik padanya,..
” Jo tolong jangan kasar sama anak itu kenapa sich,.. ” Bisik-ku,..
” Kenapa dia anak lu ya ??? ” Tanya-nya, dengan suara keras,.. aku buru-buru menutup mulutnya dengan tangan-ku,.. takut terdengar Lian,..

” Lu gila ya,.. ” Bisik-ku, meski dengan nada tinggi,..
” Kalau iya, bilang aja,.. ” kali ini Johan bersuara pelan
” Udah dech, cape ngomong sama lu,.. Terserah, tapi gue minta jangan kasar sama anak itu,.. “
” Ya lu cari lah, dimana orang tuanya,.. “
” Iya-iya, habis ini juga aku mau pergi,.. aku bawa Lian cari orang tuanya,.. “
” Bagus, yawda cepet aja pergi sana,.. “

Habis hati aku menghadapi Johan,.. padahal sudah 3 tahun kami hidup bersama, Johan sendiri sekarang pengangguran, tapi dia orang yang pertama yang begitu baik pada-ku,.. ia orang yang member aku tempat tinggal, pertamanya ia begitu baik, perhatian dan sabar, namun setelah ia terena PHK perlahan ia menjadi begitu kasar, pemarah, Pemabuk dan penjudi berat,.. aku sendiri sudah mati akal menghadapinya,.

#####

” Nah ci, Lian cuma ingat sampai sini aja,.. ” Kami berhenti di sebuah terminal, kalau tak salah ini sudah dekat dengan kota tangerang,.. sementara waktu kami bertemu malah di ujung selatan Jakarta, tak terbayang berapa Jauh anak ini menempuh jarak sejauh itu sendirian,..

” Lian gak ingat lagi ?? Kamu disini sendiri atau sama orangtua kamu ?? ” Lian menggeleng,,.
” Aku gak ingat Ci,.. ” katanya sambil memanyunkan bibir mungilnya dan menundukan kepala,..
” Yawda gapapa koq,.. Lian lapar gak ?? ” tanya-ku, sambil melihat jam tangan-ku, sudah lebih jam dua siang,..

Lian hanya mengganguk, aku menggandeng tangannya sambil menaiki kendaraan umun yang kebetulan berhenti di depan kami,.. aku ingat di dekat sini ada sebuah pusat perbelanjaan, lebih baik kami makan disana, pulangnya juga aku bisa menyempatkan membeli beberapa bahan makanan,.. kebetulan persediaan di tempat kost pun sudah habis,..

Entah kenapa Lian lebih banyak diam, setelah makan ia menemani-ku berbelaja, ia masih saja diam sambil menundukan kepala,.. seperti sedang menyimpan sesuatu,.. Aku menunduk setelah mengambil beberapa bungkus mie instant ke dalam keranjang,..

” Lian, koq diem terus sich ?? ” Tanya-ku,..
Lian hanya menggeleng,..
” Lian cerita donk sama cici,.. Masih takut sama ko Johan ya ?? Ko Johan baik koq.. ” Kata-ku sambil mencium anak itu,..
” Lian takut,.. takut kalau cici jadi sering berkelahi sama Ko Johan gara-gara Lian,.. ” Ia membisik, sambil memeluk-ku,.. matanya merah,.. ” Lian pasti berusaha inget, Lian juga pengen cepet inget Lian tersesat dimana ,.. ” Kata-nya dengan suara lirih bergetar,..

” Lian jangan nangis,.. Ko Johan marah-marah soalnya lagi sakit aja,.. Ko Johan baik koq,.. Lian gak boleh nangis ya,.. ” Bisik-ku,. Sambil mengelus-elus punggungnya,..
” Lian takut cici dimarahin terus,.. Gapapa Lian dimarahin tapi Lian gak mau cici ditampar lagi,.. pasti gara-gara Lian,.. “

Aku langsung terdiam, anak ini melihat semalam ?? melihat saat aku ditampar oleh Johan ??

” Gak koq,.. cici gak ditampar ma ko Johan,..kapan Lian ko Johan begitu ?? ” Tanya-ku, berusaha tenang,..
” Tadi pagi, waktu Lian mandi,.. Lian pikir ko Johan mukul cici.. tapi Lian payah, Lian gak berani belain cici, padahal Lian lelaki, tapi malah ketakutan di dalam kamar mandi,.. “
Sedikit tenang aku mendengar jawaban Lian,.. setidaknya ia tak melihat adegan dewasa itu,..

” Itu ko Johan lagi ngangkat bantal, mungkin kamu liatnya kayak lagi mau mukul cici ya ?? ” Aku mengelus kepalanya,.. tangisnya sudah sedikit mereda,..
Ia mengganguk,..
” Tuch, makanya Lian gak boleh nangis lagi ya,.. ” Aku membisik padanya,.. ” Nah Lian mau coklat gak ?? ” Tanya-ku, sambil mengambil coklat silverqueen, dan memperlihatkannya pada Lian,..

Lian tersenyum, sambil mengangguk,..
” Mau yang mana ?? ” Tanya-ku sambil memperlihatkan yang biasa dengan yang almond,.. ia memilih yang almond,..
” Mau apa lagi ?? ” Tanya-ku,.. Sambil melihat-lihat makanan kecil di deretan itu ??
” Lian gak mau lagi, itu aja,.. sayang uang cici kalo dibeliin buat Lian terus… “
” Dasar, gak boleh ngomong gitu,.. Gak boleh ribut soal makanan, kalau masih bisa beli ya dibeli aja,.. ” Kata-ku menasehati Lian,..
” Iya ci,.. tapi emank Lian gak mau apa-apa lagi koq,.. “
” Yawda, bener nich gak mau apa-apa lagi ?? “
Ia mengangguk kecil, aku pun menuju Kasir membayar makanan-makanan yang tadi aku beli,.. sementara Lian sesekali melihat permen-permen yang ditaruh di depan kasir,.. aku mengambil satu Bungkus permen Jelly yang sejak tadi dilihat Lian, kelihatan sekali ia mau permen itu,.. Ia tersenyum saat aku mengambil dan membayarnya,..

Aku menuntun Lian keluar dari Plaza itu, tangan kanan-ku mengangkat belanjaan sementara yang kiri menggandeng anak itu,.. mulutnya tengah mengunyah permen jelly yang tadi dibelinya,.. sambil menunggu di dekat Halte, menunggu Bus yang akan mengambil mengantar kami pulang,..

Suara deru pesawat yang terdengar nyaring beberapa kali, melintas diatas kami, memang kami sudah tak jauh lagi dari arah bandara,.. tak lama Bus kami datang, aku menuntun Lian yang masih mengunyah permen itu, penapak bus itu memang terlalu tinggi untuk anak seusianya,.. aku pun setengah melompat untuk naik ke bus itu,.. sebelum duduk di bangku dua yang kebetulan kosong,..

Anak itu telihat berfikir keras, ia duduk termenung disebelah-ku, aku menyadarinya saat menyeka wajahnya yang berkeringat panas, alisnya mengerenyit, seolah tengah berfikir keras,..
” Kenapa sich Lian ?? ” Tanya-ku sambil menyeka keringatnya yang terus mengucur,..
” Aku lagi ingat-ingat ci,.. kayaknya aku pernah naik itu,.. ” Katanya,.. mulutnya tengah berhenti mengunyah, meski keringat masih menetes dari keningnya,..

” Apa ?? Pesawat ?? ” Tanya-ku,..
Ia mengganguk,.. ” Anak ini dari luar daerah ?? ” Pikir-ku, ” tapi dari mana ?? Lalu koq bisa sampai disini ?? “

Alisnya masih mengerenyit seolah tengah berfikir keras,..

” Udah gak usah dipikirin, nanti juga inget lagi ya ” Kata-ku sambil mengambil satu permen Jelly, membukanya dan menyuapi ke mulut Lian,..
Ia mengganguk, krenyit alisnya belum hilang,..

Aku langsung menyuruhnya mandi saat sampai di tempat-ku, kosong, sepertinya Johan sedang keluar, aku mengganti pakaian-ku, sambil mengambil handuk-ku, ikut mandi bersama Lian, sambil menggosok punggungnya dan mengeramasinya,.. sesekali kami bercanda-canda sambil menyabuni tubuhnya,. Rasanya anak ini mulai memberikan sebuah kebahagiaan lain dalam hidup-ku,.. tanpa sadar aku mulai menyayangi anak ini,..

Setelah mengeringkan tubuhnya, aku menyuruhnya menonton Film yang kemarin belum sempat diselesaikan olehnya, sementara aku turun, sambil membawa beberapa sayuran yang tadi aku beli,..

Tak lama aku kembali ke kamar-ku, membawa Tahu goreng, cah kangkung yang tadi aku masak dan 2 potong ayam goreng, dan seekor Pecel lele yang tadi aku beli di depan kost-ku dekat tikungan sana,..

” Lian, ambilin piring dibawah ya,.. kamu tau kan di dapur, ambil aja yang mana aja 3 buah,.. ” Kata-ku, sambil mengeringkan tangan-ku, Ponsel-ku berbunyi,..dan aku bergegas mengambilnya,..

Nevi yang menelepon-ku, sementara Lian melompat dan turun mengambil piring yang tadi aku suru,.. aku berbicara dengan Nevi dengan bahasa kami,.. sambil sedikit bercerita tentang Lian, meminta bantuannya untuk ikut mencari orang tua Lian, Nevi memberi beberapa ide bagus yang tak tefikir oleh-ku,.. sebelum kemudian aku mengakhiri pembicaraan kami, melihat Lian yang duduk di meja makan, di depan piring yang tadi kusuruh bawa,..

” Lian, pinter banget sich kamu,.. ” Aku melap piring-piring itu beserta sendoknya,.
” Tadi temen cici ya ??, dia bisa bantu cici temuin rumah aku ?? ” Tanya-nya penuh harap
Aku terkaget mendengar ia mengerti apa yang kuucapkan dengan Nevi tadi,.. Aku menyendok nasi kepiringnya,.. sebelum kemudian bertanya padanya,..

” Kamu ngerti tadi cici ngomong apa ?? ” Tanya-ku
Ia mengganguk kecil,.. ” Ngerti, tapi ada juga yang aku gak tau,.. logatnya juga beda,.. ” Katanya
Aku mencoba mencerna sambil berfikir,..
” Coba kalau kamu ngomong kayak gimana ?? “

Ia pun mengikuti apa yang tadi aku katakan, aku mendengar dengan seksama cara ia bicara dan beberapa perbedaan dengan yang kukatakan tadi,.. Rasanya aku tahu cara bicara dan logat itu, lebih mirip bahasa mandarin orang Sumatera,.. itu saja sebuah kemajuan yang bagus untuk mencari tempat tinggal Lian,..

” Yawda,.. sekarang kita makan dulu ya Lian,.. “..
Aku mengambil sendok dan garpu, memberikannya pada Lian, memberinya satu potong ayam bagian dada, sambil sedikit menyiwir-nyiwirnya agar anak ini lebih mudah makan, sementara ikan lele itu aku taruh di piring-ku,.. aku memang suka itu,..

Sambil mengambilkan sayur kangkung ke piringnya, Lian menatap-ku, seolah menginginkan sesuatu, aku tersenyum membaca arti tatapannya itu,.. sebelum aku mengambil nasi ke piring-ku, dan satu sendok cah kangkung yang tadi aku buat,.. ia tersenyum melihat aku mengambil sayuran untuk aku makanAnak itu terlihat ceria, tapi aku tahu ia sesekali berfikir keras tiap berusaha mengingat sesuatu yang sepertinya berkaitan dengan tempat tinggalnya,..

Sesekali aku mengajaknya bercanda, kami nonton berdua cerita sinetron yang tak pernah aku lewatkan, ia tiduran di sebelah-ku, sesekali ia meminta-ku mengelus kepalanya,.. terkadang ia memasukan jempolnya ke mulutnya,. Tapi aku buru-buru menariknya,. Agar ia tak menghisap jempolnya itu,..

Sambil aku mencari-cari ke dalam tas-ku, mengeluarkan isinya,.. tapi masih tak ada,..
” Kenapa ci ?? ” Tanya Lian,..
” Itu, kamu liat korek aku ?? ” Tanya-ku,..
Ia diam tak menjawab,..
” Tadi cici taruh mana ya,.. ” Aku membuka laci didekat-ku, juga taka da korek disina, masa di kamar ini yang biasanya ada dua sampai tiga korek api sekarang gak ada satu pun,..

” Lian, kamu nyembunyiin ya ?? “
Lian diam saja, bibir mungilnya seperti sedang menyembunyikan sebuah senyuman,..
” Lian,..” aku mengitik-ngitik perut anak itu,.

” Hahahaha,.. iya ci, abis Lian sebel liat cici ngerokok, kan gak baik buat kesehatan Cici,.. ” Ia tersenyum seolah menasehati-ku, aku tersenyum menatapnya,.. aku memasukan lagi sebatang rokok yang tadi terselip diantara jemari-ku,.

” Iya dech, cici gak ngerokok lagi,.. udah ayo nonton lagi, tapi abis ini tidur ya,.. ” Kata-ku,..
” Nah gitu donk,.. ” Ia mencium pipi-ku, kecil sambil kembali tiduran di sebelah-ku, aku memeluk anak itu yang perlahan kembali tertidur disamping-ku,.. sementara tak lama aku pun mematikan lampu dan televisi-ku, ikut tertidur sambil memeluk Lian,.

Bunyi pintu yang terbuka kasar membangunkan-ku, aku melihat ke pintu,.. Langkah Johan terlihat terhuyung, sementara ia langsung menindih tubuh-ku,..

Aku langsung mendorong tubuhnya itu kesamping,..
” Apa-apaan sich,.. ” Aku mendorongnya sambil berusaha bangun, hendak memberinya segelas air,..

Namun ia tak membiarkan-ku menjauh,.. Ia menangkap tangan-ku,..
” Mau kemana Mei,.. ” ia tertawa membuat aku bisa mencium bau alcohol dimulutnya itu,.. ia menarik tubuh-ku hingga terjatuh keatas ranjang dan langsung menindih-ku,.. aku melirik kearah Lian, sementara tubuh mungil itu mulai bergerak-gerak, seolah akan terbangun,..

” Mati aku,.. ” Pikir-ku
Aku berusaha mendorong Johan yang berada diatas tubuh-ku,aku menatap Johan tajam, namun apa artinya tatapan mata-ku untuk orang yang tengah mabuk ini, ia malah mulai menciumi leher-ku, sambil tangannya membuka kancing daster-ku satu persatu,..

Aku berusaha menepis tangan Johan yang sedang membuka kancing-ku satu persatu, sebelum kemudian membuka daster-ku itu, bagian dada-ku itu tak lagi tertutup oleh dastre-ku, aku berusaha menutup bagian dada-ku itu, namun tangan Johan menghalangi usaha-ku itu,..

” Jo,.. ” Kataku pelan,namun tajam, sebuah kalimat yang penuh ancaman, berusaha menyadarkan Johan dari mabuknya,..
Namun ia malah mencium wajah-ku, sebelum kemudian mencium bibir-ku,.. aku berusaha menolak dan mengelak, sementara tangan Johan meremas-remas dada-ku itu, aku melirik,.. Lian mulai membuka matanya,.. Kukumpulkan segenap tenaga-ku untuk mendorong Johan,..

Ia terjatuh ke samping ranjang, aku langsung menutup dada-ku dengan daster seadanya,.. aku melempar bantal yanga da didekat-ku, namun Johan langsung bangun dan mendekat kearah-ku,.. aku berusaha menendangnya lagi, Lian yang sudah terbangun terlihat ketakutan di dekat-ku,..

” Jo,…!! ” Aku membentaknya,..Tak lagi ragu, karena Lian terlanjur terbangun sekarang,..
Johan tidakk berhenti malah berusaha menampar-ku sekarang, tangannya melayang diatas-ku, aku berusaha menahan tangannya yang hendak menamparku itu,..

” Anjing lu pelacur !! ” Ia tampak tak senang karena aku menahan pukulannya itu, terlebih karena aku mendorongnya hingga terjatuh tadi,.

Tapi bukan itu yang membuat aku kehilangan akal,.. aku marah tak tertahan mendengar kata-kata itu,.. mendengar makian yang menyebut kata itu,.. ia tak pernah sadar kenapa aku seperti itu,..

” Keluar !! Jangan panggil aku pelacur !! ” Kata-ku sambil memeluk Lian

 

 

An-Chan

Di sudut sebuah ocha-ya di Fujiwara, Saizo Kirigakure menenggak begitu banyak sake. Berpuluh-puluh botol kosong bekas sake tergeletak di samping Saizo yang mabuk berat. Andai ilmu hipnotis miliknya bisa dipakainya untuk mengobati luka hatinya sendiri, mungkin ia tak perlu menenggak berbotol-botol sake. Malam terkutuk ini adalah saksi bisu betapa dalamnya penderitaannya,… ya, pada malam terkutuk ini gadis yang paling dicintainya, gadis yang bisa membangkitkannya kembali dari kematian, seorang gadis yang demi kebahagiaannya Saizo rela memberikan nyawanya sedang ditiduri oleh saingan cintanya. Dan ialah yang telah dengan bodohnya memberikan keperawanan cinta sejatinya itu pada pria lain. Sikap sok ksatria-nya lah yang mendorongnya untuk melakukan tindakan tolol itu. Saizo tak berhenti mengutuki dirinya yang teramat bodoh. Tak peduli seberapa banyak sake yang telah melewati kerongkongannya, pikirannya tetap tak bisa melupakan An-chan dan pertanyaan sadis sang gadis yang menohok hatinya,

“Senpai, apakah aku bisa menjadi milik Sanada-sama?”

Saizo hanya bisa tersenyum pahit untuk kesekian kalinya sambil bergumam,

“Ya,.. hikss… kau hiks malam ini telah jadi hiks hiks milik Sanada Busuk itu!Hiks… hiks.” (maksudnya ini nangis sambil cegukan hiks hiksnya :-P)

Malam ini, An chan secara de facto telah menjadi wanita milik Sanada Yukimura…

***********

Takeda Katsuyori, putra dan penerus Takeda Shingen kalah dalam Pertempuran Nagashino. Klan Sanada khawatir akan keruntuhan kekuasaan mereka. Ayah Masayuki Sanada, Nobutsuna Sanada, adalah abdi setia Takeda Shingen. Ia adalah salah satu dari 24 jendral Takeda yang terbunuh pada waktu mengepung benteng milik Oda dan Tokugawa di Nagashino. Masayuki Sanada, sang pemimpin klan, memutuskan untuk bertekuk lutut di bawah kekuasaan super power kolaborasi klan Oda dan Tokugawa. Sebagai tanda penyerahan diri pada kekuasaan mereka, Masayuki mengirimkan Akamaru, kuda kesayangannya, kepada Oda Nobunaga. Proses diplomasi ini harus berjalan lancar. Jika sampai diplomasi ini gagal, keluarga Sanada terancam hancur lebur.

“Baiklah, aku akan mengirim Akamaru kepada Oda Nobunaga. Sanada Jūyushi, aku butuh beberapa orang dari kalian sebagai utusan. Siapa yang akan berangkat untuk misi ini?”tanya Masayuki.

“Sebaiknya kirim saja orang yang terlihat paling lemah di antara kami Tuan, agar Oda percaya bahwa kita benar-benar berniat untuk berdamai dengan aliansi Oda-Tokugawa.” ujar Uno Rokuro, sang ahli strategi dan bahan peledak.

“Siapa sebaiknya?” tanya Masayuki.

“Maaf kalau hamba lancang. Boleh hamba memberi usul?” tanya Miyoshi-dono.

“Seikai-chan, apa usulmu?”

“Pilihannya hanya saya atau An-chan, sebab kami berdua terlihat seperti seniman yang lemah gemulai daripada seorang petarung.” Ujarnya.

“Tidak Tuanku. Jangan kirimkan Seikai. Ia terlalu temperamental, hasrat membunuhnya pun tak terkendali. Ia malah akan mengacaukan diplomasi ini dengan pembunuhan yang tidak perlu.” Ujar kembarannya.

“Apa maksudmu, ani-kun? Aku bisa mengontrol emosiku.” Seikai membela diri dengan mimik kemayu.

“Bagaimana dengan pembunuhan penyusup tempo hari? Bukankah kau telah membunuh seseorang yang seharusnya bisa diinterogasi?” Isa mengcounter perkataan si Banci.

Banci kemayu itu pun langsung terdiam jengkel tak bisa lagi beralasan.

“An-chan, apa kau sanggup melaksanakan tugas ini?” tanya Masayuki Sanada.

“Sungguh merupakan sebuah kehormatan bagi saya Tuan.” An-chan menerima tugas beratnya.

“Baik, besok pagi Kosuke akan berangkat untuk mengantarkan Akamaru pada Oda Nobunaga.“ kata Masayuki sekali lagi.

“Maaf Tuanku, ijinkan saya pergi bersama Kosuke. Ia masih sangat hijau untuk melaksanakan tugas sepenting ini. Saya akan mendampingi dan mengawasinya dalam tugas ini. Saya mohon.” Saizo membungkuk sangat dalam. Dahinya sampai menempel di tatami. “Saya akan menyamar dan menyusup, kalau perlu saya akan bunuh diri jika tertangkap.” Saizo berusaha meyakinkan tuannya.

“Ya, kau boleh mengawasi Kosuke, Saizo. Tapi ada satu syarat, kembalilah kalian berdua dengan selamat.” Ujar Masayuki bijak.

“Terimakasih banyak Tuanku.” Saizo membungkuk dalam. Tuan Masayuki memang sangat bijaksana, itulah kenapa ia rela menjadi pengawalnya.

***

Pagi-pagi sekali Saizo dan An-chan berangkat dari Nagano ke Owari. Hari mulai gelap ketika mereka berada di kawasan Mino. Mereka berhenti di tepi sebuah danau untuk beristirahat. Akamaru pasti butuh makan dan istirahat. Jika kuda ini sakit, proses diplomasi ini bisa kacau. Langit cerah di awal bulan ke tujuh. Meskipun bulan menghilang, tapi bintang-bintang bersinar terang… Perayaan Tanabata harusnya jatuh pada hari ini. Hari ini semua orang di kastil Numata pastilah sedang menggantungkan si boneka penangkal hujan,teru teru bozu, menyematkan kertas berisi permintaan ke batang bambu, dan melabuhkan kapal-kapal dari daun bambu… Indah sekali… Tak terasa An chan pun bersenandung,

Sasano wa sara sara
Nokiba ni yureru
Ohoshisama kira kira
Kin gin sunago
Goshiki no tanzaku
Watashi ga kaita
Ohoshisama kira kira
Sora kara miteru
(Perahu dari lipatan bambu berlayar cepat
Ujungnya bergoyang-goyang
Bintang berkelap-kelip
Bertaburan bagai emas perak
Warna-warni harapan dan doa
Yang aku tulis
Bintang berkelap-kelip
Dilihat dari langit)

“Wah, danaunya bersih sekali… aku jadi ingin sekali naik sebuah sampan dan mengelilinginya.” kata An-chan riang.

“Benar, pemandangannya juga indah.” Saizo setuju.

“Senpai, pernah membayangkan seperti ini tidak? Mengelilingi danau berdua dengan orang yang kita cintai… Menatap wajahnya lekat-lekat, menggenggam tangannya erat, dan menciumnya dengan mesra. Romantis kan Senpai?”

“Khayalan aneh, tidak bermutu.” Celoteh Saizo.

“Ah, Senpai memang tidak romantis… Pantas saja sampai setua ini belum menikah juga.” Cibir An-chan.

“Enak saja! Kesendirianku ini pilihan hidupku, tahu?! Bukannya karena aku nggak laku.” Saizo sewot.

“Hehehehehe… Masa’ sih? Eh Senpai, aku lapar sekali. Kita tangkap beberapa ekor ikan untuk santap malam yuk.” Ajak An-chan.

Saizo acuh. Ia pura-pura cemberut.

“Masih marah ya?” An-chan menghampiri Saizo.

Ia duduk di hadapan pria itu dan menarik sudut bibir Saizo untuk membentuk paksa sebuah senyuman di raut wajah cemberut Saizo.

“Kau selalu berbuat begitu kan kalau aku ngambek waktu kecil?” kedua mata beningnya menatap Saizo lugu. Saizo tersenyum dan mengangguk.

“Huh… lapar…” keluh An-chan.

Raut muka Saizo langsung berubah jahil melihat mimik kelaparan An-chan. “Bagaimana kalau kita bertanding? Yang kalah yang harus memasak ikannya?” tantang Saizo.

“OK, siapa takut. Tapi ada syaratnya, tidak pakai jurus ninja! Hanya pakai bambu, benang, dan kail saja.” tambah An-chan.

“Setuju.” Kata Saizo.

Mereka memancing menggunakan bambu, benang, dan jarum yang dibengkokkan menjadi kail. Setelah berjam-jam, tak ada seekor ikan pun yang mau menyantap umpan mereka. Saizo sudah tak bisa menahan lapar lebih lama lagi. Ia tarik bilah bambu yang ia pakai sebagai pancing. Tepat ketika ekor matanya menangkap bayangan seekor ikan yang berenang, ia lemparkan bambu tumpul itu sampai menembus tubuh si ikan. Ia tarik benangnya hingga bambu penusuk ikan itu mendekatinya, dan diangkatnya dengan bangga.

“Aku menang.”soraknya.

“Apa?! Enak saja, kau curang Senpai. Kau pergunakan jurus ninjutsu.”An protes.

“ Mana bisa dibilang curang? Aku kan hanya memakai bambu, benang, dan kail seperti persyaratanmu tadi.” Sangkal Saizo sambil mengerling jahil.

“Tidak bisa! Orang yang menang curang itu tetap seorang pecundang, orang yang kalah! Kau harus memasaknya Senpai.”

“Tidak mau.”

“Baiklah, Senpai.” An-chan tersenyum sambil mendekati Saizo. “Kau menang, tapi… Rasakan ini!” An-chan mendorong tubuh Saizo hingga terjatuh ke danau. Secepat kilat tangan Saizo menarik pergelangan tangan An-chan. An-chan ikut terjatuh bersamanya. Bibir An-chan mendarat tepat di bibir Saizo ketika tubuh mereka jatuh ke dalam air secara bersamaan.

Setelah keluar dari air, An-chan menunduk malu dan berkata, “maafkan aku Senpai. Aku benar-benar tidak sengaja.”

Saizo berpura-pura tak menggubris permintaan maaf An-chan. Ia ambil ikan yang tadi ditangkapnya, dan meninggalkan An-chan untuk membuat perapian tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

***

Malam itu An-chan tidur pulas di hadapan Saizo. Gadis impiannya itu memang sangat cantik, bahkan bintang-bintang gemerlapan di langit pun tak mampu menyamai kecemerlangan wajahnya. Bibir mungil merah jambu itulah yang tak sengaja ia kecup tadi sore… Andai saja ia berani meneruskan ciuman tak sengaja itu, pastilah malam ini ia tak akan menggigil kedinginan digigiti nyamuk seperti sekarang. Pastilah malam ini sudah jadi malam yang tak terlupakan,… Di samping bara api perapian yang menyala-nyala, ia cumbui gadis impiannya dengan panasnya. Amboy, asyiknya kalau ia berhasil melampiaskan hasratnya yang belum sempat tersalurkan pada gadis cantik yang sedang terlelap di hadapannya. Kalau saja ia bisa nikmati lagi puting keras dan kenyal yang bertengger angkuh di atas bukit padat putih mulusnya. Gua kemerahan nan sempit yang baru ia jelajahi bagian luarnya saja… Ahhh… An-chan, membayangkannya saja bisa membuat si buyung milik Saizo mengacung.

Sesuatu jatuh di pangkuan An-chan, membuyarkan khayalan erotis sang ninja mentalis (Peserta The Master ’kaliii :-P). An chan membuka matanya dan mengambil benda kecil itu. Ia amati sekilas dengan setengah mengantuk.

“Oh, laba-laba.”

Ia letakkan lagi benda itu di pangkuannya dan melanjutkan tidurnya.

“An-chan, kau sudah tak takut laba-laba ya?” tanya Saizo heran.

“Oahhm… jangan sebut-sebut binatang menjijikkan itu, Senpai. Aku mau tidur.”

“Tapi yang di pangkuanmu itu kan laba-laba.”

“Tidak lucu Senpai haaahhhmm….”

“Coba buka matamu kalau kau tidak percaya.” Tantang Saizo.

“Ah senpai, ini kan cuma laba-laba… eh,… laba-laba?” An-chan mulai sadar. Ia bangun dan terbelalak waktu melihat seekor laba-laba besar merambat di pangkuannya.

“Gyaaaaa!!! Tolooong!!! Senpai jahat, kenapa tidak membuangnya?!” ia lompat-lompat kalang kabut karena jijik pada binatang itu.

Saizo terbahak-bahak sampai sakit perut.

An-chan pindah tempat ke sebelah Saizo untuk melanjutkan tidurnya.

“Kenapa pindah ke sini?” tanya Saizo ketus.

“Supaya tidak diganggu laba-laba.”

“Bukannya sudah tidak takut?” ejek Saizo.

“Cerewet! Aku mau tidur.” Potong An-chan.

“Baiklah, aku pindah ke tempatmu tadi ya?” tanya Saizo.

“Jangan! Senpai di sini saja, berjaga-jaga kalau ada laba-laba lagi.”cegah An-chan sambil menarik bahu Saizo dan merapatkan wajah cantiknya yang gemetaran ke balik punggung Saizo.

Sejurus kemudian, An chan telah tertidur lelap. Kepalanya jatuh ke pundak Saizo. Saizo memperhatikan lagi wajah cantiknya, membelai rambut panjangnya, memeluknya erat, lalu ikut memejamkan mata.

***

Saizo dan An-chan akhirnya sampai ke basis pertahanan tentara Oda di Owari. Setelah melalui gerbang benteng dan melewati pemeriksaan yang ketat, kedua utusan Sanada itu dipersilahkan masuk. Kastil megah keluarga Oda menyambut mereka di pusat kota. Oda Nobunaga adalah seorang pria kokoh yang kekuatan militernya kondang ke seluruh penjuru Jepang. Di usianya yang sudah berkepala empat, sisa-sisa kegagahannya di masa muda masih jelas terlihat. Kumis hitamnya lebat menutup bagian atas mulutnya. Urat menyembul di bagian tertentu wajah, leher, dan tangannya. Tubuhnya cukup berotot untuk ukuran pria seusianya. Saizo dan An-chan diantar seorang pesuruh untuk menghadap Oda Nobunaga, sang penguasa hampir seluruh daratan Jepang. Keduanya membungkuk sangat rendah, menyadari posisi tak berarti mereka di hadapan sang dewa perang.

Oda berdehem, “apa yang membuat Sanada menyuruh utusan rendahan macam kalian kemari?” tanyanya dengan suara yang melecehkan.

“Maafkan kelancangan kami, Tuanku. Tuan Sanada menyuruh Kami mengirimkan Akamaru, kuda kesayangannya sebagai hadiah untuk Tuanku. Tuan Sanada tahu Anda sangat gemar berburu.”jawab Saizo.

“Kuda?” Oda memastikan.

“Benar, Tuanku. Kuda ini adalah peranakan kuda negeri seberang. Tubuhnya kuat dan kokoh. Kecepatan dan daya tahan tubuhnya jauh lebih baik dari kuda lokal. Akamaru adalah kuda terbaik Tuan Besar yang selalu mendampingi beliau dalam setiap medan pertempuran. Sebagai itikad baik, Tuan Besar Sanada mempersembahkan kuda kesayangannya ini kepada Tuanku.” Saizo menerangkan panjang lebar.

“Hahahaha… Sanada akhirnya mengakui kalau dia hanya pecundang. Dia sama saja seperti kudanya, hanya pantas jadi tungganganku.” Oda menyeringai menyebalkan.

Kedua anggota Sanada Jūyushi itu telinganya memerah mendengar majikan mereka direndahkan.

“Baguslah. Memang tak ada seorang pun di dunia yang bisa melawan Oda Nobunaga.” lanjut Oda sombong.

Darah An-chan dan Saizo semakin menggelegak mendengar Tuan Besar mereka makin dilecehkan. Tapi, diplomasi ini tak boleh gagal karena trik pemancingan emosi yang dilakukan sang penguasa Owari.

“Ngomong-ngomong, kalian berdua sangat tak beruntung. Mengapa masih mau mengabdi pada keluarga pecundang seperti keluarga Sanada?… Kasihan.” Oda memang sengaja terus memancing amarah mereka berdua.

Mereka berdua tetap diam.

“Hahahaha… Kalau diberi kesempatan untuk memperbaiki nasib kalian, apakah kalian bersedia?”

“Maksud Tuanku?” tanya Saizo sopan.

“Aku akan membayar kalian dengan upah tinggi. Keluarga kalian pun pasti bangga pada kalian kalau kalian mau menjalankan tugas ringan dariku.”

“Tugas?” Saizo mengklarifikasi.

“Aku ingin kalian mengawasi keluarga Sanada untukku. Yah, paling tidak berikanlah sebuah peringatan keras pada keluarga itu kalau mereka coba-coba berkhianat padaku.”desis pria separuh baya itu.

“Kurang ajar… Bedebah tua ini ingin An-chan dan aku mengkhianati Tuan Besar…” batin Saizo. Meskipun dadanya terbakar, raut muka Saizo tetap tenang.

“Tak perlu menjawab sekarang. Masih ada banyak waktu. Sekarang pergilah beristirahat. Aku akan berlatih berburu di hutan. Cari saja aku di sana kalau kalian berubah pikiran.” Ia pergi berlalu meninggalkan kedua utusan Sanada itu.

***

An chan melompat dari sela-sela pepohonan ke hadapan Oda Nobunaga yang sedang mengendarai Akamaru. Akamaru terlonjak kaget, namun Oda dengan mudah berhasil menenangkannya. Sang gadis cantik berlutut memberi hormat.

“Tuanku, mohon percayakan tugas itu pada hamba.” Kata An-chan.

“Mengapa kau berubah pikiran?” Oda menyeringai penuh kemenangan.

“Hamba tidak bisa mengabdi terus-menerus pada keluarga lemah seperti keluarga Sanada.Tuanlah penguasa hampir seluruh daratan Jepang. Sudah sepatutnyalah hamba mengabdikan diri pada orang hebat seperti Tuanku.” Jawab An-chan.

Oda tertawa tergelak-gelak mendengar pujian An-chan. “Gadis Kecil, kau tak hanya cantik… Bagus, bagus, ternyata kau cukup pintar juga…”

“Hamba tidak pantas dipuji oleh seorang pria hebat seperti Tuanku…” An-chan merendah.

“Hmmm… jadi kau mau melakukan pengawasan pada majikan, maksudku mantan majikanmu itu, Nona Cantik?”

An-chan membungkuk dalam. “Tentu saja, maafkan kalau Hamba lancang, tapi ada satu syarat yang harus Tuan penuhi.”

“Apa itu?”

“Ijinkan Hamba melihat kehebatan Tuanku dalam bertarung. Tuan harus berhasil menangkap dan mengalahkan hamba. Hamba hanya mau mengabdi pada seorang majikan yang hebat.” Ujar An-chan.

“Oh, maksudmu aku harus melakukan perburuan dan mangsanya adalah kau, Cantik?”

An-chan mengangguk, “suatu kehormatan bagi Hamba jika Tuan bersedia memenuhi persyaratan yang Hamba ajukan.”

“Permainan yang menarik. Kalau aku menang, apa imbalanku?” tantang Oda.

“Apa saja yang Tuan inginkan dan bisa hamba penuhi.” Jawabnya.

“Nyawamu sekalipun?” tanya Oda.

“Bahkan nyawa Hamba pun boleh Tuan ambil.” Jawab An-chan.

“Boleh juga. Sekarang larilah! Aku akan mulai mengejarmu pada hitungan ke dua puluh.”

Kunoichi cantik itu menghilang dari hadapan Oda. Sosok langsingnya berlari menembus rimbunnya dedaunan.

“… delapan belas,….” Hitung Oda

An-chan memanjat ranting kokoh sebuah pohon besar.

“… sembilan belas,..”

An-chan melompat ke dahan pohon yang lain dengan keseimbangan luar biasa.

“… dua puluh.” Oda menghentikan hitungannya.

Waktunya beraksi. Ia pacu Akamaru yang ditungganginya untuk mengejar si kunoichi cantik itu. Kesempatan bagus, pikir An-chan, Oda tak akan menyadari kalau An-chan berniat membunuhnya dalam permainan ini. An-chan melemparkan sebuah shuriken ke leher Oda. Oda yang mempunyai refleks tubuh sangat bagus berhasil berkelit dari shuriken yang dilemparkan si ninja wanita itu. “Trang!” sebatang tombak dilemparkan pada An. Oda memergoki An-chan bersembunyi di sela-sela pepohonan. An-chan berkelit. Ia lemparkan lagi shuriken Iga-nya ke arah sang dewa perang. Pria kokoh itu dengan mudah menangkis shuriken An-chan. Ia berdiri di atas Akamaru dan membalas serangan An-chan dengan buluh berisi mata tombak. Ia menyusul An-chan naik ke atas pohon secepat kilat, ia sabetkan katananya ke tubuh mungil An-chan. Sabetan itu menggores bahunya dan mengoyakkan separo pakaiannya. Tato bergambar naga di punggung mulusnya tampak sebagian waktu ia melarikan diri.

An-chan terus berlari. Mata tombak yang dilontarkan buluh pelontar milik Oda di belakangnya terus menghujaninya, salah satu mata tombak menembus kakinya dan memperlambat laju larinya. Ketika An-chan kurang waspada, sebuah jaring penjerat babi yang dipasang di hutan itu menjeratnya. Ia berusaha melepaskan diri dari perangkap itu, namun terlambat. Sebuah anak panah Oda menembus punggungnya dan mengakhiri perlawanannya. Lalu, semuanya gelap.

***

An chan siuman. Ia telah berada di atas punggung Akamaru. Tubuh Oda menopangnya sambil mengendalikan Akamaru.

“Sudah siuman?” tanya Oda.

“Tuanku,… kita akan pergi ke mana?” tanya An-chan.

“Berkuda. Mengelilingi hutan ini… Oh ya, aku sudah bisa meminta imbalanku?”tanya Oda.

An-chan mengangguk lemah. “Apa yang Tuan inginkan?”

“Bagaimana kalau aku bunuh kau?” bisik Oda sambil menghunus katananya ke leher An-chan.

An-chan pasrah. Oda telah mengendus niatnya untuk menghabisi si penguasa Owari itu dalam permainan tadi. Ia pasrah. Ia pejamkan mata menyongsong kematiannya.

Bukannya menghabisi An, pria tua itu malah menyarungkan kembali katana ke pinggangnya. Tanpa banyak bicara, salah satu tangan Oda menyelusup ke balik kimono An chan dan pelan-pelan meremas-remas sebuah payudara padat miliknya.

An-chan langsung paham apa yang diinginkan oleh lelaki bangkotan itu. An chan menoleh dan tanpa ampun melumat bibir lelaki bangkotan itu. Ia semakin lihai membelit-belit dan menarik ulur lidah partnernya. Cumbuan An-chan makin ganas seiring makin intensnya Oda menarik-narik, memilin-milin, dan mencubiti pentil tegangnya. Ia memasukkan lidahnya dan menyapu langit-langit mulut Oda. Sang dewa perang mulai menyodok-nyodokkan senjatanya ke tubuh An-chan. Ia renggangkan paha mulus An-chan dan mulai mengobok-obok organ kewanitaannya dengan jemarinya. An-chan kewalahan menerima serangan bertubi-tubi di bibir atas, pentil, dan bibir bawahnya. Waktu guanya sudah basah dan becek, Oda mengangkat pinggul rampingnya dan mendudukkan An-chan di pangkuannya seraya menyarangkan senjatanya di lubang pertahanan sang kunoichi. An-chan membantu meregangkan lubang vaginanya dan memasukkan kejantanan Oda ke dalamnya. Ia merem melek nikmat waktu benda besar hitam itu masuk pelan-pelan ke organ intimnya.

Ketika sudah masuk seluruhnya, An-chan melakukan gerakan goyang ngebor yang wah. Barang milik Oda terjepit-jepit nikmat di rongga sempitnya. Sang dewa perang semakin membabi buta meremas-remas gundukan kenyal An-chan, menciumi bibir, punggung, tengkuk, dan ketiak gadis muda itu. An-chan yang terangsang berat bergerak naik turun menunggangi penis pria bangkotan yang perkasa itu. Makin lama gerakan An-chan makin liar dan cepat. An-chan melakukannya sampai tubuhnya menegang karena orgasme dan memuncratkan lava panas dari kawahnya. Ia lemas sekali setelah itu. Tapi permainan belum berakhir bagi sang dewa perang yang tangguh. Ia angkat tubuh mungil An-chan yang pakaiannya sudah tak lagi menutupi organ-organ intimnya itu. Ia balik badan An-chan hingga menghadap ke arahnya. Ia masukkan lagi kejantanannya ke liang senggama An-chan. Ia tepuk bokong gadis itu agar menunggangi penisnya seliar tadi. Tapi An-chan masih lemas, ia tak seberingas tadi. Ia hanya memeluk pria bangkotan itu, sambil melumat bibirnya ia naik-turunkan panggulnya pelan. Oda menepuk bokongnya agar An bergerak dengan lebih bertenaga lagi. An-chan yang telah berpeluh menuruti keinginannya. Ia naik-turunkan panggul aduhainya sampai tubuh sintalnya mengejang lagi.

“Aaaahhhkkkk…..” pekik An ketika ia orgasme untuk kedua kalinya.

Meskipun An-chan sudah dua kali mencapai puncak kenikmatan, senjata pria itu masih saja mengacung tegak. Sudah satu setengah jam sang daimyo Owari bercinta dengannya di atas kuda jantan gagah pemberian Masayuki Sanada, Akamaru. Stamina sang dewa perang memang jreng… Agaknya benar rumor yang mengatakan bahwa ia tidak hanya perkasa di medan perang. Oda menghentikan Akamaru di daerah rerumputan. Ia bopong tubuh An-chan turun dan ia baringkan An-chan di atas rerumputan halus. Ia langsung menyucup rakus pentil-pentil ranum milik An-chan. Jari-jarinya bergerilya di lubang nikmat An-chan. Ia memainkan rino-tama di dalam vaginanya. Genta kecil bergemerincing yang diletakkan di organ pribadi para geisha itu memang mainan yang mengasyikkan bagi para lelaki. An-chan menceracau tak karuan. Ia lebih tak karuan lagi waktu lelaki tua itu memasukkan lidah bergeriginya untuk memainkan mainan kecil di lubang surganya. Tiga kali sudah tubuhnya menegang. Cairan cintanya muncrat ke wajah Oda. Oda munyucup habis love juice gadis cantik nan rupawan yang sedang menggelepar-gelepar terangsang di hadapannya.

Oda menepuk pantat sang ninja jelita. Ia ingin ber-doggy style kali ini. An-chan menungging menyodorkan lubang merah menganganya yang berdenyut-denyut pada si bandot tua. Ia langsung mencoblos dan menghajar An-chan dengan pompaan-pompaan terdahsyatnya. Pompaan di miss V An- chan dan perahan gemasnya di kedua susu An-chan membuat An-chan kembali dilanda multiple orgasme. Setelah lava cintanya muncrat, si cantik sangat kelelahan. Saking lemahnya, An-chan tak sanggup lagi menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya. Oda mencabut lambang kelelakiannya yang masih kokoh berdiri dari Miss V kunoichi cantik itu.

“Apa kau benar-benar mau menuruti semua keinginanku?” Oda berbisik di telinga kunoichi cantik itu.

An-chan mengangguk pelan sambil mendesah-desah karena puting kakunya dipilin-pilin dan ditarik-tarik lagi oleh pria tua itu.

“Bercintalah dengan Akamaru… sepertinya ia iri melihat kita.” Seringai Oda licik.

An-chan bergidik mendengar permintaan tak manusiawi penguasa klan Odawara itu. “Tunjukkan bahwa kau setia padaku!” perintahnya.

An-chan tak punya pilihan lain. Kalau saja klan Sanada tidak terancam hancur karena pria berfantasi seksual mengerikan ini, ia pasti lebih memilih untuk mati menggigit lidahnya saja. An-chan mendekati Akamaru. Ia mengelus-elus kepala kuda jantan merah hitam berbadan besar itu. Pelan-pelan An-chan mengangkat ekornya. Kuda itu telah mengenal gadis cantik itu dengan baik jadi ia tidak menyepak sang kunoichi dengan kaki belakangnya waktu si kunoichi cantik itu mengangkat ekornya. Alat kelamin kuda jantan itu besar dan berwarna kemerahan. An chan meremas-remas dan memijat-mijatnya pelan. An menjilati dengan jijik dan menghisap-hisapnya sampai benda merah lonjong iu membengkak. Akamaru bersuara “hiieeeehhheeehhheehhh…” Mungkin pejantan itu terangsang. An-chan mengoles-oleskan benda mirip dildo itu ke mulut guanya.

Gadis cantik itu lalu merenggangkan lubang sempitnya dan mendorong pelan-pelan organ intim bengkak binatang itu ke dalam area paling sensitifnya. An memasukkannya dengan susah payah karena ukurannya yang jauh lebih besar dari milik manusia.

“Kyaaaaa…!!!” An-chan menjerit waktu binatang itu mendesakkan organ reproduksinya lebih dalam ke gua sempit milik gadis bermata coklat itu.

Setelah An-chan diam beberapa saat –agar terbiasa dengan miss P jumbo Akamaru—An-chan mulai memompa keluar-masuk dildo hidupnya dari dan ke dalam area kewanitaannya. Meskipun air matanya menitik, si cantik An-chan sangat menikmati masturbasi menggunakan dildo jumbo milik kuda jantan kesayangan Tuan Besar Sanada. Oda tidak bisa terus-terusan membiarkan kunoichi binalnya menikmati seks tanpa campur tangannya. Oda memeluk An-chan dari arah belakang. Ia elus-elus penis tegangnya sebentar. Kedua tangannya kemudian membelah bokong seksi An-chan sampai rongga sempit merah berdenyut-denyut di antara buah pantatnya menyambutnya. Ia tancapkan barang kebanggaannya ke lubang belakang An-chan yang jadi makin sempit karena lubang vagina An-chan didesak penis si kuda jantan dari depan. Ia menyodomi dubur An-chan yang masih perawan.

“Jangaaaannn… ngaaahhkkk… ngaaahhkkk… aaakkhhh…” An-chan menangis dan memekik-mekik kesakitan.

Oda tak peduli. Ia terus melanjutkan aksi sodominya. Penisnya terasa nyaman sekali karena terjepit-jepit di dalam sana. Dubur An-chan yang sempit dengan beringas dipompa olehnya. An-chan cuma bisa menangis ketika pria yang lebih kejam dari binatang itu memompa lubang pembuangannya sambil meremas-remas payudara indahnya tanpa belas kasihan. Bandot tua itu tahan lama juga. Hampir setengah jam ia menyodok-nyodok dubur An-chan. Akhirnya si bandot tua itu memekik dan menumpahkan semua muatan penisnya ke rongga dubur An-chan bersamaan dengan Akamaru yang juga menumpahkan benihnya ke liang rahim An-chan. Cairan kental menetes-netes dari bokong dan vagina An-chan. Cairan cinta itu meleleh melumuri kaki jenjang sang kunoichi. Si tua itupun akhirnya tumbang. Ia beristirahat dengan bersandar ke sebuah pohon.

“Bersihkan!” perintahnya sambil mengangkang dan menunjuk benda hitam mengkerut penuh lelehan sperma di bawah perutnya. An-chan yang masih kelelahan merambat mendekatinya dan menjilati, menghisap-hisap, serta menelan seluruh lelehan spermanya. Lubang-lubang cinta An-chan sudah perih dan sakit karena digarap oleh seekor kuda jantan dan disodomi oleh seekor bandot tua.

Setelah menerima oral service dari An chan, lelehan sperma di penis si bandot tua itu berhasil dibersihkan. Kabar buruknya, si buyung bangun lagi!!! Si tua itu menyeringai mesum pada gadis belia bugil di hadapannya. Ronde selanjutnya pasti tak kalah menyeramkan dari permainan 4 set tadi. Si bandot tua yang telah pulih staminanya pun bangkit dari duduknya dan menerkam An-chan dengan buas sekali lagi.

“Aaaaaakkkkhhhhhsssss…..aaahhhkkkksss……aaahhhkkksss….!!!!!!” rintihan An-chan yang malang tak terdengar oleh siapa pun.

***

Saizo menggendong An-chan di punggung bidangnya. Tugas mereka mengantarkan Akamaru telah selesai. Mereka telah pulang kembali ke Nagano Selatan, wilayah kekuasaan klan Sanada. Pasar kecil yang mereka lewati begitu ramai. Para pedagang menawarkan berbagai macam barang pada siapapun yang lewat.

“Senpai, maaf ya. Gara-gara kakiku terluka Senpai harus terus menggendongku sepanjang perjalanan.” Kata An-chan.

“Iya, kumaafkan. Kamu ini berat sekali tahu.” Ledek Saizo sang provokator.

An-chan menjitak Saizo, “Menyebalkan!” katanya.

“Aduh, dasar wanita tak tahu balas budi! Kau balas air susu dengan air tuba.” Seloroh si Gingsul menyebalkan itu.

“Baiklah,… kubalas budi baikmu dengan dango ya?”

“Masa cuma dango?” tawar Saizo.

“Baiklah, Senpai boleh bermalam bersamaku dan kita akan,…” si geisha genit menggoda kakak seperguruannya.

Saizo menelan air liur mendengar perkataan An-chan. Mimpinya akan jadi kenyataan… “Apa yang akan kita lakukan?”

“…. mmmhhh…. menghabiskan sekeranjang dango, Senpai-ku sayang…. Hehehehehe…. “ An-chan tergelak-gelak karena berhasil mengerjai si pria kurus bergingsul nan sukebei (mata keranjang) itu.

Saizo shock, kalau di dalam manga Jepang langsung menangis deras, emoticon di bubble dialognya jadi seperti ini: T_T

“Mau tidak kubelikan dango Senpai? Mumpung aku sedang baik hati.” Tawar An-chan sekali lagi.

“Ya sudah, daripada tidak dapat apa-apa.” Jawab Saizo pasrah.

An-chan membeli beberapa tusuk dango. Ia memakannya dengan lahap di gendongan Saizo.

“Enak Senpai.” Ia mengunyah-ngunyah manisan itu dengan riang.

Wajah cantiknya menempel ke pipi Saizo, tangan kanannya menyodorkan tusuk dango yang baru ia makan satu potong ke depan bibir Saizo, “…mmm… nyam… nyammm…” ia beri isyarat agar Saizo juga memakan dango itu bersamanya. Mulutnya terlalu penuh untuk bicara. Saizo menggigit dan mengunyah satu potongan dango. An dan Saizo bercanda sambil makan dango di sepanjang jalan yang dikelilingi persawahan itu. An-chan memeluk leher Saizo dan menyandarkan kepalanya ke punggung pria yang sudah seperti kakak laki-lakinya itu,

”Senpai baik sekali,… Kalau saja aku punya ayah seperti Senpai…” bisiknya.

“Maaf ya jadi mengingatkanmu pada ayahmu,” kata Saizo.

“Bagaimana mungkin bisa ingat. Aku belum pernah melihat ayah-ibuku sama sekali. Aku tak tahu di mana mereka berada. Aku bahkan tak tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Sejak kecil aku hanya mengenal Rokuro-sensei sebagai pengganti ayahku dan Chihiro-dono sebagai pengganti ibuku.” An-chan bercerita panjang lebar.

“Berarti aku sedikit lebih beruntung darimu ya,” timpal Saizo.

“Ayah dan ibu Senpai masih hidup?”

Saizo menggeleng. “Mereka sudah lama meninggal. Meskipun begitu, aku masih sempat merasakan hidup bahagia bersama ayah dan ibuku.”

“Ya, aku iri pada Senpai… Ummm… Kenapa mereka meninggal?” tanya An-chan.

“Ayahku kalah bertarung dengan ninja Koga. Hattori Hanzo mengadu domba Iga dan Koga dengan sebuah pertarungan ambisius memperebutkan posisi sebagai pengawal pribadi Tokugawa. Setelah ayah meninggal, kami hidup terlunta-lunta. Kami dibuang dari Iga karena kemampuan mengerikan yang aku miliki menyerupai ilmu sesat aliran Koga. Sebenarnya cuma aku yang dibuang, tapi Ibuku pun ikut pergi meninggalkan desa Iga bersamaku. Ibu mati kelaparan dan kedinginan ketika kami berdua berlindung dari badai salju di sebuah kuil tua. Jenazah ibu melindungi dan menghangatkanku di malam berbadai salju itu. Sepeninggal ibu, aku mengemis dan mencuri untuk hidup di jalanan. Terkadang aku juga melakukan pertunjukan akrobat… Aku pada awalnya benci sekali dengan bakat alam mengerikan yang aku miliki, tapi belakangan ini aku baru menyadari bakat itu ada gunanya juga.” Pikiran Saizo menerawang jauh ke masa lalunya.

“Senpai, aku tak punya masa kecil kelam semacam itu. Yang aku tahu, tiba-tiba saja aku sudah jadi bagian dari Sanada Jūyushi. Masa kecilku begitu indah, biarpun aku tak punya orang tua… Tidak pahit seperti saat ini.” An-chan menitikkan air mata.

“An-chan, dango nya manis ya. Aku boleh minta lagi?” Saizo mengalihkan topik pembicaraan. Ia tak ingin bidadari mungil di gendongannya bersedih.

“Tidak boleh! Tinggal satu buah. Ini untuk Tuan Yukimura.”

“Yukimura?!…” Saizo tersenyum sinis mendengar nama perebut kesucian gadis pujaannya itu disebut.

“Bagaimana kabar Tuan Yukimura ya? Aku rindu sekali padanya.” Kata An-chan yang kembali riang.

“Ah, lagi-lagi Yukimura! Merusak suasana saja…” batin Saizo perih.

***

Seorang gadis cantik berambut panjang dengan kimono sutra mahal berlapis-lapis sedang duduk menenun di taman milik keluarga Sanada. Musim panas telah berlalu. Pohon-pohon momiji berwarna cerah menyemarakkan suasana taman, pertanda musim gugur telah datang. An-chan dan Saizo heran, mereka belum pernah melihat gadis cantik itu sebelumnya. Tak lama, pertanyaan di hati keduanya terjawab. Sanada Yukimura, yang tak tahu akan kedatangan dua ninja itu, memeluk sang gadis cantik berkulit pualam dari belakang. Bibirnya menelusuri leher jenjang sang gadis di pelukannya. Gadis itu meraih rambut Yukimura dan mereka pun berpagutan mesra.

Genggaman An-chan mengendor. Dango terakhir di tangannya meluncur jatuh ke tanah. Saizo menyadari apa yang telah terjadi. Ia menggendong An-chan pergi dari tempat itu secepat kilat.

***

An-chan yang patah hati bersandar lunglai sambil terisak-isak di bahu Saizo. Tangannya terkadang dipakai untuk menyeka air matanya.

“Ini,” Saizo menyodorkan selembar sapu tangan kepadanya.

An-chan mengambilnya. Ia menangis sekeras-kerasnya ditutupi sapu tangan itu.

Saizo meraih kepala An-chan dan menepuk-nepuknya pelan. Sinar bulan yang keperakan menerangi atap tempat kedua ninja itu melewatkan malam. Daun-daun momiji berguguran tertiup angin. Desiran angin musim gugur yang dingin menusuk hingga ke lubuk hati An-chan. An chan menangis sampai akhirnya jatuh tertidur karena letih. Saizo membaringkan gadis mungil itu ke atas pangkuannya. Ia pergunakan jubah terluarnya untuk menyelimuti bidadari cantiknya yang sedang terluka itu. Jinpachi dan Yuri tiba-tiba sudah berada di sebelah Saizo.

“Senpai sudah pulang? Mengapa tidak lapor pada Tuan Masayuki Sanada?” tanya Jinpachi.

“Ssstt… Jangan bicara keras-keras. Besok pagi saja aku melapor.” Jawab Saizo.

“Tadi Tuan Besar sudah menerima surat dari utusan Oda. Oda bilang ia sangat menyukai pemberian dari Tuan Besar. Syukurlah, tugas kalian berhasil.” Tambah Yuri.

“Siapa gadis yang tadi bersama Yukimura?” selidik Saizo.

“Oh ya, kami lupa. Ayah gadis itu seorang saudagar dari Kii. Ia ingin berdagang di sini. Untuk memperlancar diplomasi dengan Tuan Besar, ia mengirim putri keduanya untuk jadi pelayan keluarga Sanada. Ternyata Tuan Muda jatuh hati pada gadis itu dan ingin menikahinya. Tepat di malam perayaan tanabata, Tuan Muda Yukimura menikahi gadis itu. Pestanya meriah sekali, aku saja sampai repot sekali di dapur.” kata Yuri bersemangat.

“Dia cantik ya Senpai… Tidak heran Yukimura begitu tergila-gila padanya. Tak lama lagi ia pasti sudah mengandung… Tuan Muda rajin sekali bermalam di kamarnya dan…” Ujar Jinpachi dengan mimik mesum.

“Apa dia lebih cantik dari An-chan?” pancing Saizo.

“Hahahaha… Wanita itu jauh lebih dewasa dari An-chan…” jawab Yuri.

“Benar, gadis kasar seperti An-chan… mana bisa dibandingkan dengannya.” Jinpachi menambahi.

“Bagaimanapun An-chan lebih pantas untuk bersama Yukimura.” Kata Saizo lirih.

“Senpai, kau salah makan ya?” ledek Yuri.

“Ah, Senpai… Kenapa berkata begitu? Bukankah Senpai juga menyukai An-chan?” kata Jinpachi lagi.

“Tapi An lebih banyak berkorban untuk keluarga Sanada… Ia lebih pantas mendapatkan hati Yukimura.” Saizo berargumen.

“Tidak mungkin, An cuma kunoichi… keluarga Sanada memeliharanya hanya untuk menjadikannya seorang pembunuh dan pelacur yang bisa memanipulasi perasaan lawan.” Kata Yuri.

“Benar, Senpai. An-chan tak boleh punya perasaan seperti kebanyakan wanita lemah. Ia dilahirkan hanya untuk membunuh dan memanipulasi.”tambah Jinpachi.

“Aku tahu… tapi bukankah Sanada mencintai An-chan?”kata Saizo lagi.

“Mana mungkin Senpai, kalau ia mencintai An pasti ia takkan mengirim An pada Oda Nobunaga.” Kata Yuri.

“Iya, aku tak sengaja mencuri dengar waktu itu. Yukimura yang mengusulkan pada Rokuro-sensei agar An-chan memakai taktik psikologis dalam misi ini. Rokuro-sensei setuju untuk memerintahkan agar An-chan memakai apapun, termasuk tubuhnya, untuk memperlancar negosiasi kita.” kata Jinpachi.

Saizo kaget mendengar keterangan Jinpachi. “Kenapa tak kau katakan padaku?!” Saizo dengan marah menarik kerah kimono Jinpachi.

“Ssseeenn… pai, jangan!” cegah Yuri.

“Senpai, hentikan! Aku juga tak tahu… waktu itu kalian sudah pergi dan Rokuro-sensei mengirimkan pesan berisi tugas rahasia itu pada An dengan seekor merpati.” Jinpachi membela diri.

An-chan yang ternyata menguping pembicaraan mereka membuka matanya, menyingkap jubah Saizo dari atas tubuhnya, dan lompat dari atap. Ia berlari ke kamar Yukimura dengan tertatih-tatih karena luka di kakinya. Ia memang telah menerima surat perintah itu. Tapi semua ini pasti tidak benar. Yukimura tak mungkin tega mengusulkan untuk menjadikannya pelayan nafsu si penguasa Owari! Yukimura tak mungkin melakukan itu padanya, karena Yukimura pun pastilah sangat mencintainya! Wanita busuk itu tak boleh memiliki Tuan Mudanya setelah begitu banyaknya An berkorban demi Tuan Mudanya. Malam ini juga, An-chan harus melenyapkan wanita busuk itu untuk selamanya. An yang terbakar amarah tak lagi peduli pada luka di kakinya. Ia berlari dan terus berlari. Saizo berhasil mengejar An dengan mudah dan menahannya sebelum sampai ke pintu geser kamar sang tuan muda.

“Apa yang kau lakukan?” Saizo menahan tubuh An-chan yang kini telah memegang sebilah jutte (pisau).

“Biarkan aku membunuh wanita sialan itu.” Ia meronta-ronta.

“Hentikan!”perintah Saizo.

“Gara-gara dia Tuan Yukimura tak mempedulikanku…”

“An-chan! Berhenti!” perintah Saizo.

“Tidak! Aku… aku sudah lakukan semuanya untuk Tuan Yukimura… Mana bisa wanita itu merebut dia dariku.”protes An-chan.

“An-chan, hentikan!”

“Aku sudah berikan kesucianku pada Tuan Yukimura… aku sudah lakukan semua hal untuknya… aku sudah begitu kotor… aku tidur dengan Oda agar diplomasi kita berhasil… hiks hiks…. Pria bajingan itu bahkan memaksaku untuk bercinta dengan Akamaru… hiks hiks…” An-chan menangis histeris.

“Apa yang baru saja kau katakan?!” Saizo terbelalak mendengar pengakuan An-chan.

An-chan menggeleng.

“Katakan sekali lagi!” ia goncang-goncangkan tubuh An-chan, memaksanya untuk bicara.

“Akuuu… pura-pura mau jadi mata-mata Oda… pada awalnya aku berniat membunuhnya di hutan itu… tapi, tapi, aku kalah dan aku terpaksa melayani nafsu bejatnya… Itulah yang diperintahkan Rokuro-sensei padaku, bunuh Oda atau tidurlah dengannya, lakukan segala cara untuk membuat penguasa Owari itu percaya bahwa keluarga Sanada telah menyerah padanya…” tangis An-chan tumpah seketika.

Saizo memeluk An-chan yang menangis sejadi-jadinya. Jari-jarinya mengepal geram karena amarah.

Betapa teganya Yukimura pada gadis mungil yang selalu dipujanya ini, Setelah puas menikmati kegadisannya, ia campakkan An-chan. Bajingan itu bahkan tega memperalat An-chan demi kekuasaan keluarganya. Tiba-tiba dari balik pintu geser berlapis kertas yang berjarak beberapa meter dari mereka terdengar lenguhan nikmat seorang wanita “aaahhhhh….. nngaaahhhkkk….. aaahhhsshhh…..” Bajingan itu bahkan masih sempat-sempatnya berasyik masyuk dengan mantan pelayannya, membiarkan perasaan seseorang yang sangat mencintainya hancur berkeping-keping. Mendengar lenguhan nknmat dari dalam bilik berjendela kertas itu, An-chan menangis semakin keras, badannya terguncang-guncang hebat. Kepalan tangannya meninju dada Saizo sekeras-kerasnya. Setelah puas melampiaskan amarahnya, An-chan pergi meninggalkan tempat itu. Ia tak tahan untuk berlama-lama di tempat itu.

Saizo berlari mengejarnya.

An-chan masih terus menangis. “Jangan ikuti aku!” bentaknya dengan suara terisak-isak pada Saizo.

Saizo membiarkan An-chan pergi sendiri untuk meneneangkan diri. Saizo memandang iba pada An-chan yang sedang berlari terseok-seok meninggalkan mansion keluarga Sanada. Ia biarkan bidadarinya yang terluka berlari meninggalkannya.

***

Pulang dari sebuah kedai minuman keras, An-chan terhuyung-huyung memasuki sebuah kamar. Ia benar-benar berada di bawah pengaruh minuman keras. Di kamar itu ada seorang lelaki yang sedang meringkuk di atas futonnya. An-chan tak memedulikan keberadaan lelaki itu. Tubuhnya jadi panas akibat terlalu banyak menenggak sake. An-chan tanggalkan seluruh kain yang ada di tubuhnya. An-chan yang telanjang bulat tanpa pikir panjang meringkuk masuk ke selimut pria itu karena rasa kantuk dan pusing yang menderanya. Ia peluk tubuh pria itu dari belakang. Pria itu berbalik dan terperangah melihat tubuh mulus An-chan tergolek lemah tanpa dilapisi sehelai benang pun. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Di bawah selimut tebalnya dan remang-remang cahaya lilin, ia nikmati tubuh molek An-chan.

Ia cumbui gadis cantik di hadapannya. Ia kulum-kulum bibir mungilnya. Ia permainkan lidah gadis cantik itu. Rasa manis sake terasa sekali olehnya. Sama seperti sake, kecantikan dara belia itu teramat memabukkan. Puas bermain-main dengan bibir gadis cantik itu, lidah sang pria menelusuri dagu, leher, terus ke belahan dada, perut, dan daerah terlarangnya. Geisha cantik itu pasrah waktu lawan mainnya menggelitiki tepian gua berbulu tipisnya dengan lidahnya. Lidah liarnya menelusup lebih dalam dan mengebor kawah merah merekah milik sang gadis. Ujung lidah itu memainkan kelentit An-chan yang dipasangi rino-tama. “Cring… cring…cring…” semakin cepat irama dentingan rino-tama yang tergesek-gesek lidah si pria, makin intens pula rasa geli-geli nikmat yang dirasakan An-chan. Pria itu mengangkat kaki mulus An-chan ke bahunya. Ia perdalam penetrasi lidahnya ke lubang rahasia milik gadis berkulit mulus itu. An-chan yang setengah sadar mendesah-desah geli. Cairan cinta melumasi kawah merekahnya. Bak kehausan lelaki itu menyeruput cairan asin beraroma khas yang dikeluarkan bidadari binal itu. Ia lebarkan celah-celah antara dua paha An-chan, meletakkan salah satu kaki An-chan ke atas futon, mendorong masuk seluruh kejantanannya ke vagina An-chan, dan menegakkan kaki kanannya sebagai tumpuan. Ia bor rongga peret gadis cantik yang merekah di hadapannya. Ia mainkan payudara berukuran 36 B milik si gadis berperut rata itu sambil mempercepat laju pompaannya.

“Plokkk… plokkk… plokkk… plokk…” lalu “plokkk… plokkk… plokkk… plokkk….” kemudian “plokk… plokk… ploookk… plokkk…” dan “plokk…. plokk… lokkk… plokk…” hingga… “plokkk… plokkk…. plokkk… plokkk… plokk…” (lama banget sih ga selesai-selesai! Ditinggal tidur dulu ah sama yang ngetik :-P)

Biarpun kawah An-chan sudah basah kuyup, pria itu masih saja terus memompanya. Bosan dengan posisi misionari yang dimodifikasi itu, ia cabut penis tegangnya. Ia kulum-kulum, jilat-jilat, hisap-hisap, dan gigit-gigit kedua puting berujung pink dan berareola kehitaman milik An-chan secara bergantian. Pria kekar berperawakan sedang itu menepuk bokong An-chan, memerintahkannya untuk tengkurap dan menumpukan kedua kaki dan tangannya ke lantai. Tubuh An-chan membentuk posisi yoga yang disebut cat position (mirip-mirip nunggingnya doggy style gitu deh). Pria itu ingin posisi bercinta yang lebih menantang. Sepasang payudara An-chan menjuntai indah tertarik gaya gravitasi (wkwkwk… kaya apelnya Newton, jatuh tertarik gaya gravitasi ^^`). Sang pria mengangkat kedua kaki An-chan dan membiarkan kunoichi cantik itu menahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya. Ia renggangkan paha mulus An-chan dan ia dorong kuat-kuat Mr. P nya hingga melesak seluruhnya ke dalam anus sang geisha yang sempit. Jadilah posisi… (tebak posisi apa coba?)… Ya, betul! Posisi becak-becakan (gyahahaha… nggak ding nama keren posisi ini sih wheelchair position). Pria itu lebih mudah mengontrol penetrasinya dengan posisi ini. Puyeng-puyeng dah tu si kunoichi! Gimana nggak pusing, aliran darahnya berbalik mengalir ke kepala! So, don’t try this at home…

Ia pompa terus, terus, dan terus, sampai… air maninya muncrat ke dubur An-chan. Ia jatuh terduduk karena kedua lututnya lemas, An-chan yang otot-otot tangannya jadi kaku pun terhempas ke atas futon. Keduanya terengah-engah. Pria itu menjilati sela-sela paha An-chan yang tidur dalam posisi tengkurap, lidahnya naik menelusuri bokong padat An-chan, punggung, leher, lalu bibirnya. Kedua insan itu mempraktekkan French Kiss yang panas. Ia lalu menyuruh An-chan tidur telentang lagi dan keduanya ber-sashimi for two sampai cairan cinta mereka muncrat membasahi wajah dan bibir lawannya… Cukup dua ronde saja kali ini, jempol penulis bisa bengkak berdenyut-denyut nanti kalau mereka kelamaan ML-nya.

***

“Selamat pagi, Sayang.” Kata seseorang waktu pintu geser itu terbuka.

Sinar matahari menyilaukan mata An chan. Ia terbangun dan melihat sosok kemayu Miyoshi Seikai di depannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?!” bentak Seikai.

An chan baru menyadari kalau tubuhnya telanjang bulat. Ada cairan asin lengket di bibir, rambut, dubur, dan juga vaginanya. Seketika ia sadar kalau kemarin malam ia

telah bercinta dalam keadaan mabuk dengan seseorang. Tapi siapa? An-chan sama sekali tak ingat siapa pria yang semalam membuang sperma berlebihnya ke dalam rongga rahimnya. Pria yang tidur di sebelahnya terbangun. Ia juga bangun dalam keadaan telanjang bulat seperti An-chan. Hanya secarik selimut yang menutupi tubuh-tubuh polos kedua manusia nista itu. An-chan terbelalak kaget, ternyata Sarutobi Sasuke-lah yang telah menidurinya tadi malam!

“Ohayō…” ucapnya datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Kau lumayan juga tadi malam.” Tambahnya.

Miyoshi Seikai terbakar api cemburu karena kekasih gay-nya yang juga biseks itu tidur dengan kunoichi ingusan semacam An-chan. Parahnya lagi, Sasuke menyukai service plus plus si perempuan jalang nan dungu itu.

“Pelacur! Kubunuh kau!” Miyoshi Seikai telah berancang-ancang untuk melontarkan jarum besinya pada An-chan.

“Bergeraklah dan kau akan mati!” sebilah daisho sudah terhunus ke leher Miyoshi Seikai.

Sarutobi Sasuke cuek. Ia ambil pakaiannya sendiri dan bangkit dari futon tempat ia menggauli An-chan semalam. Ia tak ambil pusing dengan pertikaian tiga ninja yang disebabkannya. Ia duduk tenang dan menonton drama satu babak yang sayang untuk dilewatkan di hadapannya.

“Senpai,…”An-chan bahagia, dewa penyelamatnya telah datang menolongnya.

Saizo memandang An-chan sekilas, memalingkan wajahnya, dan melempar jubah luarnya ke pangkuan An-chan.

An chan meraih jubah hitam Saizo dan memakainya dalam sekelebat mata.

“Ayo kita pergi dari sini!” Ajak Saizo

To be continued…

By: Shirahime

 

“Kokuro-senpai, mengapa Saizo-senpai begitu membenci ninja Koga?” tanya Kakei Jūzo sambil memakan kue beras di tangannya.

Mochizuki menenggak sakenya dan menjawab. “Ayah Saizo meninggal dikalahkan ninja Koga dalam duel perekrutan menjadi pasukan ninja Tokugawa.”

“Ya, dendam berabad-abad tak akan hilang dalam sekejap,..” gumam si tua Uno.

“Dendam?” Kakei bertanya heran.

“Ya, kami selalu bersaing memperebutkan kepercayaan Tokugawa. Tapi ternyata Tokugawa malah menghancurkan desa kami karena takut para ninja yang tak tergabung dalam pasukan Hattori memihak seteru Tokugawa. Hattori, yang lahir dan besar di Iga dan biasa berbagi onigiri denganku, sudah tak peduli lagi pada saudara-saudara sedesa kami. Ia telah dibutakan kesetiaannya pada Tokugawa dan ikut merencanakan penghancuran desa Iga Tsubagakure dan Koga Manjidani. Sahabatku meninggal karena mengorbankan jiwa untuk menyelamatkan sisa-sisa penghuni Tsubagakure…” Si tua Rokuro berkisah, mata tuanya berkaca-kaca memantulkan bayangan bulan penuh yang bergelayut di angkasa.

“Para ninja Koga mau bergabung dengan kita karena para Koga itu juga punya dendam pada Tokugawa?” Kakei memastikan.

“Ya,… musuh dari musuhku adalah sahabatku kan?” jawab Mochizuki filosofis.

“Ah, di sini rupanya kalian.” Jinpachi yang tiba-tiba datang menyela pembicaraan.

“Ya, melihat bintang sambil menikmati teh. Ini.” Uno menuangkan secangkir teh seduhannya dan menawarkannya pada Jinpachi.

Jinpachi meminumnya sedikit dan berkata, ”Ah ya,… ini Tanabata ya… apa kalian yang memasang teru-teru bozu?”

“Bukan,… Miyoshi Isa yang tadi melakukannya.” Ujar Uno Rokuro.

“Tadi kalian membicarakan para ninja Koga ya?… Ngomong-ngomong, apa semua Koga punya kelainan seksual?” tanya Jinpachi penasaran.

“Maksud Senpai?” Kakei si lugu bertanya.

“Aku dengar Sarutobi Sasuke itu biseksual, Miyoshi Isa lebih tertarik pada binatang daripada wanita… ya, aku pernah dengar gosip kalau ia suka menyetubuhi kuda-kuda betina keluarga Sanada… dulu waktu masih jadi biarawan saja kudengar ia lampiaskan nafsunya pada hewan-hewan peliharaan di kuilnya, dan Seikai, kalian tahu sendiri lah, homo tulen.” Jinpachi mulai bergosip.

Rokuro bersaudara terbahak-bahak, Kakei cuma bergidik ngeri.

“Ya, ya, ya… hal seperti itu cepat sekali menyebar ya Senpai.” ujar Mochizuki.

Uno mengangguk. “Iya, Sasuke memang biseks… Ia belajar ilmu sesat perubahan menjadi binatang… dan sebagian besar sifat binatang tertinggal padanya, seperti sifat hermaprodit itu di antaranya… Seikai pun belajar ilmu terlarang yang seharusnya hanya boleh dipelajari wanita, akibatnya orientasi seksnya berubah… Sedangkan Miyoshi Isa, itu cuma gosip yang dibesar-besarkan… Miyoshi mantan biarawan dan pengurus binatang yang baik. Ia ahli ramuan terbaik. Dulu ia bereksperimen dengan ramuan kuno pembuat awet muda ala Koga, namun racikannya belum tepat dan ramuan itu malah membuatnya mati rasa pada wanita, itulah yang benar… Di antara para Koga, Isa lah yang paling bersahabat.” komentar Uno.

“Memangnya Senpai tadi dari mana?”tanya Kakei pada Jinpachi.

“Menunggu Yuri berjam-jam di dapur. Semula aku ingin mengajaknya ke rumah minum teh. Gara-gara semangka sialan itu ia melupakan rencananya.” keluh Jinpachi.

“Semangka?” Uno jadi heran.

“Iya, di tengah jalan tadi kami bertemu Nenek Horii. Ia malah memberi Yuri sebuah semangka karena Yuri sering belanja di tempatnya. Yuri pun bukan main senangnya dan melupakan para yūjo (hostes) cantik di kedai teh. Ia bergegas pulang dan meracik semangka itu untuk dijadikan makanan enak katanya. Kurasa dia juga sama dengan para Koga itu, ia juga mengidap kelainan orientasi seksual… Ia pecinta bahan makanan yang mengerikan! Ia lebih suka semangka daripada wanita.” kata Jinpachi sebal.

Suasana jadi riuh-rendah gara-gara omelan Jinpachi yang konyol.

“Kenapa tidak mengajak Saizo?” tanya Mochizuki.

“Tidak bisa,… Biarpun pikirannya terkadang hentai, Saizo-senpai tidak suka ocha-ya (kedai teh). Ia langsung menutupi sekujur tubuhnya dengan mōfu (selimut Jepang) waktu aku datang mengajaknya mencari yūjo (pelacur) dan pura-pura mendengkur. Dasar pengkhayal…” ujar Jinpachi lagi.

“Mungkin dia benar-benar lelah.” Kata Mochizuki.

“Hah? Memakai mōfu tebal di hari panas bulan Juli begini? Hanya orang kurang waras yang melakukannya senpai.” Jinpachi berargumen.

“Darimana kau tahu ia suka berpikir hentai?” tanya Uno penuh selidik.

“Waktu dulu aku menyelinap ke kamarnya, aku pernah menemukan sebuah shunga (lukisan erotik) di lipatan futonnya… Ia pasti pura-pura tidur sambil mengamati buku kumpulan shunga” Bisiknya.

Uno menahan tawa. “Oh iya,… aku lupa kalau kau lah peraih nilai tertinggi shinobi-iri di antara teman-temanmu. Lain kali sepertinya kita semua harus lebih waspada pada kelihaian menyelinap Jinpachi ya hahahahaha.”

“Iya. Bahaya kalau sampai uang dua ryo terakhirku pun ia curi hehehehe…” ujar Mochizuki.

“Senpai, shunga itu apa sih?” tanya Kakei si lugu dengan tiba-tiba.

“Sudah, sudah, ayo makan kue beras saja…” Mochizuki mengalihkan pembicaraan.

“Kau juga ingin melihat bintang sambil mendengar Sensei mendongeng tentang Tanabata ya Senpai?” tanya Kakei lagi.

“Tidak,… aku ke sini justru ingin mengajak kalian ke hanamachi… Apa ada yang mau menemaniku? Katanya malam ini ada debut pertama imouto (adik asuh) nya Chihiro-dono. Pasti maiko (geisha magang) itu secantik onee-san (kakak asuh) nya. Ada yang tertarik?” Jinpachi berpromosi.

“Ah, aku lebih baik minum sake di sini saja.” Kata Mochizuki.

“Aku terlalu tua untuk berada di sana Jinpachi,” kata Uno Rokuro.

“Apa dia benar-benar cantik?” Kakei yang masih bocah, usianya masih sekitar 14 tahun, bertanya penasaran.

“Ayo ikut aku dan kita lihat langsung seberapa cantiknya imouto Chihiro-dono.”ajak Jinpachi.

“Baik, aku ikut.” Kakei tertarik.

“Hei, jaga bocah itu baik-baik ya Tuan Hidung Belang.” pesan Mochizuki.

“Benar, jangan kau biarkan ia keluyuran sendirian di sana, BERBAHAYA!” tambah Uno.

“Beres Sensei!” ujar Jinpachi sambil mengerling genit.

*****************************

Yoshiwara, distrik lampu merah Edo, memang sangat ramai malam ini. Para samurai mondar-mandir di jalan dan beberapa di antaranya singgah di ochaya-ochaya berbagai kelas di tempat itu. Pelacur biasa (yūjo) dan para pelacur kelas atas yang biasa disebut oiran berdandan menor memenuhi rumah-rumah minum teh. Jika dibandingkan dengan para oiran, penampilan geisha agak lebih sederhana. Namun, geisha berperilaku dan bertutur kata lebih elegan dibanding para pelacur kelas atas itu. Jinpachi dan Kakei duduk di atas zabuton (bantal duduk) di salah satu ochaya. Yūjo murahan menemani mereka. Para wanita nakal itu berharap Jinpachi atau Kakei mau menjadi konsumennya setelah mereka temani minum teh. Wanita langganan Jinpachi yang berparas lumayan manis pun terlihat sedang sibuk bermain tebak-tebakan dengan sekelompok saudagar kaya di sudut lain ochaya. Gadis-gadis lain yang lebih cantik dan tentu saja tarifnya lebih mahal dari si Manis tentu saja sudah dibooking oleh para pengunjung lain… Jinpachi yang tak punya pilihan terpaksa rela ditemani para yūjo murahan nan agresif di sekelilingnya.

“Aduh,… temanmu imut sekali, Jinpachi-sama.” Satu di antara para pelacur itu meraba lutut Kakei.

Kakei bergidik ngeri dan berusaha menepis tangan-tangan gatal para pelacur yang mencoba menjamahnya.

“Kudengar Chihiro-dono akan membawa imouto-san nya ya? Di mana aku bisa melihatnya?” tanya Jinpachi.

“Mmmhh… kenapa sih kalian selalu menanyakan tentang barang baru dan melupakan yang lama?” si pelacur mencoba merayu.

“Tidak, kami hanya penasaran saja. Mana mungkin kami ikut menawar barang mahal seperti dia,…” ujar Jinpachi.

“Di sana.” Si pelacur menunjukkan sebuah ruangan besar di ochaya itu. “Kalian bisa melihat debut perdana nya di dalam sana. Kurasa itulah alasan mengapa ochaya begitu ramai malam ini.” komentar si pelacur lagi.

“Terima kasih, Cantik. Ini sedikit uang untukmu.” Kata Jinpachi sambil bangkit meninggalkan Kakei yang masih diserbu para wanita jalang.

Jinpachi masuk ke ruangan itu. Kakei yang dandanannya kini jadi berantakan ikut berlari ketakutan menyusul Jinpachi ke dalam ruangan itu.

***********************

Chihiro-dono memainkan shamisennya dan seorang gadis berbedak tebal menari memainkan kipasnya. Kepala sang gadis disanggul ke atas, bibirnya merah menyala, ada bagian tak berbedak di antara dahi dan rambutnya… si gadis cantik jadi seperti memakai topeng tari Noh. Kosodenya berwarna putih, kimononya berwarna biru muda cerah dengan lengan panjang menjuntai ke lantai… pertanda mizuage (keperawanan)nya belum hilang. Rambutnya bergaya wareshinobu dengan kanzashi khas musim panas. Tsuyushiba kanzashi yang berbentuk menyerupai embun di atas rerumputan menjadi salah satu penghias sanggulnya. Kepandaiannya menari, keanggunannya waktu bergerak, dan obinya yang diikat di depan membedakan dirinya dengan para oiran. Ia adalah seorang maiko yang benar-benar cantik. Ia sangat cocok menjadi adik kandung Chihiro-dono. Pesona sang maiko terletak pada mata bening misterius berwarna coklat mudanya. Petikan shamisen Chihiro berhenti, sang gadis membungkuk elegan memberi hormat, diikuti tepuk tangan dan siulan para penonton debut pertamanya.

“Dōmo arigatō gozaimasu…” ucapnya lembut.

“Chihiro, siapa namanya?” tanya seorang samurai tua.

“Baik, imouto-chan, sebutkan namamu.” perintah Chihiro.

“Shirayuri…” jawabnya merdu.

Semua hadirin berdecak kagum melihat keelokan wajah dan tutur kata sang maiko.

“…suaranya tidak begitu asing,” pikir Jinpachi.

***********************

Pagi berikutnya…

“Bagaimana pengalamanmu tadi malam anak muda? Sudah jadi lelaki sejati kau, hah?!” tanya Jinpachi pada Kakei

Kakei malah berteriak jengkel, “Mereka benar-benar liar! Aku tak suka pada mereka. Aku lebih baik bersama si cantik Shirayuri daripada harus melewatkan malam bersama wanita-wanita jalang yang semalaman mengejarku. Aku harus memanjat atap ochaya agar mereka berhenti mengejarku!”

Jinpachi tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa ribut sekali sih?” tanya Saizo yang baru saja selesai mandi. Rambutnya masih ia biarkan terurai dalam keadaan basah, yukatabira (kimono mandi) bagian atasnya pun masih ia biarkan terbuka.

“Saizo-senpai, aku kapok pergi ke ochaya. Jinpachi-senpai hanya tertawa terbahak-bahak waktu aku berjuang melepaskan diri dari para wanita brutal itu.”

Saizo menahan tawanya, “kalau kau tahu kedai teh itu begitu, kenapa kau ke sana?”

“Aku penasaran…” jawab Kakei singkat.

“Lain kali aku tak kan membawa anak manja ini ke sana lagi, Senpai. Aku malu sekali.” Kata Jinpachi. “Pasti lebih asyik kalau Senpai yang ada di sana bersamaku. Tapi semalam Senpai sedang apa ya?” tanya Jinpachi.

“Uuummhh,… aku sedang membaca… beberapa gulungan perkamen… lalu tidur.” Saizo beralasan. (Tentu saja ia tidak melanjutkan bahwa dalam tidurnya ia bermimpi bercinta dengan An-chan yang cantik).

“Setelah itu?” Jinpachi menginterogasi.

“Ya aku tidur…”

“Aku bisa mencium kebohongan…” desis Jinpachi.

“Aku tidak bohong!” Saizo berkelit.

“Kalau cuma tidur biasa… kenapa kau jemur futon (kasur)mu? Tumben,…” sindir Jinpachi.

“Teh hijauku tumpah ke kasur waktu aku membaca.”

“Oh… teh hijau? Kenapa nodanya tak berwarna hijau?” Jinpachi mencibir.

Saizo memalingkan wajahnya yang berubah merah.

“Pasti kasurmu basah gara-gara An-chan kan?” Jinpachi mengerling-ngerling menjengkelkan.

“Kok bisa? Waktu tidur An-chan menyiram Saizo-senpai dengan air ya?” Kakei bertanya lugu.

“Pasti gara-gara An-chan, ayo ngaku!” desak Jinpachi sambil mengacuhkan Kakei yang penasaran sendiri kenapa futon Saizo harus dijemur gara-gara An-chan.

“TIDAK!!!” tapi mata Saizo tak bisa berbohong.

“Bwahahahaaahaa… masih mau berkelit… Jangan bohong! Aku tahu kau jatuh cinta pada An-chan.”

“Mana mungkin,…”

“Aku bisa lihat kau kehilangan konsentrasi waktu rambut An terurai, Senpai. Tanganmu yang bergetar waktu menyentuh kulit lembut An-chan tak bisa berbohong.” Jinpachi berakting seolah-olah tangannya gemetar seperti tangan Saizo waktu di dōjo.

“Aku tak mengerti apa maksudmu, Jinpachi. Permisi!” Saizo membentak-bentak salah tingkah sambil pergi menghindar.

“Saizo-Senpai dan An-chan… ada apa sih Senpai?… Mereka kan tak pernah akur.” Komentar Kakei.

Jinpachi menatap lekat Kakei dan berkata sok bijak, “Jika kau beranjak dewasa nanti, kau pasti akan tahu apa arti cinta sesungguhnya, anak muda.”

************************

An Chan

Ekubo (yang pernah nonton Memoirs of a Geisha pasti tahu kue beras tanda seorang maiko sudah cukup umur untuk ditawar mizuage-nya ini) di telapak tangan An-chan adalah ekubo terakhir yang harus disampaikannya pada pria yang ia beri kehormatan untuk menawar keperawanannya. Chihiro-dono menyuruhnya untuk memberikan ekubo terakhirnya pada Tuan Masayuki Sanada agar ia benar-benar bisa dibebaskan dari hutang-hutangnya pada okiya (rumah penampungan geisha) nya dan mengabdi sepenuhnya pada keluarga Sanada. Ingin rasanya ia membantah onee-san nya itu. Ia ingin sekali memberikan ekubo ini pada sosok lelaki idolanya, Yukimura Sanada. Air mata An-chan perlahan-lahan membasahi pipinya.

“Hei, kamu menangis ya?”kata Saizo yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya.

An-chan menyembunyikan ekubo itu dari Saizo sambil menggeleng dan pura-pura tersenyum.

“Kau jelek sekali kalau menangis.” ledek Saizo.

Tak seperti biasanya, An-chan hanya mengacuhkannya.

“Kalungmu bagus ya, sejak kapan kau punya atribut Iga begitu?” Saizo mengalihkan topik pembicaraan.

“Bukan urusanmu!” jawab An ketus.

“Eh, ini pasti masalah serius… Ceritakan padaku.”desak Saizo.

“Tidak apa-apa,” ujar An lirih.

“Jangan membohongiku, An-chan… Siapa tahu aku bisa membantu.”

Tangis An-chan meledak. An tidak mampu menyembunyikan masalahnya dari Saizo lagi. Ia memeluk Saizo erat dan menangis tersedu-sedu.

Saizo menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya.

“Aku… tidak mau tidur dengan laki-laki yang tak pernah aku cintai…” tangis An-chan meledak.

“Apa maksudmu?”

“Seorang kunoichi harus melakukan itu dalam tugasnya kan?”

“Kau kan laki-laki, tidak mungkin jadi kunoichi.” goda Saizo.

“Tidak lucu!!” An tampaknya memang benar-benar serius.

“Mmmm…” Saizo kehilangan kata-kata.

“Iya ‘kan Senpai?” desaknya lagi.

“Tidak… aku tak akan membiarkan itu terjadi padamu.” Saizo menghibur An-chan.

“Sungguh?”An-chan memastikan.

Saizo mengangguk pasti.

“… aku rela kalau yang mengambilnya adalah pria yang paling aku cintai.” tambah An-chan sambil memeluk Saizo.

“Siapa dia?” Saizo memastikan.

“Mmmm…” wajah An-chan bersemu merah.

“Aku?”kerlingnya jahil.

“Hahahaha… Senpai memang orang paling konyol sedunia! Itulah kenapa aku sayang sekali pada Senpai…”

Kali ini pipi Saizo yang dihiasi semburat kemerahan.

“…Aku menyayangi Senpai seperti kakak laki-lakiku… Aku percaya Senpai pasti bisa menjagaku sampai aku menikah dengan orang yang paling aku cintai.” mata bulat An menatap lugu Saizo. Gadis itu tersenyum senang di hadapannya.

“Orang yang kau cintai itu… Yukimura Sanada maksudmu?” pancing Saizo.

An-chan mengangguk. “Apa menurut Senpai Tuan Yukimura akan menjadi milikku suatu hari nanti?” An-chan menatapnya sambil tersenyum.

“Mmmm… ya.” Jawab Saizo pahit.

**************************

“Tuan Besar Sanada, Hamba perkenalkan adik asuh Hamba. Namanya Shirayuri. Dia sangat pandai menari. Semoga Tuan Besar berkenan menikmati tarian adik Hamba ini.” kata Chihiro pada Masayuki Sanada.

Pria botak gemuk bermata sipit dan berkulit pucat itu mengangguk-angguk penuh martabat. “Baiklah, perlihatkan tarian terbaikmu, nona maiko (geisha magang). Sebab aku tidak suka tarian yang standar dan tidak bermutu.”

Berbeda dengan putra bungsunya yang tampan, Tuan Besar Yukimura memiliki sorot mata dingin dan watak yang keras. Shirayuri yang malam itu mengenakan kimono terbaiknya mementaskan sebuah tari kipas. Kipas merahnya kontras dengan kimono hijau muda yang dipakainya malam itu. Mata indahnya yang berwarna kecoklatan bak hazel nut menenggelamkan hati pria mana pun yang menatapnya. Ketika ia berbalik, lengan panjang kimononya berkibas anggun dan kerah rendah kimononya mengekspos tengkuk mulus bercat putihnya nan sensual. Mata Masayuki berhenti berkedip. Ia begitu terpana akan keelokan gadis muda yang lebih pantas jadi menantunya itu. Tubuhnya berliuk indah, bibir mungilnya yang tipis merah muda begitu ranum dan menggoda. Karena asyik mengamati kecantikan Shirayuri, tak terasa gadis itu membungkuk memberi hormat menyudahi tariannya. Ia duduk dengan anggun di sebelah Tuan Besar Sanada dan menuangkan pot kecil berisi sake ke gelas Tuan Besar Sanada. Ketika menuangkan sake, ia mempraktekkan trik umum pemikat lelaki yang biasa dilakukan oleh para geisha profesional. Ia mengekspos pergelangan tangan mulusnya sambil menyentuhkan pahanya ke paha Masayuki.

Ia pura-pura tak sengaja menyentuh bagian tubuh Tuannya dan mengucapkan “Maafkan kelancangan Hamba” sambil menunduk tersipu malu.

Keluguan si Cantik membuat Tuan Masayuki semakin gemas padanya. Masayuki langsung menggamit dagu Shirayuri untuk mengamati keelokan parasnya lekat-lekat. Shirayuri bergidik, ia takut Tuan Besarnya akan bertindak lebih jauh lagi. Chihiro berdehem untuk menyadarkan Tuan Masayuki dari pesona Shirayuri. Masayuki langsung menguasai dirinya dan melepaskan tangannya dari dagu Shirayuri. Ia memanggil pengawalnya untuk membawakannya sebuah kotak kayu. Masayuki membuka kotak kayu berisi kimono sutra kualitas terbaik di hadapan Shirayuri.

“Baiklah, aku berikan kimono ini sebagai penghargaanku atas tarian indahmu.”

Shirayuri dengan takjub mengamati kimono mahal di hadapannya.

“Ambillah.” kata pria tua itu lembut.

“Shirayuri, Tuan Besar Sanada memberikan kimono itu padamu. Berterima kasihlah pada Beliau.” ujar Chihiro, sang tamago (kakak asuh).

Shirayuri membungkuk sekali lagi sambil mengucapkan, “dōmo arigatō gozaimasu, Sanada-sama.” Ia pelan-pelan menyodorkan sebuah bungkusan bambu berisi ekubo padanya.

*******************************

Malam telah larut. Langit begitu bersih. Hanya sedikit bagian bulan yang terlihat di hamparan beludru malam. Seorang kusir mengemudikan kereta kuda mewah milik keluarga Sanada. Dua orang geisha cantik yang menjadi penumpang kereta kudanya akan diantarkannya kembali ke okiya mereka. Tiba-tiba sebuah sabit tajam yang melesat kilat nyaris tak terlihat menebas leher si pengemudi dan menghempaskan potongan kepalanya ke dalam kereta kuda. Chihiro-dono berteriak keras sebelum akhirnya terkulai lemas dan pingsan seketika. Shirayuri tak bergeming. Ia mulai waspada mengamati sekelilingnya, kalau-kalau sabit itu akan diarahkan kepadanya. Shirayuri berdiri dan keluar dari kereta kuda. Matanya berkeliling mencari sosok bajingan yang telah mengganggu perjalanan pulangnya ke okiya Chihiro-dono.

“Tampakkan dirimu, Pengecut!” teriak Shirayuri lantang.

Spontan saja sebilah sabit tajam melayang ke arahnya. Dengan lincah maiko cantik itu berkelit menghindar.

“Kunoichi… kau pasti seorang kunoichi ha… hahaha….” suara seorang laki-laki bergaung di udara. “Aku tak percaya Sanada menjadikan makhluk lemah sepertimu sebagai tameng.”

“Jangan hanya bersembunyi, Bangsat!” tantang Shirayuri.

“Baiklah, cantik. Kau tak memberiku pilihan lain selain menghabisimu terlebih dahulu sebelum menebas leher Bajingan Tua Sanada.”

Sesosok bayangan tubuh berkostum hitam, berpenutup kepala dan berpenutup mulut menampakkan diri. Sebilah katana digantungkan di punggungnya. Shirayuri yang berkurang kewaspadaannya karena memperhatikan sosok shinobi itu seketika menyadari sebilah sabit lain telah melesat ke arahnya. Ia raih tessen (kipas) berkerangka baja miliknya untuk melindungi dirinya. Sabit itu berhasil ditepisnya, namun ia terlambat menyadari kalau sebuah kusari (rantai besi) juga dilemparkan ke arahnya. Rantai itu membelit kaki jenjang Shirayuri dan menyeret tubuhnya mendekati si pelontar. Selusin jarum terbang dan menusuk saraf-saraf vitalnya.

Tubuh Shirayuri lumpuh seketika. Membuka kelopak matanya pun ia tak sanggup lagi. Ninja itu berjongkok di kaki kaku Shirayuri, menutup mata Shirayuri dengan ikat kepalanya, dan menelusuri hidung, bibir, dagu dan leher si cantik dengan jemarinya. Bibir ranum Shirayuri begitu menggoda untuk dinikmati. Ia sumpalkan lidahnya dengan paksa ke bibir Shirayuri dan meraba-raba dua bukit Shirayuri dari luar kimono hijau muda yang masih melapisi tubuhnya. Ia gigit bibir menggemaskan yang masih perawan itu hingga berdarah dan djilatinya dengan rakus.

“Baiklah, aku biarkan kau hidup. Setelah kuhabisi Masayuki Sanada, aku akan melanjutkan permainan kita. Semalaman akan kugarap kau, hehehehehe… “ seringainya mesum.

Ia bangkit untuk melanjutkan tugasnya. Namun, senar-senar tipis transparan membelit keempat anggota geraknya dari belakang. Kendali atas tubuhnya diambil alih oleh senar-senar yang membelitnya. Ia ambil katana dari balik punggungnya dan ia tempelkan ujung tajamnya ke pembuluh arteri di lehernya sendiri. Ia putuskan pembuluh nadinya dengan pedang di kedua tangannya sendiri, matanya membelalak meregang nyawa sebelum akhirnya ia tumbang menindih tubuh Shirayuri. Kucuran darah membasahi kimono hijau muda Shirayuri dan meninggalkan bercak-bercak merah di pakaian sang kunoichi. Sesosok tubuh gemulai berkimono merah darah dan berambut putih mengkilat mengangkat mayat si ninja hitam dengan satu tangan, ia mencabut dan membuang katana yang tertancap di leher mayat itu. Ia robek dada mayat si ninja dengan kuku-kuku tajam bercat merah miliknya. Ia raih benda merah berlumuran darah yang masih berdenyut di rongga dada pria itu. Ia cabut seketika benda berkedut-kedut itu dari tempatnya semula. Ia jilati benda berdenyut di genggamannya dan ia lahap dengan rakus. Rambutnya berangsur-angsur berubah warna menjadi hitam, kerut-kerut di dahi dan wajahnya perlahan menghilang. Bibir pucatnya jadi merah menyala dipenuhi lelehan darah. Wajahnya kembali cantik, eh tampan seperti pemuda berusia tujuh belas tahun.

“Seikai, ternyata kau sedang berpesta.” ujar seseorang di belakangnya.

Pria gemulai itu berbalik.

“Itu, ada noda darah di mulutmu.” ujar Sasuke rileks.

“Kau membunuh orang lagi, Seikai.” Isa, saudara kembar si banci juga telah berdiri di belakang Seikai.

“Dia penyusup yang ingin membunuh Sanada-sama,… dan kebetulan aku butuh jantung segar malam ini. Tidak salah kan aku bunuh dia.” Seikai berlalu dengan santai diikuti pasangan gay-nya.

“Namuamida, semoga ia tenang di alam sana,” Miyoshi Isa mendoakan mayat itu.

“Miyoshi-sensei…” tegur Jinpachi. Ia dan Saizo baru saja sampai di tempat pembantaian itu.

“Kalian berdua, urus mayat lelaki pengendara kuda dan wanita-wanita tak berguna itu. Aku akan membawa mayat penyusup ini kepada Rokuro-senpai untuk diperiksa.” perintah Isa.

“Baik Sensei.” kata keduanya.

“Senpai, lihat! Ini adalah maiko cantik adik asuh Chihiro-dono… Iya, dia Shirayuri yang di Fujiwara itu!” kata Jinpachi.

Saizo menghampiri Jinpachi. Ia angkat pergelangan tangan Shirayuri yang terbaring tak berdaya untuk memastikan apakah jantungnya masih berdetak.

“Antarkan Chihiro-dono ke okiya-nya. Tinggalkan saja mayat si pengendali kuda di sini. Biar aku yang urus.”

“Shirayuri?” tanya Jinpachi.

“Jarumnya beracun. Denyut jantungnya lemah sekali. Aku akan membawanya ke tempat Rokuro-senpai agar dia diobati dulu.”

Jinpachi mengangguk. Sejurus kemudian kereta kuda yang dikendarai Jinpachi meninggalkan tempat itu. Saizo memanggul tubuh Shirayuri. Sebuah benda keperakan berkilau jatuh dari sela-sela leher kimono Shirayuri, sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk miniatur shuriken Iga. Mengapa ia memiliki kalung yang sama dengan milik An-chan? Saizo rebahkan maiko itu kembali ke atas tanah. Ia tarik kain hitam yang menutupi mata sang calon geisha. Ia basahi kain itu dengan air dan ia sapukan kain basah itu ke wajah bak topeng sang maiko. Make-up yang dikenakan sang maiko luntur dan tampaklah raut wajah asli sang maiko.

******************************

“Cepat antarkan aku untuk menemui Chihiro-dono.” Saizo mendesak seorang shikomi yang menjaga pintu okiya milik Chihiro.

“Tuan, lebih baik Anda temui Chihiro-dono nanti malam di ochaya saja.”

“Tidak bisa, aku harus bertemu dia sekarang.”

“Kenapa ribut sekali?” tanya Chihiro yang mendekati mereka.

“Tuan ini ingin bertemu Anda, oneesan.” Kata si shikomi.

“Ah, Kirigakure-san… maafkan kelancangan Hikari tadi… Silakan masuk untuk minum teh.”

“Tidak, aku ingin bertanya di sini saja.”

“Ya?”

“Berapa aku harus membayar untuk mizuage Shirayuri?”

“Maksud Anda?”

“Katakan saja. Aku pasti akan membayarnya, dengan nyawaku sekalipun.”

“Ah, itu. Tapi aku masih punya gadis lain selain Shirayuri. Anda bisa memilih,…”

“Tidak!” potong Saizo. “Aku mau Shirayuri. Hanya dia.”

“Tapi Anda tidak mungkin mengalahkan penawaran Tuan Besar Sanada kan?”

“Cepat katakan saja Chihiro-san!”

“Tapi Tuan Besar sudah menawar 500 keping emas. Kau tak akan bisa mengumpulkan uang lebih banyak dari itu dalam dua hari kan?”

“Baik, lima ratus sepuluh keping. Akan kubawa dalam dua hari.” Saizo berbalik meninggalkan okiya Chihiro-dono.

***************************

Bruak! Seorang laki-laki terhempas menghantam hancur sebuah tembok. Ia memuntahkan darah dan tewas terbelalak dengan kondisi tubuh mengenaskan.

“Siapa selanjutnya?!” tantang laki-laki bercodet itu pada para penonton.

Hening seketika.

“Hahahahaha… Pertunjukan yang hebat Yoshida.” Seorang lelaki botak bertepuk tangan. “Katakan, apa yang kau inginkan sebagai hadiah?”

Sesosok tubuh kekar mengulum senyum bangga. Ia sangat tersanjung atas pujian pria setengah baya nan berwibawa di hadapannya.

“Tunggu Tuan Takeda! Saya pasti bisa mengalahkan dia.” teriak seseorang dari tengah-tengah kerumunan.

Semua mata mengarah ke pria kurus yang sesumbar itu. Mana mungkin pria gingsul kerempeng berkulit coklat cenderung hitam itu mampu mengalahkan Yoshida yang memiliki postur tubuh sebesar pesumo dan otot sekokoh body builder. Perbandingan senjata mereka pun tak seimbang. Yoshida menggunakan samurai panjang yang berat sebagai senjatanya, sedangkan si pria kurus hanya memakai daisho (pedang kembar) yang ringan.

“Wah, wah, wah… Semangatmu boleh juga anak muda. Kuperingatkan, Yoshida adalah jagoan di arena ini. Berhentilah sebelum kau terbunuh seperti dia.” si tua Takeda Shingen menunjuk mayat pria yang baru saja diangkat anak buah-anak buahnya.

Pria kecil itu tak gentar mendengar peringatan Takeda Shingen. “Ijinkan Hamba” ucapnya.

Yoshida gerah melihat kesombongan penantangnya.

“Tuan Takeda, Kunyuk Ingusan ini memang butuh diberi pelajaran. Tenang saja, aku tak akan membunuh makhluk lemah. Ayo, Kecil kerahkan semua kemampuanmu.” cemooh Yoshida.

Semua orang di tempat itu menertawakan Saizo dan menyuruhnya turun saja dari arena pertarungan. Saizo tak peduli. Beberapa orang bahkan melempari Saizo dengan telur dan sayuran busuk, juga sandal. (hiks… untung ga benjol :-P)

“Baiklah serang aku dari arah mana saja… Akan kutumbangkan kau dalam tiga jurus.” ujar Yoshida sesumbar.

“Aku bahkan bisa membunuhmu tanpa menyentuhmu.” balas Saizo dingin.

Tawa penonton menggelegar. Kedua orang itu memasang kuda-kuda. Mata elang Saizo mengunci erat targetnya. Posisi lawannya siap menyerang. Namun, Saizo tetap tak bergeming. Ia tunggu gerakan lawannya terlebih dulu.

“Kenapa tak menyerang? Kau takut ya Bedebah Kecil?” Yoshida memprovokasi.

Saizo diam.

“Heh, cepat serang aku!”

Saizo acuh.

“Kurang ajar, kau mengulur-ulur waktu! Cepat serang aku!”

Saizo tak menghiraukannya.

“Sial, kau tuli hah?!” hardiknya.

Saizo tetap memusatkan konsentrasinya.

“Lihat saja, kuhabisi kau Cecunguk Sombong! Heeeaaahhhh!” Ia menyabitkan katananya membelah tubuh Saizo.

Penonton berteriak ngeri melihat tubuh kurus yang terbelah itu.

“Hahahahahaha… Cuma segitu…!”ledek Yoshida. “Dasar bedebah kecil yang sombong. Bodoh sekali, menjemput ajalnya sendiri.”

Ketika Yoshida mengelap dahi dengan tangan kanannya, ia begitu terkejut. Tangan kanannya mendadak berubah menjadi seekor ular kobra yang mendesis-desis. Ia kaget bukan main dan berteriak-teriak panik. Tanpa pikir panjang ia ambil pedang pendeknya dan ia pakai untuk menebas ular ganas jelmaan tangan kanannya itu.

“Kau potong tanganmu sendiri heh?” suara seseorang mengagetkannya.

Ia lihat potongan tangannya sudah tergeletak di tanah. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ngeri sosok di hadapannya itu. Sosok pemuda kurus yang tadi ditebasnya. Cecunguk itu masih hidup… Tidak mungkin ‘kan dia bangkit dari kematiannya? Lantas, siapa yang tadi dibunuhnya?

“Jangan mempermainkan aku! Kau seharusnya sudah mati.” gertak Yoshida.

“Sayangnya, belum.” jawabnya datar. “Lihat saja siapa yang kau bunuh.” kata pemuda itu lagi.

Sesosok mayat wanita tua yang mati tertebas terbaring di hadapannya. “Ibuuu…!!!” teriak Yoshida histeris sambil memeluk mayat wanita tua di hadapannya. Beberapa detik kemudian, ratusan sosok yang berwujud sama persis dengan Saizo tertawa terbahak-bahak dan berputar-putar mengelilinginya. Ia tebaskan katana miliknya ke segala arah, namun sosok-sosok itu tak mempan ditebas katana. Mereka tertawa makin keras dan semakin cepat berputar mengelilinginya. Ia berteriak-teriak histeris dan memejamkan matanya.

Waktu ia buka kembali matanya, sosok-sosok itu menghilang. Namun, tiba-tiba saja ia merasa sangat mual. Ia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Ketika ia tidak bisa menahan rasa mualnya, ia muntahkan sekawanan kelabang dan kecoa dari mulutnya. Ia semakin panik. Ia bekap mulutnya dengan robekan bajunya, tapi kelabang dan kecoa itu malah keluar dari hidungnya. Ia sumbat lubang hidungnya dengan tangan kirinya. Ia tak peduli walaupun ia jadi sama sekali tak bisa bernafas. Karena tak ada lagi pasokan oksigen yang tersisa di paru-parunya, ia tercekik kehabisan nafas dan tewas. Matanya membelalak nanar menyongsong ajalnya. Takeda Shingen berdiri dari tempat duduknya dan diam tertegun selama beberapa saat.

“Kenapa Yoshida bisa memotong tangannya, memeluk batang pohon yang ditebasnya, menebas-nebas seperti kesurupan ke segala arah, menjerit-jerit, dan akhirnya bunuh diri seperti itu? Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Takeda pada Saizo.

“Membunuhnya tanpa menyentuh tubuhnya, Tuanku.”jawab Saizo datar.

“Hipnotis yang hebat…” Takeda mengagumi kepiawaian si pemuda kurus.

Saizo membungkuk menghormat.

“Siapa namamu?”

“Shuichirou.” Saizo berbohong.

“Baiklah Shuichirou, maukah kau jadi salah satu pengawalku?”

“Hamba merasa terhormat atas kebaikan hati Tuan. Namun pengelana seperti hamba tidak suka terlalu lama berada di satu tempat Tuanku.”

“Kenapa? Lalu untuk apa kau ikut turnamen ini?” tanya Takeda bijak.

“Hamba hanya butuh lima ratus sepuluh keping emas.”

“Lancang!” kata para pengawal Takeda serempak sambil menarik katana mereka dari sarungnya.

“Tunggu!” perintah Takeda. “Aku suka pemuda ini. Aku akan berikan kau lima ratus sepuluh keping emas bahkan lebih kalau kau mau tinggal di tempat ini.”

“Maafkan Hamba, Yang Mulia. Hamba tidak bisa.”

“Mengapa demikian? Negeri ini cukup nyaman untuk ditinggali. Aku akan memberimu kedudukan, harta, juga wanita. Tinggallah di sini.” Takeda bernegosiasi.

“Maaf yang Mulia, hamba hanya butuh lima ratus sepuluh keping emas itu saja. Hamba tidak menginginkan apapun selain itu.”

“Hahahaha, anak muda yang menarik. Baiklah kalau begitu. Aku sebenarnya tidak keberatan kau pergi begitu saja dari tempat ini, tapi para pengawalku sepertinya tidak sependapat denganku. Aku tidak punya pilihan karena kau telah membuat mereka begitu penasaran. Yah, terpaksa aku harus membiarkan para pengawalku menjajal kekuatanmu. Bagaimana?” Takeda tersenyum lebar.

“Hamba setuju. Tapi pegang janji Tuanku untuk memberikan lima ratus sepuluh keping emas itu bila Hamba berhasil mengalahkan mereka.”

Para pengawal Takeda melotot terpancing amarahnya karena melihat kelancangan anak ingusan kurus itu pada majikan mereka.

“Baik. Kupegang janjiku. Silakan menikmati pertempuran kalian.” Takeda duduk kembali.

Kelima pengawal Takeda tanpa dikomando langsung mengepung Saizo.

“Maju saja semuanya sekaligus, supaya aku cepat menyelesaikan urusan ini!” kata Saizo datar.

Para pengawal yang merasa dilecehkan langsung mengeroyok Saizo. Ia diserang dari berbagai arah. Tak seperti dugaannya, keempat pengawal ini jauh lebih hebat dari Yoshida. Agak kewalahan juga Saizo menghadapi mereka. Tidak mungkin baginya untuk menghipnotis mereka berempat tanpa punya waktu sedetik pun untuk berkonsentrasi. Para pengawal itu sangat gesit dan tangguh. Ia dengan susah payah menumbangkan mereka satu persatu.

Setelah mereka semua tumbang, seorang lelaki botak berotot yang memakai pakaian berwarna orange dan kalung semacam tasbih dalam ukuran besar melompat ke hadapan Saizo. Ia menenggak sake dari kendinya, lalu melemparkan kendi kosong itu sampai hancur berkeping-keping ke atas tanah.

“Kau akan bernasib sama dengan kendi itu.” Kata pria itu sinis. Ya, ia adalah Shin Uemon, kepala pengawal Takeda. Ia adalah seorang bhiksu mangkir bersenjatakan tombak yang sangat kuat.

Sekujur tubuh Saizo sudah memar dan penuh luka akibat tebasan pedang keempat bawahannya tadi.

“Trak, trak, trak,…” suara tangan Saizo yang beradu dengan gagang tombaknya. Pukulannya sangat bertenaga, beberapa kali Saizo merasa tangannya kebas dan mati rasa akibat menahan pukulan tombaknya. Memar di tubuh Saizo semakin banyak. Luka-lukanya pun semakin menganga. Saizo berusaha menghindari beberapa serangan, namun ia gagal. Bhiksu mangkir itu luar biasa cepat dan akurat. Tidak ada celah pada serangan-serangannya. Akhirnya, ia mengunci gerakan Saizo dan “plakk!” jurus pukulan tombak maut Uemon yang diarahkan tepat ke tengkuk lawannya berhasil menumbangkan sang lawan. Ia robohkan Saizo tanpa ampun dengan pukulan telaknya itu. Tubuh Saizo seketika terasa kaku karena rasa sakit yang teramat sangat. Matanya berkunang-kunang, suara-suara di sekitarnya beangsur-angsur meredup, tangannya mengepal gemetaran menahan sakit… Inikah yang dirasakan manusia menjelang kematiannya?…

“An- chan, maafkan aku…” desis Saizo sebelum semuanya berubah gelap.

*******************

Saizo membuka matanya. Tiba-tiba saja ia telah terbaring di sebuah padang rumput yang hangat. Beberapa langkah di hadapannya, air bergemericik mengaliri sungai yang jernih. Sebuah sampan merapat ke tepi sungai di hadapannya. Seorang pria menambatkan sampannya di depan Saizo. Lelaki itu,… Saizo nyaris tak percaya! Ia adalah ayahnya yang sudah lama meninggal. Ayah Saizo tersenyum kepadanya,

“Anakku.” sapanya.

“Ayah?” ia tak percaya pada indra penglihatannya.

Pria di atas sampan itu mengangguk.

“Aku… di mana ini?” tanyanya heran.

“Ini dunia orang mati.” Jawab ayahnya tenang.

“Jadi, aku sudah mati?”

“Yah, begitulah.”

Saizo masih memandang takjub pemandangan di sekelilingnya. Ia tak percaya kalau ia benar-benar sudah mati.

“Anak Bandel, kenapa kau datang ke sini sebelum kau balaskan dendamku hah?” ujar ayahnya lagi.

“Maafkan aku… Aku tak tahu kalau aku tak akan bisa membalaskan dendammu. Aku memang tak berguna.”

“Ah, sudahlah. Aku cuma bercanda. Tak ada yang pernah bisa menentukan takdirnya. Lagipula setelah ini, kita tak kan ingat dendam apapun dan penderitaan apapun di kehidupan sebelumnya.” Kata ayah Saizo lagi.

“Jadi, apakah aku benar-benar akan mati?”

“Itu pilihanmu, Anak Bandel. Sungai tiga arus ini akan membawamu ke akhirat. Jika kau siap, naiklah ke perahuku ini.” Ajak ayah Saizo.

“Senpai, aku sangat menyayangi Senpai.” Tiba-tiba suara An-chan bergaung di telinganya.

“Ayo, cepat naik.” ajak ayahnya lagi.

Saizo ragu untuk melangkahkan kakinya ke dalam sampan kecil itu.

“Kenapa?” tanya ayahnya.

“Apa setelah sampai di akhirat aku masih bisa mengingat kehidupanku yang lalu?” Saizo semakin sangsi akan pilihannya.

“Tidak, tak akan ada yang tersisa dalam ingatanmu. Kau akan lahir kembali tanpa pernah mengingat segala penderitaan dan kesedihan di kehidupanmu yang sebelumnya.” Jawab ayahnya.

“Artinya aku,… tak akan pernah mengingat An-chan lagi?”

“An-chan? Siapa dia?”

Saizo menggeleng.

“Ah, pasti ini masalah cinta. Sudahlah, lupakan saja! Cinta itu hanya menambah penderitaan, jadi lupakan saja.” Kata ayahnya santai.

“Bahkan namanya saja aku tak kan ingat lagi?” Saizo memastikan.

“Tentu saja, Anak Bandel. Ayo kita pergi.” Ajak sang ayah.

Saizo mundur beberapa langkah dari tepi sungai. ‘Tidak Ayah, aku tak bisa pergi sekarang. Maafkan aku.” Saizo berbalik dan berlari meninggalkan ayahnya menuju ke seberkas cahaya di kejauhan.

Samar-samar Saizo melihat sosok bhiksu botak bertombak sedang menenggak seguci arak. Ia bertengger di sebatang pohon besar di hadapannya.

“Ia sudah mati,…” “Iya, tubuhnya cedera parah.” “Seharusnya ia turuti keinginan Tuan Takeda.” “Kasihan…” kata orang-orang yang berkerumun.

“Angkat dan singkirkan mayatnya!” perintah Takeda.

Beberapa orang anak buah Takeda Shingen mulai mengangkat tubuh kurus Saizo. Saizo perlahan-lahan membuka matanya. Para anak buah Takeda kaget dan menghempaskan tubuh Saizo begitu saja. Saizo bangkit dan berdiri dengan terhuyung-huyung.

Uemon mengucek-ucek matanya tak percaya.

“Apa aku terlalu mabuk?”

Anak muda kurus yang kini pakaiannya telah begitu lusuh tercabik-cabik itu bangkit dari kematiannya. Takeda tertegun, begitu juga semua penonton.

Takeda spontan tertawa terbahak-bahak. “Hahaha… tidak Uemon. Anak muda tangguh itu masih bisa bangkit dari jurus pukulan mautmu. Turunlah dari pohon itu dan hadapi dia.” kata Tuan Takeda lagi.

“Heheheh… arwahmu belum bisa tenang sebelum kudoakan ya? Cuih! Menyusahkan saja.” Ujar si Bhiksu gusar sambil melemparkan kendi araknya.

Ia menghunuskan tombak sekali lagi kepada Saizo. Keduanya pasang kuda-kuda, lalu trang, trang, trang, trang, tombak Uemon beradu dengan daisho Saizo. Hingga,.. “Traanngg!!!” tombak si bhiksu terlempar dan salah satu daisho Saizo terhunus ke lehernya.

“Bergerak sedikit saja, kau akan mati.” ancam Saizo.

Takeda Shingen bertepuk tangan. “Bagus, bagus. Lepaskan Uemon, Anak Muda. Ini hadiahmu. Kau boleh pulang sekarang.” Ia lemparkan bungkusan berisi kepingan-kepingan emas ke arah Saizo.

Saizo memungut bungkusan itu sambil terus menodongkan daishonya kepada Uemon. Ia tendang Uemon hingga terjengkang kehilangan kewaspadaan, kemudian ia menghilang di balik kepulan asap tebal.

“Ninjutsu…” desis Takeda Shingen begitu pria yang mengaku bernama Shuichirou itu menghilang.

*********************

“Oneesan, ini banyak sekali.” Kata Shirayuri pada tamago-nya, Chihiro-dono.

“Tidak, itu cuma sebagian saja. Aku sudah mengambil sedikit untuk biaya pendidikanmu dan untuk okiya. Itu hakmu.”

“Tapi, siapa pria yang membayar sebanyak ini untuk mizuage ku?” tanya Shirayuri. “Tuan Besar Sanada?”

Chihiro menggeleng.

“Bukan dia…. Siapa?”desak Shirayuri.

“Nanti juga kau akan tahu. Pria itu tak mau aku memberi tahumu. Pergilah nanti kau bisa terlambat menemuinya. Ia akan sangat marah.”

Shirayuri mengangguk.

“Tunggu sebentar.” Kata Chihiro. Ia memantik api dengan dua batu kecil, “Untuk keberuntunganmu.”

“Terima kasih onee-chan.” Mata Shirayuri berkaca-kaca.

“Jangan menangis, Gadis Bodoh. Nanti riasanmu rusak. Hati-hati ya.”

Shirayuri membungkuk dalam kepada onee-sannya. Shirayuri naik ke sebuah becak yang telah menunggu di depan okiya Chihiro. Penarik becak itu mengantarkannya ke sebuah penginapan sederhana, bukannya mansion mewah seorang saudagar atau tuan tanah. Ia jadi semakin bertanya-tanya siapakah pria yang berhak atas mizuagenya. Pemilik penginapan menyambut kedatangan sang maiko dan mengantarkannya sampai ke depan pintu kamar tempat pria yang berhak atas mizuagenya menunggunya.

“Silakan.” ujar wanita tua pemilik penginapan itu sambil membukakan dan menutup kembali pintu geser untuknya.

Sinar lilin samar-samar menerangi kamar nan sederhana itu. Kamar beralas tatami itu dilengkapi sebuah futon (kasur) dengan hamparan kain putih di atasnya. Sebuah shunga (lukisan erotis kuno khas Jepang) bergambarkan adegan persetubuhan seorang samurai dengan seorang maiko yang masih perawan tergantung di dinding kamar. Bau wangi dupa memenuhi seisi ruangan yang temaram. Seorang pria yang mengenakan hitatare (pakaian samurai) sedang duduk di atas zabuton sambil menikmati secangkir kecil sake dan hidangan lengkap (kaiseki) yang tersaji di hadapannya. Shirayuri bersimpuh dan membungkuk sambil mengucapkan salam kepadanya,

“konbanwa…”

“Jangan bergeser dari tempat dudukmu.” perintah pria itu.

“Ya…” Shirayuri mematuhi perintah lelaki misterius di hadapannya.

Lelaki itu memadamkan lampu dan menyuruh sang maiko berbaring di atas futon. (nemuin futonnya gimana coba, orang gelap-gelapan ^_^`) Shirayuri duduk di atas futon, menarik lepas tali pengikat obi dan seluruh kimono luarnya. Ia menyisakan kosode putihnya sebagai pertahanan terakhir untuk membungkus tubuh mulus semlohaynya. Ia baringkan kepalanya ke atas takamakura (bantal tinggi khusus untuk geisha).

“Bawalah aku bersamamu, Tuan…” ucapnya lirih.

Selanjutnya, terserah Anda… eh, sang lelaki bebas melakukan apa saja pada si cantik Shirayuri. Lelaki itu membuka belahan kosode Shirayuri. Tanpa basa-basi, ia langsung membenamkan wajahnya ke belahan dada Shirayuri. Dada mulus nan hangat itu berdegup kencang. Pria itu meraba payudara kiri Shirayuri. Lidah nakal si pria berpindah dari belahan dada si cantik ke puting kiri Shirayuri. Ia menjilati puting gadis impiannya dan menghisap-hisapnya penuh nafsu. Malam ini An-chan jadi miliknya seutuhnya,… Masa bodoh dengan perasaan An-chan pada Yukimura Sanada. Tangan kanannya yang menganggur ia selipkan ke balik nagajuban (secarik kain sutra penutup kemaluan) sang bidadari. Ia gosok-gosokkan jari-jarinya ke mulut miss V Shirayuri. Si Cantik menggelinjang nikmat. Ia makin berani memainkan area-area sensitif bidadarinya dengan lidah, mulut, dan jemarinya. Tapi, di sela-sela desahan nikmat sang maiko… Pria itu mendengar ia menangis sesenggukan. Ia menghentikan keasyikannya, ia seka air mata sang maiko, dan mengecup kening gadis bermata indah yang sangat dicintainya itu. Ia selimuti tubuh setengah telanjang sang maiko. Ia berdiri dan berjalan hingga ke ambang pintu.

“Tunggu aku di sini.” kata pria itu waktu memunggungi Shirayuri dan keluar dari kamar.

Sang maiko yang masih suci itu menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Ia tak bisa berhenti menangis. Waktu terasa begitu lama. Ia tak bisa memejamkan matanya karena perasaan yang aneh. Ia memang takut… Ia takut kalau diperlakukan seperti tadi… Tapi, kini kedua puting kemerahannya menegang, vaginanya pun becek akibat perbuatan lelaki tadi. Ia tidak bisa melupakan sensasi nikmat waktu pria itu menggosok-gosok vagina perawannya dengan jari-jarinya. Waktu ia pilin-pilin puting susunya, hisap-hisap, dan gigiti ujung pinknya… mmmhhh… perih dan sakit, tapi ia ingin lagi. Seketika pintu bergeser lagi. Lelaki itu masuk dan langsung menanggalkan seluruh pakaiannya sendiri. Ia menghampiri Shirayuri yang sudah setengah bugil dan memeluknya erat. Pria itu mencumbunya dengan paksa dan menyorongkan lidahnya dengan kasar ke mulut Shirayuri. Ia tidak selembut tadi…tapi Shirayuri adalah maiko profesional, bagaimanapun sang pelanggan harus puas dengan kualitas servicenya. Ia langsung mempraktekkan teori seppun (teknik berciuman) yang diajarkan oneesan nya. Ia mendorong dan menarik lidah sang pria dengan belitan lidahnya. Lidahnya dengan lihainya menari-nari bersama lidah sang pria. Pria yang telah terbakar nafsu itu menarik paksa dan melemparkan kosode putih Shirayuri. Ia tarik lepas nagajuban sang maiko dan memainkan jari-jari nakalnya di area pribadi sang dara. Mulut guanya begitu becek dan sempit, tapi jari-jari nakal itu tetap memaksa masuk. Shirayuri looses her innocence… Ia begitu terangsang hingga nekat menjilati bagian belakang telinga pria misterius itu dengan rakus. Tangan dan lidah sang pria yang asyik memainkan manik-manik mungil di puncak kedua bukitnya semakin membakar birahi sang maiko. Gadis cantik itu melenguh menggemaskan,

“mmmhhh,… aahhhssshhh,… aahhhsshhhh…”

Pria itu udah nggak ku-ku… Si unyilnya sudah tak dapat dikendalikan lagi. Tapi sedikit lagi foreplay bolehlah… Ia dekatkan hidungnya ke gua sang dewi. Aroma semerbak penuh godaan birahi langsung menyergap indra penciumannya.Ia jilat daerah yang ditumbuhi bulu-bulu bercukur rapi itu.

Sang pemain cinta nan liar itu mengekplorasi lebih dalam dan menemukan sebuah benda mungil yang dapat dipakainya untuk bermain-main. Ia menjilat-jilat daging kemerahan di dalam gua sang bidadari. Ketika ia gigit perlahan, si cantik menjerit nikmat. Gadis itu mendorong kepala sang pria agar lidahnya masuk lebih dalam ke area pribadinya. Sang gadis belum pernah merasakan kenikmatan luar biasa ini sebelumnya. Cairan kental meleleh dari liang senggamanya. Gua perawannya jadi semakin licin dan becek. Pria itu menghisap dan menelan semua lelehannya serta mencumbui bibirnya dengan rakus sekali lagi. Ia mengakhiri cumbuan beringas si lelaki di bibirnya dengan cara menarik dan meraba-raba penis sang pria yang telah berdiri kaku. Shirayuri bangkit dan mempermainkan penis itu. Ia jilat ujungnya, ia hisap-hisap, dan gigit-gigit dengan genit. Si pria sudah tak tahan lagi dipermainkan oleh Shirayuri yang binal, ia dorong seluruh bagian kejantanannya ke mulut Shirayuri. Shirayuri nyaris tersedak. Setelah mengambil nafas sejenak, ia manjakan lagi si bungsu dengan jilatan, gigitan, dan sepongannya. Shirayuri seketika sadar bahwa ia telah membangunkan seekor macan buas yang tertidur. Masih dalam posisi duduk, pria itu merenggangkan kedua paha Shirayuri. Ia menopang kedua kaki mulus Shirayuri dengan bahunya, menopang pantat mulusnya hingga tubuh aduhai si cantik melengkung membentuk kurva. Ia posisikan penis tegangnya ke gua Shirayuri. Maiko cantik itu menjerit lemah waktu rasa sakit mulai menyergapnya. Ia meremas futon sekuat-kuatnya ketika belut sang pria mengeksplorasi guanya lebih dalam dan jauh lebih dalam lagi. Shirayuri memekik tertahan. Pria itu berhenti sejenak waktu seluruh batangnya telah tertanam dalam lubang cinta si cantik. Shirayuri menangis menahan sakit yang teramat sangat.

Si pria menarik pelan-pelan belutnya yang kini berlumuran cairan kental berwarna merah… Ya, darah keperawanan Shirayuri tumpah menodai secarik kain putih di atas futon tempat kedua insan itu berasyik masyuk. Setelah sebagian kejantanan si pria keluar dari guanya, Shirayuri merasakan sebuah kenikmatan saat kumpulan serabut sarafnya tergesek benda tegang itu. Si pria mencengkeram kedua bongkah pantat Shirayuri lebih erat dan menaik turunkan panggul Shirayuri agar ia bisa dengan leluasa mengeluarkan dan memasukkan belut laparnya ke gua si cantik yang kini becek dan licin. Kedua payudara berputing tegangnya berguncang-guncang sensual. Si maiko yang baru saja direnggut keperawanannya itu mulai menikmati pergumulan bernafsu pertamanya. Ia ikut memutar-mutar panggulnya sambil mendesis-desis penuh gairah.

“Aahhhkkksss…. nnggaahhhkkss…. aaahhhsshh.. aaahhhsshhh…. mmmhhhssshhh… aahhhhh…. aaahhh….” diiringi suara plokhhh… ploookh… plookkhh… yang membangkitkan birahi.

Shirayuri merasa guanya begitu penuh. Belut liar itu terus menari-nari memenuhi rongga guanya. Ia tahu kini bagaimana nikmatnya menjadi seorang wanita dewasa. Pria itu menancap-nancapkan senjata pamungkasnya tanpa ampun ke liang hangat Shirayuri. Sang maiko kini telah menjadi seorang geisha sejati. Ia sangat menikmati siksaan nikmat yang dilakukan sang pria terhadapnya. Sampai akhirnya, cairan cintanya tumpah ruah semakin memperlancar gerakan keluar-masuk si belut. Tak lama, belut nakal itu menyemprotkan cairan lengket yang memenuhi liang rahimnya, belut itu pun kemudian berangsur-angsur makin mengecil dan mengerut, sampai akhirnya ia keluar dari guanya. Setelah satu jam menggumulinya, pria perkasa itu jatuh lemas dan tertidur pulas di atas dada Shirayuri yang lembut, kenyal, dan hangat. Keduanya menikmati sisa-sisa orgasme mereka hingga akhirnya terlelap karena kelelahan.

To be continued…

By: Shirahime

 

“Sejak pertama kali ia di sini, Midori sering mengajak Ueda-sama ke kamarnya, Tuan.” Yue datang menghampiri Tuan Ono yang sedang minum sake.

“Kau tahu mereka berselingkuh?” Ono mengorek lebih dalam.

Yue mengangguk.

“Kenapa kau tak laporkan padaku?!” tanya Ono geram.

Yue memasang wajah memelas, “Ia mengancam akan memutar balikkan fakta dengan menuduh bahwa sayalah yang berselingkuh, Tuan. Dia memang wanita licik yang memanfaatkan kepercayaan Tuan. Saya sangat takut pada ancamannya karena dia bilang Tuan pasti akan lebih mempercayainya. Ya, ia adalah istri kesayangan Tuan saat ini… Tuan lebih banyak menghabiskan malam di kamarnya… Jadi saya tak berani melaporkan apa yang saya lihat.”

“Bagaimana bisa Midori lakukan itu?” Ono penasaran.

“Ia butuh uang,… Yah, Tuan tahu ia cuma seorang gadis miskin sebelum Tuan peristri. Jadi ia sangat suka uang. Ia sering datang ke toko barang antik Tuan Muda Ueda untuk menggodanya.” Yue memfitnah Midori.

“Ueda tidak bersalah?” Tuan Ono terhenyak kaget.

“Tentu saja tidak. Pelacur itu menggodanya. Bukankah Tuan tahu kalau Tuan Ueda itu seorang pria baik. Tuan sangat mengenal putra Tuan ‘kan? Mana mungkin seseorang yang Tuan didik sejak kecil bisa melakukan perbuatan kotor seperti itu jika tak ada yang menjerumuskannya.” Yue mempengaruhi Ono. Ia memfitnah Midori yang sebenarnya tak bersalah.

Ono mengangguk-angguk.

“Sebaiknya Tuan mempercayai putra Tuan… Jangan biarkan pelacur itu menghancurkan keluarga Tuan.” Ia mengelus-elus paha suaminya yang tua bangka.

“Yaaa,…. ya,… kau benar Yue.” Ia setuju akan perkataan Yue.

Yue menuangkan lagi sake ke gelas Tuan Ono dan memijat-mijat pundak si pria tua yang lebih pantas jadi ayahnya itu. “Sebaiknya Tuan mengampuni putra Tuan. Ia hanyalah korban wanita jalang itu.”

Ono berhasil dipengaruhi Yue. Sekali lagi ia manggut-manggut setuju.

“Dasar tua bangka idiot,…” si Manis tersenyum licik dari balik punggung sang saudagar.

“Tuan, Nyonya Midori melahirkan bayi perempuan.” kata seorang pelayan yang berlari tergopoh-gopoh menghadap Tuan Ono.

“Di mana dia sekarang?” tanya Yue.

“Nyonya Midori ada di kamarnya bersama bayinya. Tadi kami pindahkan ia ke sana.” Jawab si pelayan.

“Pyaarrr!!!” ia banting gelas sakenya ke atas meja. “Aku tak menyuruhmu memindahkan pelacur itu ke kamarnya dan menolongnya! Harusnya kau biarkan saja ia mati!” bentak Ono marah.

“Maafkan kelancangan kami Tuan….” Pelayannya bersujud di atas tanah memohon ampunan tuannya.

Tuan Ono bergegas ke kamar Midori tanpa menghiraukan si pelayan yang membuatnya jengkel. Yue mengikuti dengan setengah berlari di belakangnya.

*******************************

Midori berbaring lemah mengelus rambut halus yang tumbuh di kepala bayi mungil yang dilahirkannya. Si bayi yang bokongnya masih berwarna kebiruan itu telungkup di atas dada ibunya. Bayi perempuan itu menggerak-gerakkan mulutnya mencari air susu sang ibu. Midori tersenyum bahagia. Bayi mungil yang matanya masih terpejam itu cantik sekali. Meskipun terlahir prematur, ia lahir dengan sehat. Kulitnya kuning langsat. Bayi itu mirip dirinya.

“Yui, lihatlah anak kita…” bisik Midori sambil meneteskan air matanya. Ia membuka sedikit kimononya dan membiarkan si kecil menetek.

Si kecil kelaparan, ia menyedot air susu ibunya dengan lahap. Tangan-tangan mungil si bayi menyentuh kulit pualam Mi-chan. Ia merasa sangat sempurna menjadi seorang wanita. Tuan Ono dan Yue masuk ke kamarnya. Ia sangat marah melihat bayi kecil di buaian Midori dan merebutnya dari Midori. Midori menangis memohon-mohon agar bayinya dikembalikan padanya.

“Cepat seret wanita jalang ini ke selnya! Ia tak boleh enak-enakan tidur di sini.” perintah Ono.

Midori yang tubuhnya masih lemah sehabis melahirkan pun dijebloskan lagi ke penjara dekat kandang kuda milik Tuan Ono. Ono membawa bayi kecil yang baru ia lahirkan ke depan sel tempat ia mengurung Midori dengan satu tangan. Tangan Ono yang lain membawa besi panas berujung membara yang biasa digunakan untuk menandai kuda-kuda peliharaannya. Ujung besi itu bergambar sepasang naga kembar.

“Jangaaaannn!!!” teriak Midori waktu Ono mendekatkan ujung merah membara besi itu ke punggung putri mungilnya.

Tapi “Sssshhhhhttt…..,” Ono sudah menempelkan besi panas itu ke punggung si kecil. Si kecil menangis keras sekali karena melawan siksaan rasa sakit pada kulit sensitifnya yang dibakar dengan besi merah membara. “Oeeee……… oeeeeee… oeeeeeee……” tangisannya membahana.

“Bajingan! Kau menyakiti anak kecil yang tak berdosa. Apa salah anak itu?!” Midori berusaha bangun dari lantai, namun tak bisa. Ia terlalu lemah.

“Aku ingin bayi ini mati,… hahahaha…” Ono tertawa keji.

“Jangan! Ia tak bersalah. Bunuh saja aku….Apa maumu?!” tanya Midori.

“Ada hal penting yang harus kau lakukan…. aku akan mengundang para rekan bisnisku agar mereka mau membeli kain sutra dariku…ada beberapa petugas yang akan mengurus perizinan pengiriman barang-barang yang juga akan datang… kau pasti bisa melancarkan proses negosiasi kami dengan tubuh mulusmu…. hahahahaha…” Ono menyeringai padanya. “…mungkin setelah itu aku akan mempertimbangkan akan membunuh anakmu atau tidak,…”

Midori mengerti apa maksud si pedagang licik itu.

“Bajingan bejat! Kau ingin menjual istrimu sendiri?!” bentaknya.

“Yah,… tidak benar-benar seperti itu… Aku kan cuma mengajarimu bagaimana cara mencari uang… Itu yang kau inginkan dariku dan anak angkatku kan?…” cemoohnya.

“Kau bajingan tua tak berperasaaannn!!!” jerit Midori dari balik jeruji besi yang menahannya.

Ono tak menggubris Midori. Ia pergi begitu saja dari hadapan Midori yang terus mengiba-iba agar Ono mengembalikan putri kecilnya.

“Pergi dan bunuh anak haram ini! Kuburkan saja sekalian kalau perlu. Kau juga boleh membuang mayatnya!” perintah Ono pada seorang pengawal.

Pengawal itu membungkuk hormat dan membawa pergi si bayi kecil. Ia membawanya ke tempat yang jauh dari rumah besar Saudagar Ono. Bayi mungil itu begitu berani. Ia tak menangis menghadapi kematiannya. Ia tertawa-tawa jenaka selama digendong si pengawal. Mata mungilnya yang bulat kecoklatan dan innocent menatap mata sang pengawal sekilas. Ia lalu menguap dan tidur nyenyak di gendongan si pengawal. Si pengawal teringat akan putri kecilnya, bayi ini bahkan lebih cantik dari putrinya sewaktu bayi. Si kecil ini hanya lahir pada tempat dan saat yang salah. Seorang bayi sama sekali tak berdosa karena dilahirkan, bahkan oleh seorang pelacur sekali pun. Pengawal merasa kasihan padanya. Ia tak tega untuk membunuhnya. Ia letakkan bayi kecil itu di dalam sebuah keranjang bambu yang ia temukan di dekat sungai. Agar si bayi tak kedinginan, ia melapisi keranjang sekaligus tubuh si kecil dengan kimono terluar dan syal yang dipakainya. Ia hanyutkan si kecil yang tertidur lelap ke sungai.

“Semoga kau beruntung dan ada orang yang mau memeliharamu bayi kecil” ujar si pengawal waktu keranjang berisi bayi itu mulai terbawa arus air.

Di perjalanan pulang, ia tangkap seekor kelinci dan membunuhnya dengan sebilah pisau. Ia simpan pisau yang dipakainya untuk membunuh kelinci itu untuk nanti diperlihatkan pada Tuan Ono sebagai bukti palsu bahwa ia telah membunuh si kecil.

************************

“Ueda-sama, jangan khawatir… Sebentar lagi kau akan dibebaskan. Kau mengatakan apa yang kuajarkan padamu kan?” Yue memastikan.

“Yue… mereka menyiksaku,…” pria pengecut itu menggenggam tangan Yue erat.

“Jangan takut, si gadis jalang itu akan segera menerima hukuman atas ketidak setiaannya pada Tuan Ono… Sayang, kau pasti diampuni Tuan Ono.” Hibur Yue.

“Terima kasih, cinta.” (Afghan banggedz :P) Ueda merayu Yue yang telah menyelamatkannya.

“Aku akan melenyapkan siapa saja yang mencoba merebut Tuan dariku,…karena aku sangat mencintai Tuan…” ujar Yue.

Ueda membelai rambut Yue yang duduk di hadapannya. Kalau jeruji itu tak ada di antara mereka berdua pasti mereka telah berpagutan mesra.

*************************

Sekitar 20 orang pria setengah baya duduk di ruang utama kediaman Tuan Ono. Tuan Ono sedang melangsungkan perjamuan bisnis dengan para kliennya dari mancanegara. Wilayah Kyushu memang tempat eksklusif di mana Korea mau menjual hasil buminya kepada bangsa Jepang. Beberapa pedagang asing juga sudah mulai memasok komoditi dari dan ke Jepang, walaupun melalui black market. Para niagawan asing itu rela berlayar berbulan-bulan demi mendapatkan sutra dan emas, komoditi perdagangan utama bangsa Jepang. Seorang pria bule bangkotan beserta dua bodyguard negronya yang kekar-kekar ikut duduk dalam ruangan itu.

“Baiklah Tuan-tuan sekalian, kita tunda dulu proses negosiasi kita sejenak. Maaf kalau Tuan sekalian merasa kurang berkenan. Namun hari sudah siang dan aku yakin Tuan sekalian pasti sudah mulai lapar. Aku ingin menyuguhkan hidangan lezat pada tuan-tuan semua.” Ono berbasa-basi.

Para hadirin mengangguk-angguk setuju.

“Midoriii,… bawa masuk hidangannya!” panggilnya.

Pintu kertas itu bergeser. Seorang gadis cantik berambut hitam lurus panjang terurai dengan jubah bulu beruang berwarna putih masuk membawa senampan besar lembaran-lembaran sashimi. Mereka semua terpana melihat betapa eksotis kecantikan wajahnya. Ia duduk bersimpuh dan meletakkan pinggan sashimi besar di hadapannya. Ia tarik ikatan jubah bulu beruang di lehernya. Jubah itu tergelincir jatuh, tubuh indahnya yang meliuk sensual terpampang polos tanpa selapis kain penutup pun di depan para bandot tua yang tambah melongo memelototinya. Keindahan tubuh sang bidadari memang sulit dilukiskan dengan kata-kata. (padahal penulisnya aslinya males nih mendeskripsikan keindahan tubuh Midori berulang-ulang :-P)

“Silakan perlakukan saya sekehendak hati Tuan,..” ujarnya lirih sambil membungkuk hormat.

Ono berdiri dari tempat duduknya, “silakan menikmati hidangannya, Saudara-saudara.” Ono membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. (Ya eyalah, malu lagi kalo nggabung sama mereka en ketahuan menderita disfungsi ereksi… heleh bahasanya sok ilmiah aku wkwkwkwkwk)

Midori meletakkan beberapa lembar potongan sashimi di atas tubuh polosnya lalu berbaring telentang memasrahkan diri di atas tatami yang terasa kasar di punggung polosnya. Beberapa lelaki tua mendekatinya dan menyirami tubuhnya dengan saus sashimi. Panas yang berasal dari campuran wasabi (sejenis talas dengan rasa kuat) dan ponzu (parutan jahe) dalam saus itu seketika merambati tubuh Midori. Tanpa menunggu lama, pria-pria beringas itu sudah asyik memakan langsung iris demi iris potongan-potongan persegi tipis afrodisiak di atas tubuhnya tanpa sumpit atau alat makan lain dan menjilat-jilat seluruh tubuhnya yang gurih berlapis saus nan hhmmm slrrrppp… mak serrr legender kata Pak Bondan! Seorang pria bangkotan mengeyoti payudara kanannya yang masih mengeluarkan air susu karena baru beberapa minggu lalu melahirkan. Pria lain memilin dan menjilati rakus puting kirinya. Kedua paha mulusnya sampai ujung kakinya masing-masing disapu entah oleh lidah-lidah pria yang mana. Seorang pria hitam legam menyeruputi saus sashimi dari liang vaginanya yang masih peret. Seorang bandot bule membelit-belit lidah gadis oriental yang sangat seksi itu. Tak cukup itu saja, Midori didudukkan dan satu pria lain ikut asyik menjilati punggungnya, sedangkan rekannya menyiram dubur Midori yang kembang kempis dengan saus sashimi dan mengebor serta menyeruput cairan di duburnya dengan mulut dan lidahnya. Mi-chan menangis tanpa suara karena rasa pedih dan panas menyergap organ-organ intimnya, ia tak pernah bermimpi akan diperlakukan seperti ini. Bule yang tadi membelit lidahnya menyumpalkan penis merah besar dan men deep throatnya sampai ia sulit bernafas. Lidah dan mulut mungil Mi-chan langsung menjilati, mengenyot-ngenyot, dan menggigit kontol si bule.

“aaahhhhsshhhh…. aaasshhhssahhh,….. f***ing great!” si bandot bule jadi makin excited. Dua pria lain mengoles-oleskan tangan kanan dan kiri Midori ke atas penis mereka. Midori langsung mengocok kedua penis besar tegang entah milik siapa itu. Ia bergantian menyepong dan mengocok penis tiga pria. Selangkangan Midori sudah semakin basah saja karena klitorisnya dimain-mainkan dan dihisap-hisap si Afro. Midori mengejang nikmat sambil mendesah-desah dan, “crrrttt…. ccrrrttt….” ia keluar. “Crroott… crroot… crooot…” tiga penis yang layu karena servicenya kini digantikan oleh tiga penis tegang berbagai ukuran lainnya. Si negro yang pandai mengebor kini menyodokkan batang hitam besarnya ke vagina sempit Midori dan “ngehhk….hekkhh….aaahhhsss…..” ia pompa kuat-kuat “ploph, ploph, ploph,” Midori yang pentilnya masih dipilin-pilin dan dikenyoti membiarkan bongkahan kenyal di dadanya terayun-ayun maju mundur. Saking besarnya penis si negro, mulut vagina Midori kadang ikut timbul-tenggelam terbawa genjotan bersemangatnya. Seorang negro lain menyodok duburnya dari belakang. Kini ia jadi seperti daging di antara dua tangkupan roti. Bedanya, kalau pada sandwich biasa dua roti pengapitnya putih, sedangkan sandwich ala Midori bagian tengahnyalah yang berwarna putih pualam. Kulit putih mulusnya kontras sekali dengan kulit dua pria negro yang menjepitnya dari depan dan belakang.

“Aaaahhhsssshhhh…. hhssshhhh….hhhssshhh….” Gadis cantik itu sangat terangsang untuk kedua kalinya, “crrrtttt…. ccrrrrtt…” dua kali sudah ia keluar.

“Croothhh…. crootthhh….crooothhh… banyak penis meledak dan menyemburkan guyuran sperma ke segala penjuru karena tubuh sintalnya berhasil melayani mereka dengan kualitas prima.

Ia kini penuh belepotan sperma dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kadang ia diminta memijat dada dan menjepit penis beberapa pria dengan payudaranya. Penis-penis para pria itu pun digesek-gesek di hampir semua bagian tubuhnya, kaki, perut, tangan, ketiak, serta sela-sela antara pinggang dan pinggulnya. Tubuhnya juga dibolak-balik naik turun dengan berbagai posisi, mengangkang, di doggy, diangkat satu kakinya, diajak kuda-kudaan, dan dibopong sambil dipompa bergantian oleh para pria itu… Entah sudah berapa pria yang menikmati tubuhnya,… entah berapa kali ia keluar,… dan entah berapa posisi yang telah mereka pakai untuk menyenggamainya, yang penting, makin lama goyangan patah-patah Midori makin asoy geboy membuat para bandot tua bangka itu klepek-klepek. Satu persatu bandot itu KO karena telah tersalurkan naluri kebinatangannya. Kini mereka semua terkapar tak berdaya dalam ruang seluas 20 tatami milik Tuan Ono yang kini tatami dan dindingnya telah penuh cipratan sperma. Midori tak bisa bergerak karena kelelahan memuaskan bandot-bandot tua bangka bernafsu besar itu. Midori memejamkan dan menggigit bibirnya menahan rasa perih tak tertahankan dari seluruh tubuhnya. Darah keluar dari dua rongganya yang lecet dan panas memerah karena terlalu sering dibor. Ia perhatikan sejenak jemarinya yang berlumuran cairan putih kental, lalu menjilati dan menghisap-hisap jemarinya dengan gerakan yang sangat erotis.

Ia meletakkan tangannya yang sudah bersih dari lelehan sperma ke atas tatami. Ia mengalirkan air mata menyesali nasibnya… dan

“Hahahahahahaaaaa…… hahahaha…. hahahahaha….” ia mulai tertawa-tawa sendiri sambil menatap kosong ke langit-langit ruangan itu.

*****************************

Lima tahun lalu di desa Iga Tsubagakure…

Ouran

Seorang gadis cantik melemparkan shuriken ke arah sebatang pohon besar. “Srett…” kulit pohon itu terkelupas dan “trang…!” nunchaku (double stick) si ninja laki-laki menangkis serangan lawannya. Shuriken itu terlempar jauh ke udara. Dalam gerakan secepat kilat, ia sudah berada di belakang ninja wanita dan menyerang si kunoichi dengan sabitan nunchakunya.

“Ah,… nyaris saja,..” desis si ninja wanita sambil berkelit menghindar. “Blush!” ia menghilang di balik kepulan asap.

Si ninja laki-laki kehilangan jejaknya dan memandang sekeliling dengan penuh kewaspadaan, bersiap-siap kalau si ninja wanita menyerang. Benar saja, si ninja wanita menyerangnya dari dalam tanah. “Sreett,…” sebilah mata pedang melesat secepat kilat ke arahnya. Si ninja laki-laki langsung tanggap dan melompat gesit ke dahan pohon terdekat. “Sappp,… sappp,… sappp,….” ia melesat secepat angin. Tangannya mengambil sebentuk bungkusan dari sakunya dan melemparkan ke arah pedang yang membelah tanah. “Duar!!!” bom rakitan si ninja meluluh-lantakkan tanah. Si ninja wanita terpaksa melompat keluar dari tanah. Lalu,… “Cring,…” rantai nunchaku si ninja pria sudah tepat berada di depan leher si ninja wanita.

“Ippon… (skor satu)” kata si ninja pria mengkagetkannya.

“Ah menyebalkan! Aku kalah lagi! Uno-kun, kenapa sih sejak kecil aku tak pernah bisa mengalahkanmu!” kunoichi cantik itu mengomel.

“Hehehehehe… kau kan memang payah sedari kecil, wek…” ledek si ninja laki-laki sambil menarik kedua kelopak matanya dan menjulurkan lidahnya. “Whush,….” ia langsung lari dengan kecepatan hampir 200 km/jam.

“Syuuttt….” si ninja wanita pun ikut melesat mengejarnya. “Lihat saja kau ninja jeleeeekkk!!!” umpatnya.

“Sudah Uno-kun, keluar dari persembunyianmu dan cepat minta maaf!… mumpung aku sedang mau memaafkanmu…” bentak si cantik dengan galak.

“Plek,…” tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di pantat si kunoichi.

“Plak!” ia tampar si ninja laki-laki yang muncul di belakangnya lagi. “Sukebei (mata keranjang)!” ia melotot jengkel.

Si ninja laki-laki malah mencubit pipinya, “kau kelihatan cantik kalau marah, Ouran.” ujarnya.

Si kunoichi wajahnya langsung bersemu merah.

“…ya tapi ini memang tampang tercantik si Nenek Sihir sih,…” tambahnya sambil bersiul-siul.

“Iiihhh… kau memang menyebalkan!” Ouran mencubit keras-keras pinggang Uno.

“Aww…… wadauuuwww….. wadauuuwww,… ampuuunnn… ampunnn,… iya cantik deh…!!!” Uno meralat perkataannya supaya diampuni.

“Jangan pakai ‘deh’!” ujar si cantik yang galak itu.

“Iyaaaa… kamu cantiiikkk… aaaawwww…. ssuuuaaaakkkiiiitt..!!!!”

“Siapa yang cantik?!” bentaknya lagi.

“Ouran Kosukeeee…. adduuuhhh,…”

“Bilang sekali lagi!”

“Ouran Kosuke wanita tercantik di dunia.” Uno menurut.

Ouran tersenyum senang mendengarnya.

“Hehehehe,…” Uno ikut tertawa. Ia menjaga jarak dan ambil ancang-ancang sambil memancing keributan kembali, “… wanita tercantik di dunia para ibliiisss…”

“Awas kau Uno-kuuun!”

… langit pun seketika dipenuhi kepulan debu.

“Ampuuunnn…. stop, stop, stop!!! ” kepala Uno dipukuli dengan kipas oleh si gadis yang gelombang kemarahannya sangat mengerikan itu. (^^’)

Ouran menghentikan pukulannya. Ia tertarik pada sebuah objek di leher Uno, sebuah kalung dengan liontin berbandul mirip shuriken ninja iga berukuran kecil.

“Kalungmu bagus,… buatku saja ya?” ia menarik kalung dari leher Uno tanpa disadari si pemakainya.

“Wah,… bakat juga kau jadi copet…” seloroh Uno begitu menyadari liontinnya sudah berada di genggaman Ouran.

Mimik wajah Ouran berubah mengerikan karena dikatai “copet”.

“Ya, ya, ya… bukan copet, maksudku ninja pencuri yang cantik…” tambah Uno sambil bergidik ngeri.

Ouran mengangguk-angguk senang dan pergi meninggalkannya.

“Kalungku?” Uno teringat akan kalungnya yang masih berada di tangan Ouran.

“Aku sitaaa…”Ouran menjawab dari kejauhan.

Uno mengejar Ouran dan menjajari langkahnya. “Aku tukar dengan bom terhebatku saja ya?” ia menawarkan untuk membarter kalungnya sendiri.

Ouran berhenti sejenak. Penawaran yang menarik. “Mana?” tantangnya.

Uno memperlihatkan sebuah bola besi kecil di atas telapak tangannya.

“Daya ledaknya sehebat apa?”

“Mmm,… kemarin aku uji coba di pantai,… ia bisa ledakkan batu karang sebesar perguruan ninjutsu kita… yah, lumayan juga kalau kita pakai untuk meledakkan bangunan perguruan ninjutsu kita… kita ‘kan jadi bisa dapat libur ekstra panjang untuk perbaikan total seluruh bangunannya.” Uno meyakinkan Ouran akan kehebatan bom buatannya.

“Tapi kau lah yang akan kena skors mengepel kesepuluh lantai bangunan perguruan seumur hidupmu kalau bangunan itu sudah dibangun kembali…” cibir Ouran.

“Ah benar kok! Bom buatanku kan memang tak ada bandingannya…”

“Halah! Kebohonganmu itu juga terkadang tak ada yang bisa mengalahkannya… Sini, biar kuuji coba!” Ouran merebut bom itu dari Uno dan berjalan lagi.

“Lalu kalungku?”

“Tidak bisa diambil sampai uji coba bomnya sukses! Pokoknya aku sita.” Ouran berkacak pinggang sambil melotot. Iapun ngeloyor pergi sambil membawa kedua benda itu.

Uno menggaruk-garuk kepala jengkel. Ouran tersenyum licik dari kejauhan, lumayan sudah dapat kalung, dapat bom bagus lagi… siapa pun kan tahu kalau Uno adalah pembuat bom terhebat di perguruannya, yah meskipun ia kadang suka agak melebih-lebihkan ceritanya sih.

*****************************

Kedua ninja itu terpana waktu kembali ke desanya. Api sudah melalap hampir semua rumah di desa ninja Iga. Mayat-mayat para ninja penghuni desa sudah bertebaran di seluruh desa. Ada yang tergantung di pohon, tertusuk anak panah beracun, terpenggal kepalanya, dan hiiihhh… pokoknya ngeri, nanti malah penulisnya kena sensor karena terlalu sadis mendeskripsikan keadaan mereka. Oh ya, beberapa wanita dan anak-anak yang telah tak bernyawa juga terbaring dalam kondisi tak kalah mengerikan. Mayat beberapa gadis muda malah sampai tak berpakaian sama sekali dan lelehan kental membasahi tubuh, mulut, dan alat kelamin jasad tak bernyawa mereka. Ayah dan ibu Uno pun ditemukan telah meninggal berlumuran darah di pekarangan rumahnya. Jasad ayah Uno digantung di pohon, sedangkan jasad ibunya ditembus anak panah beracun. Jasad wanita setengah baya itu tersangkut di mulut sumur dengan kondisi bagian pinggang ke bawahnya terekspose tanpa kain penutup dan cairan kental menjijikkan melumuri selangkangan, dubur, dan kaki mulusnya. Tampaknya setelah ibunya jadi mayat pun para begundal yang membunuh wanita itu masih berbuat begitu keji terhadapnya. Uno menggendong dan membaringkan wanita itu sambil menutupi mayat wanita cantik yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan selembar kain hitam. Uno bersimpuh menggigit bibir dan mengepalkan tangan geram di samping mayat wanita itu.

“Aaaaa…..” Uno berteriak keras melepaskan kemarahannya.

“Koak… koak… koak…” gagak pemakan bangkai yang sedari tadi bertengger di pohon-pohon langsung terbang ketakutan.

Ouran ikut menangis histeris dan memeluk Uno yang kini duduk tertunduk di sebelah jasad ibunya.

“Hiks… hiks… hiks…” mereka mendengar suara tangisan dari dalam sumur… Ada seseorang yang masih hidup…

Uno berlari dan menarik tali timba sumur. Adiknya, Mochizuki, yang masih berusia sepuluh tahun duduk gemetar ketakutan di dalam ember kayu yang ia tarik dari dalam sumur. Ia gendong adiknya yang menangis keras di pelukannya dan menyuruh Ouran membawanya ke tempat persembunyian yang aman. Ia berlari ke dekat kuil, di mana para ninja yang masih bertahan hidup sedang berkelahi dengan ninja-ninja penyerang desa yang berjumlah sekitar 30 orang. Satu persatu ninja dari desa Iga tumbang karena ninja-ninja musuh itu ternyata adalah para ninja pilihan.

Sepuluh menit kemudian, sekujur tubuh Uno sudah babak belur.

“Bruakkk!!!” serangan si ninja berkuku pisau menghempaskan tubuh Uno ke dinding sampai dinding itu ambruk. Tubuh Uno muda, yang belum begitu lihai bertempur melawan ninja senior sekaliber ninja berkuku besi, tiba-tiba mati rasa, tak bisa bergerak lagi akibat rasa sakit tak terperi. Kini ujung lancip sebuah jutte (pisau) menusuk dan menoreh lehernya. Uno memejamkan mata menyongsong kematiannya,…

Tiba-tiba, “bettt… trang!!” jutte itu terpental dan terpelanting ke tanah akibat sambitan shuriken berlambang Iga milik seseorang.

Seorang kunoichi cantik sudah berdiri di atas gerbang torii kuil desa Tsubagakure. “Zapp… zapp… zapp… zapp” ratusan jarum beracun menyerang si ninja berkuku besi.

“trang… trang… trang….” ninja itu menepis jarum-jarum beracun yang menyerangnya. “Bruak!” tiba-tiba saja si kunoichi sudah ditendang oleh si ninja jahat. Kunoichi itu refleks melompat ke tanah sambil menahan sakit. “Heghh…” ia memuntahkan darah dari mulutnya. Kunoichi itu menyapu bekas darah akibat luka dalamnya dari balik kain penutup hidungnya. “Cring…” sebuah shuriken menyerempet pipi mulus si kunoichi dan melepaskan kedoknya. Wajah cantik Ouran pun terlihat.

“Glekh,…” si ninja berkuku besi menelan air liur melihat wajah imut sang kembang desa Iga yang mirip-mirip Ryoko Hirosue. (huehehehe jadi keliatan kalo aku dorama-lover ^^)

“Kawai ne…” (“uuiiimut gellaaa…” kalo kata orang sini sich ^^) si ninja berdecak kagum.

“Sret” si kunoichi cantik membabatkan ninja-to (pedang ninjanya) ke arah leher si Kuku Besi. Tapi, secepat kilat si Kuku Besi menahan tangan mungilnya dan merebut ninja-to nya. “Buk!!” sebuah pukulan telak di tengkuk menyudahi perlawanan Ouran. Ouran tersungkur jatuh ke atas tanah.

Ninja-ninja lain yang telah mengalahkan penduduk desa Iga ikut berkerumun di dekat si ninja berkuku besi yang telah mengalahkan seorang kunoichi cantik.

“Senpai, cantik juga kunoichi ini…”

“Senpai, apa dia memang sudah benar-benar jadi kunoichi?”

“Buktikan saja Senpai…”

“Iya, kalau dibor masih berdarah berarti belum benar-benar jadi kunoichi…”

“Hahaha… haahhaahha…” para ninja terbahak-bahak menertawai Ouran.

Si kuku besi meraba paha mulus Ouran. “Kita buktikan saja,… kau tidak keberatan kan cantik?”

Ouran menangis ketakutan,… Lebih baik ia mati daripada…

“Sakit sedikit sih… tapi lama-lama kau pasti akan….” desis si kuku besi.

Derai tawa para ninja bertambah kencang.

Ouran memandang berkeliling. Ninja-ninja Iga yang tadi masih berjuang kini telah terbaring sekarat. Tak boleh ada lagi ninja Iga yang mati,… desa Iga tak boleh dimusnahkan… Ouran pun mengangguk pelan.

“Hahahaha… gadis penurut…” si kuku besi senang sekali waktu tahu Ouran mau melayaninya.

“Semua anggota pasukanmu pun boleh ikut, biar aku menghilangkan rasa lelah kalian selepas bertugas…” tambah Ouran yang pura-pura tegar.

“Gadis pintar,…” kata si Kuku Besi sambil membelai pipi mulus Ouran yang bergidik gemetar karena rasa takut. “Gue suka gaya loo…”

Semua anggota pasukan ninja bersuit-suit, bertepuk-tepuk tangan, dan tertawa-tawa

setuju. Mereka memang butuh hiburan setelah lelah bertempur.

“Mmmmhh,…” si Kuku Besi bernafsu hendak mencumbu Ouran di tempat itu juga.

“Jangan di sini…” Ouran menahan agar mulut si Kuku Besi yang masih berkedok ninja tidak menciumnya… Ia tak mau dilecehkan di tempat ia berada sekarang, sebab kedua mata nanar Uno yang tergeletak menahan sakit masih menatap geram ke arahnya. Pandangan Uno menampakkan ketidaksetujuannya dengan keputusan sahabatnya yang cantik itu.

“Lalu di mana?” si ninja coklat berbisik di telinga Ouran.

“Di dalam kuil saja,… “

“Kenapa hmm?”

“Aku malu.” Ouran menunduk. Ia tak sanggup melihat tatapan membara Uno.

“Huahahahaha…. dia malu Senpai,…” para ninja menertawakannya lagi.

“Baiklah,” kata si Kuku Besi, “lagipula ia gadis manis yang penurut. Tak ada salahnya mengikuti kemauannya…” Si Kuku Besi pun membopong Ouran ke dalam kuil suci desa ninja Iga Tsubagakure untuk diambil kesuciannya.

Uno yang tak bisa bergerak hanya bisa menangis pedih melihat sahabatnya yang sebenarnya masih virgin akan dijadikan bulan-bulanan nafsu bejat para ninja jahat. Ia kerahkan segenap tenaganya untuk bangkit, namun ia langsung pingsan karena lemas akibat kehilangan terlalu banyak darah.

Para ninja membuka kedoknya. Dari ketiga puluh tujuh ninja di ruangan itu, tak ada satu pun yang tampan. Si Kuku Besi yang memperkosa Midori adalah anak dari ninja yang memimpin penyerbuan desa Iga Tsubagakure ini. Penampilan ayah anak itu tak beda jauh, tapi si ayah ini tak sebrutal dan sesadis anaknya. Semua ninja melepas kostum mereka. Ada yang masih bersempak ninja, ada yang benar-benar polos. Ouran bergidik melihat penis-penis besar itu.

“Ikat dia!” perintah si kuku besi. Dua ninja membelit kaki Ouran dengan masing-masing seutas tali, melemparkan ke antara kayu penyangga genting kuil, menarik Ouran yang tergantung dengan posisi terbalik, dan mengikat kedua tali itu ke tiang kuil.

Si kuku besi menyelipkan kedua kakinya ke kayu penyangga genting tepat di depan selangkangan Ouran. Ia kini juga bergantung terbalik seperti kelelawar dengan posisi selangkangan Ouran yang masih berlapis kain menganga lebar di depannya.

‘Zrett,…” ninja lain merobek lepas pakaian ninja Ouran. Buah dada berputing pink dengan ukuran sedang milik gadis belia berusia 15 tahun itu menjuntai ke bawah. Dua ninja lapar langsung mengenyoti, memilin-milin, dan menjilatinya rakus. “Jleb,..” satu penis masuk ke mulut mungilnya. “hegh,… hegh,…” Ouran yang masih lugu tak tahu harus melakukan apa.

“Jilat!” perintah si ninja yang menyumpali mulutnya. Ia menjilat sedikit ujungnya.

“Bodoh,… aku takkan keluar kalau begitu caranya. Jilat sampai ujung satunya, kulum-kulum, dan sedot yang kuat!” bentaknya.

Ouran mencoba sekali lagi dengan agak canggung.

“Kurang kuat, hisap lagi!” Ouran menurut. “Nah, begini lebih enak. Teruskan sendiri!” kata si ninja sambil tersenyum-senyum menang.

Dua ninja lain menggosok-gosokkan tangan Ouran ke penis mereka. Ia minta tangan halus Ouran untuk mengocok benda berkerut yang belum pernah ia sentuh itu.

Si Kuku Besi melepas kuku-kukunya dan membelah selangkangan merah Ouran yang berbulu lebat. “Sllrrrppp,… slllrrppp… sllrrpp…” ia menjilati pintu sumur Ouran sampai tubuh Ouran geli. Ia masukkan lidahnya ke sumur sempit itu dan menjilati klitoris Ouran. “Aaahhhssshhhh aahhhsshhh…” sang perawan menggelinjang kegelian. Lubang sumur Ouran sudah sangat basah. Si kuku besi berpegangan pada kayu dan membelitkan kakinya ke panggul Ouran. Kepala penisnya menyundul-nyundul sumur sempit Ouran. Ia melepas satu tangan dan mempergunakan tangan itu untuk melebarkan sumur sempit Ouran.

“Jlebh…” “Aaaaahhhhkkk….” Ouran berteriak karena ada benda asing masuk separo ke sumurnya yang belum pernah dibor… si Kuku Besi menarik keluar lagi sedikit untuk mengambil ancang-ancang dan menghempaskan lambang keperkasaannya bertubi-tubi “Jlebh, jlebh, jlebh, jlebh, jlebh, phlokh!”

“Aaaaahhhkkk…. aaaahhhkk….. nghhhkk….” Ouran berteriak tertahan. Sakit,… ia belum pernah mengalami luka di daerah itu sebelumnya. Air matanya menetes.

Tanpa memberi kesempatan bagi Ouran untuk beradaptasi, “Ssrrrtt,…” si Kuku Besi menarik tubuhnya ke atas hingga sebagian Penis nya ikut tertarik juga. Darah perawan Ouran melumuri penis si ninja dan mulut vaginanya. Kemudian, “plok…. plok… plok… plok….” si Ninja mulai memompa sumur perawan itu berulang-ulang. Makin lama makin cepat…. klitoris Ouran pun ikut tergesek-gesek.

“Hsshhhh ahsshhh aahhsshhh…” si gadis mulai keenakan. Lama-lama ia ikut memutar-mutar pinggulnya.

“Crotthhh… croootthhh…. crooothhh… penis-penis ninja mulai lunglai karena nikmatnya service Ouran. Si Kuku Besi di atas sana masih memompanya dengan kecepatan fantastis. Ouran tak sanggup ber-ah eh oh karena mulutnya masih asyik berkaraoke. Tapi dari goyangannya yang makin lama makin hot kelihatan ia makin menjiwai perannya sebagai wanita dewasa. Akhirnya, “ccrrrtt… ccrrtt…” vagina Ouran mulai digenangi cairan cintanya yang mengucur-ngucur membasahi selangkangan dan perutnya. “Chrrrooottthhh!” si Kuku Besi ikut keluar. “Brugh…Pegangannya terlepas, kini ia bertumpu pada kedua kakinya yang membelit pinggul Ouran. Ia menumpukan tangan ke tanah, menolakkannya, dan bersalto.

“Turunkan dia!” perintahnya.

Semua ninja menghentikan keasyikan mereka. Ouran diturunkan untuk disetubuhi di atas lantai kuil. Seorang ninja berbaring. Vagina Ouran yang kini dilumuri cairan kental kemerahan dibor lagi olehnya. Ouran ditengkurapkan di atasnya, si Kuku besi yang sukses menegakkan lagi penis nya mencoblos-cobloskan kejantanannya ke dubur Ouran.

“Gyaaaa!!!” Ouran berteriak waktu penis si Kuku Besi masuk dengan sukses.

Ia dipompa atas bawah, mem-blow job, dan mengocok banyak sekali penis. Vaginanya pun kini dinikmati bergantian oleh para ninja. Ia pun acapkali disodomi oleh mereka. Hingga akhirnya mereka semua lemas dan tertidur karena kehabisan energi. Ouran yang sudah amat letih dan kesakitan meraih sesuatu yang ia pakai sebagai anting-anting. Ia melepaskan mata anting-anting bulatnya yang ternyata adalah bola besi buatan Uno.

“Uno-kun,… aku… suka… kamu,…” desis Ouran lirih. Ia menangis pedih karena tahu bahwa ia takkan pernah sempat lagi mengungkapkan perasaannya pada Uno. Apalagi ia kini sudah sangat kotor dan menjijikkan karena 37 pria sudah menggumulinya sampai kepayahan dalam semalam. Lendir-lendir bening menjijikkan menyerupai larutan metil selulosa sudah melumuri seluruh tubuh mulusnya yang berkilat-kilat ditimpa cahaya remang-remang lilin-lilin putih di dalam kuil. Hari ini ia tak lagi seputih dan sesuci lilin-lilin yang meneranginya, ia tak lagi pantas jadi pengantin Uno-kun. Hanya kematian yang bisa melepaskan jiwa sucinya dari noda kotor di raganya. Biarlah ia tunggu Uno di surga…

“Duarr!!!” bom kecil itu meluluh lantakkan kuil suci desa Iga Tsubagakure yang telah dinodai ninja-ninja bejat. Seluruh kuil dan isinya hancur berkeping-keping.

Sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk shuriken ninja Iga terpelanting dari dalam kuil yang puing-puingnya terbakar hebat. Liontin itu kini tergeletak di tanah desa Iga yang subur.

**************************

Arus air sungai Shinano membawa si bayi kecil ke Nagano. Si kecil membuka matanya dan menangis karena haus. Seorang pria memungut keranjangnya dari sungai dan menatap bayi cantik itu lekat-lekat. Kecantikan wajah si kecil membawanya bernostalgia pada kenangan pedih yang pernah dialaminya 5 tahun yang lalu. Peristiwa pembantaian massal di desa Iga Tsubagakure yang menewaskan sahabatnya. Kini hanya tinggal beberapa orang ninja Iga yang hidup dan mengabdi pada Tuan Masayuki Sanada. Penyerangan Iga tempo hari ternyata adalah pemusnahan massal yang direncanakan Tokugawa karena ia tidak ingin ada ninja selain ninja-ninja pengikut Hanzo Hattori, ajudan setianya, yang beroperasi di luar kendalinya dan mengabdi pada seterunya. Hattori adalah seorang ninja Iga, tapi hatinya sama sekali tak hancur melihat kehancuran desa dan keluarganya. Kesetiaannya pada Ieyasu Tokugawa memang telah membutakannya.

Uno mengalungkan liontin berbentuk miniatur shuriken Iga di leher mungil si bayi. Pria yang kini telah berjambang dan berkumis itu berjalan membawa keranjang berisi bayi yang ditemukannya ke mansion majikannya, Masayuki Sanada.

*************************

Seorang lelaki bertubuh gemulai yang mengenakan topeng kayu hinoki (pinus Jepang) berlukiskan wajah siluman mengerikan mencekik leher seseorang yang memakai topeng berwajah wanita. Gerakan pencekikan itu tidaklah kasar seperti layaknya perkelahian biasa. Drama pembunuhan itu ditarikan dengan sangat halus, elegan, dan indah. Si topeng wanita pura-pura mati dan si hantu berpose angkuh menandai berakhirnya pertunjukan.

“Begitulah,… akhirnya roh jahat yang terlepas dari tubuh sekarat Putri Rokujo menghabisi nyawa Tuan Putri Aoi yang menjadi saingan cintanya,…” ujar si pemandu cerita.

Semua hadirin bertepuk-tangan riuh. Masayuki Sanada berdiri dan melakukan “kake-goe” (penyebutan nama pemeran) sebagai tanda salutnya atas kepiawaian sang seniman topeng,

“Seikai… Miyoshi Seikai!!” ujarnya bangga.

Sang seniman berbakat melepas topeng siluman Putri Rokujonya dan tampaklah wajah laki-laki muda yang cantik. Wajahnya didandani mirip – mirip personel L’arc en ciel, penyanyi lagu Jyū e no Shoutai, yang sedang cos-play dengan make up gothic. Ia membungkuk dengan sangat elegan pada Tuan Masayuki Sanada… bak gerakan seorang geisha. Ia tidak seperti anggota grup band laruku yang asli cowok,… pria cantik itu memang 100% bencong tulen. Masayuki yang didampingi para relasi, keluarga, dan geisha kesayangannya, Chihiro, sangat menikmati pertunjukan drama tari Noh berjudul “Aoi no Ue” (Putri Aoi) yang disadur dari petikan kisah Genji Monogatari malam itu.

Setelah para penonton bubar dan Tuan Masayuki tinggal duduk berdua didampingi geishanya, Uno Rokuro memberi hormat dan menyodorkan sebuah bungkusan berisi bayi perempuan mungil kepada Tuannya.

“Mohon Tuan berkenan mengangkat anak malang ini sebagai pelayan, ia saya temukan terhanyut di sungai.” Uno memohon.

“Bayi ini cantik, Tuan… Kalau ia punya bakat seni akan kudidik jadi seorang shikomi (calon geisha).” Ujar Chihiro sambil menggendong bayi itu.

“Tuan, saya juga akan melatihnya jadi seorang kunoichi agar ia dapat mengabdi pada Tuan.” Uno Rokuro meyakinkan Tuan Besarnya.

Sang samurai mengangguk setuju.

“Siapa nama bayi ini?” Chihiro tersenyum-senyum sambil bercanda dengan si mungil.

“Kosuke… Anayama Kosuke.” jawab Uno Rokuro.

**************************

Si kecil Anayama, An-chan panggilannya, dilatih semenjak dini oleh kedua gurunya. Chihiro-dono mengajarinya cara menari, bermain musik, tatakrama, dan tata cara minum teh. Ia diajari untuk berperilaku layaknya seorang wanita ningrat dan bagaimana menaklukkan laki-laki dengan satu lirikan mata. (hue hue hue… “Memoirs of a Geisha” banggedz!) Sangat kontras dengan pelajaran kewanitaan yang diberikan Chihiro, An-chan kecil juga dididik guru-gurunya untuk mempelajari ninjutsu (ilmu ninja). Ia belajar berbagai cabang ilmu ninja seperti teknik menyelinap untuk mencuri (shinobi iri), teknik ramuan (yagen), teknik perakitan bahan peledak (kayaku-jutsu), strategi (boryaku), penyamaran (inton-jutsu), seni memainkan pisau (tanto-jutsu), dan teknik melempar senjata (shuriken-jutsu). Kadang tubuh mungilnya sampai cedera, luka parah, patah tulang, dan lebam-lebam biru kehitaman sebab Rokuro-sensei (Uno Rokuro), Rokuro-senpai (Mochizuki Rokuro), Miyoshi-sensei (Isa Miyoshi), dan Sarutobi-sensei (Sasuke Sarutobi) tidak membedakannya dengan para murid didikannya yang lain, Saizo Kirigakure, Jinpachi Nezu, Kakei Jūzo, dan Yuri Kamanosuke yang semuanya laki-laki. Kalau sudah begitu, Chihiro-dono lah yang ribut karena takut lukanya akan meninggalkan bekas sampai dewasa dan membuat tubuhnya tak lagi mulus. Di waktu luang kadang ia belajar menenun dan menari Noh pada Miyoshi-dono (Seikai Miyoshi), sang ninja seniman yang kemayu. Miyoshi Seikai memang sangat terampil memainkan jarum dan benang, di area pertempuran sekali pun.

**********************

“Slepp,…” sebuah anak panah menembak tepat di tengah-tengah sasaran.

Semua laki-laki muda bertepuk tangan mengagumi kepiawaian lelaki berkimono dengan gambar segiempat berisi enam buah koin berjajar seperti bulatan kartu domino lambang klan Sanada. Lelaki tampan dengan wajah aristokrat, berkulit putih, dan berhidung bangir itu adalah putra bungsu Tuan Masayuki, Yukimura Sanada. Ia sedang berlatih memanah bersama Tuan Masayuki, Nobuyuki, kakak Yukimura, dan para ninja pengawal keluarga Sanada. Sanada Jūyushi sebutan bagi ninja-ninja itu. Dari sepuluh orang Sanada Jūyushi, ada dua orang yang menghilang dari arena panahan. Di mana kira-kira mereka? Ah, ternyata salah satu anggota yang menghilang, Yuri Kamanosuke, berlari-lari sambil membawa tatami untuk digelar di luar. Bau yang menggugah selera dari dapur langsung membuat pelatihan memanah itu bubar. Kini, semua orang duduk berkeliling di tatami yang digelar di pekarangan mansion luas keluarga Sanada untuk menanti makan siang mereka yang lezat. Yuri masuk lagi untuk mengambil beberapa peralatan upacara minum teh (chadogu). Ia mondar-mandir dengan membawa nampan berisi hidangan lengkap khusus untuk keluarga Sanada.

“An-chaaaann, tehnya…” panggil Yuri Kamanosuke, si koki handal.

“Siaaap!” kata An-chan yang penampilannya beda dari biasanya.

Hari ini ia tidak berkimono putih, berhakama, dan mengikat rambut ekor kuda. Hari ini rambutnya digelung berhiaskan kanzashi (hiasan rambut) sederhana, memakai yukata (kimono musim panas) dan sepasang sandal tatami. Ia duduk di atas karpet tatami, mengambil bubuk teh pekat (kaicha) dari temae (tempat teh) dengan sebuah sendok bambu yang disebut chasaku ke sebuah mangkuk, menuangkan air, dan mengaduknya dengan charen.

“Aku pikir dia laki-laki,” Tuan Masayuki memecah kekakuan.

“Iya, ayah. Bisa juga dia melakukan nodate (upacara minum teh di luar ruangan),” ujar Nobuyuki menimpali perkataan ayahnya.

“Hei, tapi dia terlihat cantik dengan penampilannya hari ini,” ujar Yukimura.

Deg!! Jantung An-chan berdegup kencang mendengar pujian Tuan Muda pujaannya. Karena terlalu grogi, ia tidak sengaja mengeraskan adukan tehnya hingga tumpah sedikit ke pangkuan Saizo yang duduk di dekatnya.

“Ceroboh sekali `sih!” bentaknya.

“Maaf, Senpai.” Kata An-chan.

“Huh… dasar wanita-pria.” Saizo mencibir An-chan.

“Hiiih,… gigi bertumpuk cerewet!” An-chan balas mengejek Saizo yang giginya memang gingsul.

“Gimandang sih bo`… bisa alusan ‘dikit ‘ga!” dengan gaya kemayu Miyoshi Seikai berkomentar.

“Iya, iya, maaf Miyoshi-dono.” An-chan meminta maaf pada si banci kemayu yang agak risih melihat upacara yang jadi tidak khidmat gara-gara kelakuannya.

Semua orang menertawai An-chan yang berubah jadi sangat kikuk waktu menuangkan teh.

“Yuri, apa ini?” tanya Tuan Masayuki Sanada.

“Sushi dari ikan maguro (tuna), kerang, udang, tiram, unagi (belut), dan cumi-cumi yang saya ramu dengan saus buatan saya sendiri Tuan,” jawabnya.

“Oishi!” Masayuki memuji.

“Doumo arigatou, Masayuki Sanada-sama.” Ia membungkuk karena tersanjung.

“Kimo sui (sup belut)-nya juga enak, hmm…” Yukimura memuji.

Yuri membungkuk lagi.

“Ah, kau juga membuat unagi no kabayaki (belut panggang)… pas sekali dimakan di musim panas.” Ujar Nobuyuki senang.

“Ya,… hanya saja saya tidak mengukusnya lagi setelah dipanggang seperti di Jepang belahan timur, Tuan. Silakan menikmati.” Ujar Yuri.

“Yang seperti ini pasti An-chan tak bisa membuatnya,…” kata Saizo meledek.

An-chan menyodok perut Saizo dengan sikunya sampai teh di mulut Saizo muncrat karena tersedak. Semua peserta jamuan terbahak-bahak, kecuali Miyoshi Seikai yang tetap duduk anggun dan jaim.

“Jaga sikap!” bentak Miyoshi Seikai pada dua cecunguk Iga, begitu ia menyebut An-chan dan Saizo, yang tak pernah bisa bertata krama itu..

An-chan menunduk takut.

“Sudah, tidak apa-apa, jangan terlalu formil. Ini kan cuma jamuan makan keluarga.” Kata Tuan Masayuki menengahi.

“Weekk,…” An-chan meledek Saizo.

Saizo dengan cuek menikmati unagi no kabayaki nya tanpa menggubris si usil An.

Jinpachi menyenggol bahu Saizo.

“Kau perhatikan tidak Saizo-senpai, An-chan dadanya sudah tidak serata dulu… Kalau begitu ia sudah bisa diperistri ya?…” kata Jinpachi mupeng.

“Plak!” Mochizuki Rokuro yang tak sengaja mendengar celotehan Jinpachi memukulkan kipasnya ke kepala Jinpachi.

“Addduuuh, kenapa sih Senpai?” tanyanya sambil mengusap kepala benjolnya.

“Sudahlah,… dasar playboy! Lagian buat apa sih menikahi makhluk bodoh seperti wanita…” komentar Miyoshi Isa yang ternyata juga mendengar ucapan Jinpachi.

“Hohohoho… benar. Wanita itu tak berguna. Cuma dua benjolan besar yang tak kumiliki itu saja yang bisa mereka banggakan. Lebih baik nikahi saja aku Jinpachi… Biarpun tanpa dua buntalan sampah itu, aku bisa lebih memuaskanmu. Iya kan saudaraku?” Seikai yang kemayu mengomentari dengan iri.

Jinpachi langsung mulas-mulas mendengarnya. Sarutobi Sasuke mengangguk-angguk sendiri mendengar komentar kekasih gay-nya. Yang lain cuma il-fil memandang Sarutobi Sasuke, si ninja Koga dengan orientasi seksual ganda yang dibesarkan oleh para monyet hutan Manjidani itu.

“Hiihhh,… dasar ninja-ninja Koga homo,…” bisik Saizo pada Jinpachi.

Jinpachi mengangguk.

“Tuh Jinpachi mau menikahimu,” ujar Saizo pada An-chan.

Jinpachi langsung salah tingkah. ‘Eeee… bukan kok…”

“Ah males aku kawin sama playboy,” tolak An sadis, “…tapi aku mau kok kalau Tuan Yukimura yang menikahiku,” seloroh An-chan lagi dengan raut wajah berbinar-binar.

Semua orang malah menertawakan perkataan An, kecuali Saizo yang kini menunduk dan mengepalkan tangan geram, lalu ngebut menghabiskan unagi no kabayakinya untuk melampiaskan kecemburuannya.

************************

“Ippon!” teriak Mochizuki Rokuro ketika sebuah pukulan Saizo telah mendarat di jidat Jinpachi.

Jinpachi dan Yukimura saling memberi hormat dan kembali ke tempat duduk masing-masing.

“Kosuke dan Kirigakure, maju!” perintah Uno Rokuro, sang pelatih kendo.

Keduanya saling membungkuk dan menghunuskan bokken (pedang kayu) masing-masing. Suasana hening untuk beberapa lama. Tak ada gerakan sama sekali yang dihasilkan Saizo Kirigakure. An-chan sudah habis kesabarannya, ia langsung berlari menyerang Saizo. “Trakk!” pedang kayu mereka beradu. Pedang kayu An-chan ditepis dengan mudah dan An-chan agak terdorong ke belakang. “Traakk…!” pukulan berikutnya terarah ke kepala An-chan. Secepat kilat An-chan menangkis serangan itu. “Bett..” pedang Saizo telah mengubah arah serangannya. Kali ini hampir mengenai leher An-chan. Beruntung, gerak refleks An-chan bagus dan bokken itu hanya menarik lepas ikatan rambutnya. An-chan yang cantik kini berdiri sejauh tujuh langkah dari Saizo. Rambut lurus berkilaunya kini terurai lepas. Mata Saizo terpaku melihat keelokan parasnya… Mata kecoklatan indah An memukau serta menenggelamkan dirinya seketika.

“Senpai, awas!!!” teriak Jinpachi.

Saizo langsung menguasai diri dan menangkis lagi bokken An-chan. “Bletak!” tanpa ampun ia membabat bahu An-chan dengan bokken nya. An chan tertunduk dan tak bergerak untuk beberapa saat.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Saizo khawatir.

“Lihat, apa yang Senpai perbuat…. Aduuuhhh…” rengek An-chan.

“Maaf… sini biar aku obati,” katanya.

“Senpai, ini obatnya.” Jinpachi menyodorkan kotak obat pada Saizo. Beberapa orang yang lain ikut mengerumuni mereka berdua.

“Nih,..” An-chan menurunkan kimono putihnya.

Punggung mulus berlukis sepasang naga kembar miliknya langsung terpampang di hadapan Saizo. “Glekh!” Saizo terbelalak sambil menelan ludahnya sendiri.

“Cepat oleskan Senpai!” perintah An-chan.

Si gingsul hitam manis itu dengan gemetar membalurkan ramuan obat di tangannya ke tubuh mulus kuning langsat An-chan. Matanya tidak memperhatikan luka memar si gadis mungil, ia justru memperhatikan betapa mulus punggung bertatonya, indahnya leher jenjang berpeluh miliknya, dan betapa halusnya kulit kuning langsat milik si cantik kembaran Yukie Nakama itu. (lagi-lagi terinspirasi J-dorama artist wkkk). An-chan yang merasa sudah selesai diobati langsung menarik dan membetulkan lagi ikatan kimono putihnya.

“Senpai, terima kasih.” Ujarnya. “Kalau aku tak merengek kau tidak akan mengasihaniku kan?” katanya jenaka.

Saizo langsung menjitak An-chan. “Minta dikasihani?… Dasar manja!” ejeknya.

“Weeekk,…” An-chan bangkit dan menjulurkan lidahnya. Ia langsung berlindung di belakang punggung Yukimura Sanada untuk menghindari jitakan Saizo berikutnya.

“Sudah, sekarang Saizo Kirigakure dan Tuan Yukimura silakan bersiap..” instruksi Uno Rokuro.

An-chan memijiti bahu Yukimura dan menyemangatinya, “Tuan Muda, kalahkan dia!” ujarnya sambil tersenyum.

Yukimura membalas senyuman manis An-chan sambil mengacak-acak rambut berkilau An-chan dengan gemas. Seketika dada Saizo bergolak hebat terbakar api cemburu melihat kemesraan mereka berdua.

“Senpai, selamat berjuang.” Jinpachi menepuk pundak Saizo untuk memberi semangat.

Keduanya berdiri berhadapan dan memberi hormat. Mata elang Saizo tak lepas menatap Yukimura. Ia menggenggam kuat bokkennya dan langsung meluncurkan serangan pertamanya sambil berteriak lantang, “Kuhabisi kau, Yukimuraaa!!!”

******************

Sasuke Sarutobi sedang membaca gulungan perkamen kuno berisi jurus ninja Koga di kamarnya. Angin dingin berhembus masuk ke kamarnya. Kelima inderanya langsung waspada, suara angin yang bergerak tak sewajar biasanya membuat instingnya bekerja, pasti ada seorang penyusup yang telah memasuki kamarnya.

“Tampakkan dirimu!” perintahnya.

Seketika ratusan jarum beracun menyerangnya. Ia menangkis jarum-jarum itu dengan ninja-to (pedang ninja) nya. Jarum itu berjatuhan di atas tanah.

“Blush!” di balik kepulan asap sesuatu yang mirip tubuh manusia bergerak dan menyerangnya.

“Trang!” lengan sebuah boneka kayu menyerangnya. Untunglah Sasuke selalu bergerak selincah dan secepat seekor monyet. Ia menangkis dan melontarkan lengan si boneka kayu. Benang-benang tipis berkilau nan tajam mengikat sekujur tubuh si boneka. Pastilah ada seorang puppet master yang mengendalikan penyerangan ini.

“Praanngg!!”ia menghancurkan boneka kayu yang dikendalikan dari jarak jauh itu dalam sekali tebasan.

“Keluar kau Seikai! Berhenti pamerkan jurusmu yang belum begitu matang!” bentaknya.

Sesosok siluet tubuh gemulai membayang di dinding. “Hoohoohoho.. kau tahu aku lah puppet masternya ya?… Sebaiknya lain kali kupakai tubuh manusia sungguhan dan kucari benang yang lebih halus…” Ujar si banci gothic yang perlahan-lahan mulai menampakkan diri.

“Kau makin mengerikan,” seringai Sasuke.

“Kau pun masih sehebat biasanya sayang,…selincah monyet, sekuat macan… kini, jadilah seekor kuda jantan untukku…” Seikai langsung bergelayut manja di pelukan Sasuke dan menanggalkan berlapis-lapis kimono sutra mahalnya.

Sasuke langsung membelitkan lidahnya ke lidah pasangan sesama jenisnya dan tangan kekarnya mengelus benda bulat panjang yang sama seperti miliknya sendiri yang tersembunyi di antara kedua paha Seikai. Sinar bulan keperakan membelah gelapnya malam penuh dosa.

Oke…cut…cut…cut!! sampe disini dulu, soalnya kalau adegan ini dilanjutkan mupengers bisa muntah atau shock (^_^;)

To be continued….

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.